Selat Hormuz Tersumbat? PM Wong: Ancam Rantai Pasok Singapura, Pemerintah Siapkan Skenario Darurat

Selat Hormuz Tersumbat? PM Wong: Ancam Rantai Pasok Singapura, Pemerintah Siapkan Skenario Darurat

Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong bersama perdana menteri Hongkong.

Nurjali

Singapura, Batamnews – Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai dampak blokade berkepanjangan di Selat Hormuz. Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya akan melambungkan harga bahan bakar, tetapi juga berpotensi mengganggu seluruh rantai pasok Negeri Singa.

Pernyataan tersebut disampaikan PM Wong saat ditemui wartawan di Hong Kong, Sabtu, 28 Maret 2026 menandai akhir dari rangkaian kunjungan dinasnya ke Hainan dan Hong Kong.

Dengan gaya bertutur yang tenang namun tegas, PM Wong menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah memantau secara saksama ketegangan di Timur Tengah. Fokus utama tertuju pada risiko kemacetan di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak dunia yang krusial.

Baca juga: Grab Naikkan Tarif Taksi di Singapura Mulai 30 Maret, Ini Penyebabnya

“Jika terjadi kemacetan berkepanjangan, dampaknya tidak hanya pada pasar minyak, tetapi juga pada pasokan diesel yang digunakan oleh berbagai industri, serta bahan bakar jet untuk penerbangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, jajarannya saat ini tengah bekerja keras untuk menyiapkan berbagai skenario darurat. Upaya peningkatan ketahanan energi dan rantai pasok pun terus dikaji, termasuk diversifikasi sumber energi mengingat Singapura sangat bergantung pada impor.

PM Wong menyebut Australia sebagai salah satu contoh pemasok gas alam cair (LNG) yang andal bagi Singapura. Masyarakat dapat menantikan pembaruan lebih lanjut mengenai upaya ini dalam sidang parlemen mendatang pada bulan April.

Dalam kesempatan yang sama, PM Wong juga menuturkan pendekatan konsisten Singapura dalam menjalin hubungan dengan negara-negara besar. Kehadirannya di Forum Boao untuk Asia di Hainan tepat setelah kunjungan kerja ke Jepang dinilainya bukan sekadar soal waktu, melainkan cerminan komitmen untuk menjaga hubungan erat dengan semua pihak.

Menanggapi dinamika hubungan China dan Jepang yang tengah berada dalam “fase sulit”, PM Wong dengan lugas menyatakan posisi Singapura.

“Kami ingin berteman dengan mereka semua China, Jepang, Amerika, dan lainnya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sikap ini tidak hanya milik Singapura, tetapi mencerminkan posisi luas ASEAN yang ingin menjaga kawasan tetap terbuka dan inklusif melalui keterlibatan aktif dengan semua kekuatan besar.

PM Wong juga meluruskan narasi persaingan lama antara Singapura dan Hong Kong. Menurutnya, narasi bahwa keuntungan satu kota adalah kerugian bagi kota lain, terutama di sektor keuangan, sudah tidak relevan.

Ia bertutur tentang bagaimana kedua kota telah berevolusi ke arah yang berbeda. “Baik Hong Kong maupun Singapura, pada dasarnya adalah pintu gerbang menuju daerah belakang yang berbeda. Bagi Hong Kong, itu adalah pasar domestik China yang lebih luas. Bagi Singapura, itu adalah Asia Tenggara.”

PM Wong melihat adanya peran yang saling melengkapi. Ia meyakini, jika kedua kekuatan ini digabungkan, keduanya dapat menjadi pusat komplementer bagi kawasan, yang pada akhirnya menambah ketahanan dan semangat kawasan.

Pernyataan ini membuka peluang kerja sama praktis di berbagai bidang seperti riset, inovasi, pariwisata, hingga pertukaran pegawai negeri. Singapura bahkan tengah menjajaki keikutsertaan dalam proyek-proyek baru di Hong Kong, termasuk pengembangan Northern Metropolis.

PM Wong menegaskan bahwa Singapura tetap optimis terhadap prospek jangka panjang China. Pemerintah akan terus berinvestasi dan mempelajari peluang baru, termasuk di wilayah Hainan yang kini beroperasi sebagai pelabuhan perdagangan bebas.

Baca juga: Akibat Konflik Iran, PSP Singapura Usul WFH dan Cuti Kerja untuk Hemat Energi

Ia menyoroti potensi kolaborasi di bidang-bidang baru seperti kecerdasan buatan (AI), ilmu pengetahuan dan teknologi, serta ekonomi hijau. Hal ini dinilainya dapat melengkapi apa yang sedang digulirkan China dalam Rencana Lima Tahun ke-15 mereka.

Di akhir pernyataannya, PM Wong berbagi refleksi pribadi. Ia mengatakan bahwa setiap kunjungan ke China selalu menjadi pengingat betapa cepatnya perkembangan terjadi di sana.

“Ini adalah pengingat mengapa kita (Singapura) tidak boleh berhenti dan berpangku tangan,” pungkasnya.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :