Ledakan Bom Serentak Guncang 11 SPBU di Thailand Selatan, 4 Orang Terluka
Pengeboman di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di wilayah Thailand.
Jakarta, Batamnews – Serangkaian ledakan mengguncang belasan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di wilayah Thailand bagian selatan dini hari Minggu, 11 Januari 2026. Serangan terkoordinasi ini menewaskan empat orang dan diduga terkait dengan konflik bersenjata berkepanjangan di kawasan tersebut.
Berdasarkan pernyataan resmi Angkatan Darat Thailand, sedikitnya 11 SPBU di tiga provinsi paling selatan, yaitu Narathiwat, Pattani, dan Yala, menjadi sasaran.
Bom-bom diledakkan dalam kurun waktu 40 menit setelah tengah malam, menyebabkan kerusakan pada pompa bahan bakar dan memicu kebakaran.
Baca juga: Pasca Penangkapan Spektakuler AS, Maduro Diadili di New York; PBB Gelar Rapat Darurat
“Kejadiannya hampir bersamaan. Sekelompok pria dalam jumlah tidak diketahui datang dan meledakkan bom yang merusak pompa bahan bakar,” ujar Gubernur Narathiwat, Boonchauy Homyamyen, kepada media lokal.
Ia menambahkan, satu polisi terluka di provinsinya. Sementara itu, militer melaporkan seorang petugas pemadam kebakaran dan dua karyawan SPBU terluka di Pattani.
Keempat korban telah dilarikan ke rumah sakit. Juru bicara Angkatan Darat Thailand kepada AFP menyatakan tidak ada yang mengalami luka serius.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas setempat belum mengumumkan penangkapan atau menyebutkan identitas pelaku di balik serangan ini. Namun, dugaan mengarah kepada kelompok separatis yang telah lama beroperasi di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan bahwa badan keamanan percaya serangan ini merupakan “sinyal” yang bertepatan dengan pemilihan administrator lokal pada hari Minggu, dan “bukan bertujuan untuk pemberontakan.”
Sebagai respons, Panglima Militer di Selatan, Letnan Jenderal Narathip Phoynok, menginstruksikan peningkatan keamanan ke tingkat “maksimum di semua area,” termasuk di pos pemeriksaan jalan dan perbatasan.
Kawasan Thailand Selatan secara budaya berbeda dengan mayoritas Thailand yang beragama Buddha, setelah dikuasai oleh Bangkok lebih dari satu abad lalu.
Baca juga: Krisis Venezuela: AS Gulingkan Maduro, Kuasai Negara Sementara untuk "Transisi"
Konflik bersenjata dengan intensitas rendah telah berlangsung sejak 2004, menewaskan ribuan orang dalam perjuangan kelompok separatis untuk memperoleh otonomi lebih luas di wilayah mayoritas Muslim yang berbatasan dengan Malaysia ini.
Wilayah ini dijaga ketat oleh pasukan keamanan Thailand, yang sering menjadi target serangan kelompok bersenjata. Serangan terhadap infrastruktur sipil seperti SPBU menandai eskalasi pola kekerasan yang biasanya diarahkan kepada aparat.

Komentar Via Facebook :