Batam Diguyur Hujan Deras, Wali Kota Batam Amsakar Bungkam Ditanya Soal Banjir

Batam Diguyur Hujan Deras, Wali Kota Batam Amsakar Bungkam Ditanya Soal Banjir

Amsakar Ketika diwawancarai usai melakukan peninjauan di Pelabuhan Internasional Batam Center, Selasa 31 Maret 2026. (Foto: Jamaludin/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Hanya berselang 26 jam setelah ratusan warga bersimpuh dalam Salat Istisqa, langit Batam akhirnya tumpah. Selasa siang (31/3/2026), hujan deras disertai kilatan petir dan angin kencang mengguyur sejumlah kecamatan, mengakhiri dahaga panjang akibat kemarau.

Namun, hujan ini membawa ironi klasik bagi warga Batam: saat panas mereka kekeringan, saat hujan mereka ketakutan akan banjir. Maklum, memori kelam Februari 2026 lalu masih segar, di mana hujan satu jam saja sudah mampu merendam kawasan Sekupang hingga setinggi lutut orang dewasa.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyambut baik turunnya hujan ini. Saat meninjau Pelabuhan Internasional Batam Center, ia menyebut fenomena ini sebagai buah dari doa kolektif masyarakat dan pemerintah.

“Saya dapat laporan dari para camat, di Batu Aji, Sekupang, Bengkong, dan Sagulung hujannya cukup deras, tapi bersifat lokal,” ujar Amsakar, Selasa (31/3/2026).

Amsakar berharap curah hujan ini mampu mengisi waduk-waduk utama yang menyusut dan mematikan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sayangnya, kegembiraan sang Wali Kota tampak kontras saat disinggung mengenai keresahan rakyat bawah—khususnya pengemudi ojek online—soal ancaman banjir yang selalu mengintai setiap kali hujan lebat turun.

Alih-alih memberikan solusi atau skema mitigasi, Amsakar justru memilih bungkam. Ia langsung berbalik badan dan meninggalkan lokasi bersama rombongannya tanpa sepatah kata pun untuk menjawab kekhawatiran tersebut.

Sikap diam orang nomor satu di Batam ini memicu kritik pedas dari kalangan mahasiswa. Alwi Djaelani, Ketua DPC GMNI Kota Batam, menilai banjir di Batam bukan sekadar faktor alam, melainkan dampak dari rusaknya tata kelola lingkungan dan sistem drainase yang amburadul.

“Di Batam, tata kelola lingkungan masih buruk, hutan banyak dirusak,” tegas Alwi, mahasiswa semester akhir Universitas Riau Kepulauan tersebut.

Alwi juga menyayangkan gaya komunikasi Amsakar yang dinilai menghindari substansi persoalan publik. Menurutnya, masyarakat butuh kepastian kerja nyata dari Pemko dan BP Batam, bukan sekadar retorika soal doa.

“Seharusnya dijawab dengan jelas, sehingga masyarakat mengetahui upaya Pemko dan BP Batam dalam mencegah banjir serta mengatasi kekeringan,” tambah Alwi.

(jam)

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :