Sebulan 3 Kasus Gantung Diri di Tanjungpinang, Ini Kata Pengamat Sosial

Gantung diri. (Foto: ilustrasi)

Tanjungpinang - Fenomena gantung diri terjadi di Kota Tanjungpinang sebulan terakhir. Menurut pakar psikologi, jalan pintas bunuh diri biasa diambil seseorang untuk mengakhiri tekanan hidup yang kian berat.

Apakah tiga kasus gantung diri di Tanjungpinang dalam interval sebulan ini, terkait tekanan hidup yang berat? Sebelumnya, mari kita ulas tiga kasus yang terjadi di Kota Gurindam dalam sebulan terakhir

 

1. Mahasiswa gantung diri di ventilasi kamarnya di Sei Jang  (31 Agustus 2018)

Mahasiswa bernama Dian Syah gantung diri di kamar rumah kakaknya yang berada di RT 03/04, Kelurahan Sei Jang, Kecamatan Bukit Bestari Jumat 31 Agustus 2018 lalu.

Fahri, warga setempat mengatakan, Edi ditemukan pertama kali oleh kakaknya. "Ini rumah kakaknya ia mungkin nginap, anaknya pendiam," ujar Fahri

Fahri kaget saat teriakan histeris muncul dari rumah kontrakan warna hijau itu. Mulanya ia menduga ada perkelahian. "Saya kirain berkelahi, kakaknya menangis dan menyuruh saya melihat didalam kamar, saya lihat Edi sudah tidak bernyawa kondisi tergantung," ujarnya.

 

2.  Pemilik warkop gantung diri di kedai miliknya di Batu Sembilan (4 September 2018)

Kompleks niaga Bintan Center, Km 9 Tanjungpinang geger. Seorang pemilik kedai kopi ditemukan tewas dengan posisi tergantung dengan jeratan tali di leher, Selasa 4 September 2018 pagi.

Pria itu bernama Andi Jufianzah (33) alias apek. Ia ditemukan anak kandungnya pagi sekitar pukul 07.30 WIB kaku tergantung dengan kabel yang terkait di gantungan proyektor di warkopnya.

 

3. Honorer Gantung Diri di Kantor Diperindag Tanjungpinang (21 September 2018)

Seorang honorer Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tanjungpinang ditemukan tewas gantung diri di kantornya di Jalan Basuki Rahmat, Jumat 21 September 2018.

Informasi yang diperoleh Batamnews, pegawai honorer bernama Yudhi Meidiansyah itu ditemukan tergantung di ruang Kabid Stabilisasi Harga Pemko. "Saya kaget lah pas sampai di kantor melihatnya," kata salah satu Kabid di Disperindag Pemko Tanjungpinang.

Ia menyebutkan, bahwa Yudhi sering lembur di kantor. Namun tak disangka ia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. "Sering malam- malam di kantor, lembur, tapi kok bisa ya," heran rekan kerja Yudhi.

 

Kata pengamat sosial di Tanjungpinang

Suyito

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Sosiologi di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik ( STISIPOL) Raja Haji Tanjungpinang, Suyito S.Sos, MSi, menilai, fenomena prestiwa bunuh diri biasanya terjadi karena disebabkan oleh berbagai faktor.  Namun yang paling mengena adalah faktor interaksi atau pembauran.

Mereka yang melakukan bunuh diri kadang-kadang tidak mau berbaur ditengah masyarakat pada akhirnya cenderung egosentris individualistik. Menurutnya, itu adalah salah satu pemicu. Ditambah lagi tidak ada pegangan hidup.

"Pegangan itu bisa saja agama, bisa juga moral, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai yang menganggap aksi bunuh diri itu hal yang salah. Hal itu sebetulnya harus kita pegang dalam hidup ini," jelasnya.

Ia menilai,  kebanyakan mereka yang melakukan aksi bunuh diri itu gagal dalam berinteraksi atau berkelompok  dalam  lingkungan masyarakat. Mereka bisa menjalinkan hubungan itu tentunya menceritakan apabila mengalami sautu masalah agar mendapatkan solusi.

"Curhat kepada orang lain yang bisa memberikan kita solusi, salah satunya kepada orang tua dan keluarga atau teman dekat,"ujarnya.

Memang diakuinya, perlu melakukan penggalian secara mendalam apa sebenarnya penyebab seseorang melakukan aksi bunuh diri, jika melihat dari luar tentunya ia tidak memiliki pegangan hidup.

Suyito mengatakan, dalam kehidupan kontrol dari masyarakat itu penting. Namun masyarakat perkotaan masyarakat yang sangat individualistik, masyarakat yang cuek. "Peran pihak keluarga juga penting, teman bermain dan kontrol masyarakat," sebutnya.

(fox/adi)