Apa Itu Dharma Santi? Simak Pesan Wali Kota Batam di Momen Saling Memaafkan Setelah Nyepi
Ratusan umat Hindu peringati Dharma Santi, tradisi umat Hindu yang dilaksanakan setelah Hari Raya Nyepi
Batam, Batamnews – Setelah sekian lama menjalankan Catur Brata Penyepian yang hening dan sunyi, umat Hindu di Kota Batam akhirnya bernapas lega. Mereka bersua, tersenyum, dan saling memaafkan dalam perayaan Dharma Santi.
Ini adalah momen yang selalu dinanti: saat hati kembali bersih dan tali persaudaraan kembali erat.
Aula pertemuan di Batam pada hari itu berubah menjadi lautan kebersamaan. Ratusan umat Hindu memadati ruangan, bukan sekadar untuk berkumpul, tetapi untuk merenungkan kembali makna kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebenaran).
Baca juga: Mendagri Tito Tegaskan Seluruh Daerah Wajib Terapkan WFH
Di tengah kerumunan itu, seorang sosok hadir disambut hangat. Beliau adalah Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Kehadirannya bukan sekadar seremonial; ia datang untuk mendengarkan dan merasakan langsung denyut harmonisasi di kotanya.
"Dharma Santi bukan sekadar seremoni," ujar Amsakar dalam sambutannya yang menggema di aula.
Ia melanjutkan dengan nada penuh makna, "Ini adalah momentum untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi. Harmonisasi ini adalah modal utama pembangunan Batam."
Amsakar tidak hanya berbicara tentang toleransi. Ia mengaitkan filosofi Nyepi tentang pengendalian diri dengan cita-cita besar pemerintah. Nilai disiplin, toleran, dan berintegritas, menurutnya, hidup dalam setiap umat yang menjalani tapa brata.
Lebih dalam lagi, ia mengajak seluruh masyarakat mengamalkan semboyan luhur: Vasudhaiva Kutumbakam. Filsafat kuno yang mengajarkan bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga.
"Pemerintah Kota Batam berkomitmen hadir untuk semua golongan. Kami ingin Batam menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh pemeluk agama, di mana perbedaan menjadi kekuatan, bukan pemisah," tegas Amsakar.
Bagi yang belum tahu, Dharma Santi adalah tradisi umat Hindu yang dilaksanakan setelah Hari Raya Nyepi. Jika Nyepi adalah hari untuk berhenti (Catur Brata: tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bersenang-senang, dan tidak berbicara), maka Dharma Santi adalah hari untuk kembali.
Waktunya tepat pada hari Ngembak Geni (hari pertama setelah Nyepi). Ini adalah saat umat Hindu diizinkan kembali bersosialisasi. Acara ini sering disamakan dengan tradisi halal bihalal. Isinya penuh sukacita: ceramah keagamaan (Dharma Wacana), persembahyungan bersama, hingga pementasan seni dan tari.
Suasana di Batam persis seperti itu. Tawa dan senyum menghapus sisa-sisa hening kemarin.
Baca juga: Zonk! Janji Wakil Bupati Lingga Novrizal Ternyata Prank untuk ASN, THR Hingga Kini Tak Cair
Acara yang digelar usai Nyepi itu tidak hanya dihadiri umat Hindu. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batam tampak hadir. Para tokoh lintas agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Batam juga duduk berdampingan, bersama para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemko Batam.
Mereka semua datang untuk satu alasan: membuktikan bahwa di Batam, perbedaan agama bukanlah tembok pemisah, melainkan fondasi untuk membangun rumah bersama.

Komentar Via Facebook :