Kenapa Inggris Tak Menjadikan Sarawak dan Sabah Sebagai Negara? ... Seperti Brunei
Abang Mat di Perdana Putra. (Foto: istimewa)
Oleh: Abang Mat
Peta dunia paling tak sedap dalam pandangan saya adalah peta Sarawak dan Sabah dalam Malaysia. Janggal gitu rasanya. Bentuknya nampak tak sedap. Bukan artinya peta Sarawak dan Sabah itu tak bagus. Tapi kalau digabungkan dengan peta Malaya, itulah yang tak bagus terlihatnya. Tak bagus bagi Sarawak dan tak bagus juga bagi Malaya. Sebab Sarawak dan Sabah nampak lebih besar daripada Malaya, sangat besar. Disebabkan besarnya pulau Borneo. Beda keadaannya dengan pulau Jawa yang nampak lebih kecil daripada pulau Borneo, Indonesia ada banyak pulau besar. Yang membuat peta Indonesia nampak bagus.
Digabungkannya Sarawak dan Sabah ke Malaya sangat merugikan semua pribumi Sarawak, begitu juga dengan pribumi Sabah. Bagi saya, ini adalah penjajahan Malaya. Bukan hanya karena Sarawak dan Sabah hanya dapat 5% dari bagi hasil pengelolaan minyaknya, tapi yang terpenting adalah karena pribumi Sarawak menjadi tidak bisa melaksanakan hak-haknya untuk mengurus langsung wilayahnya sendiri, dengan wewenang tertinggi. Membuat peraturan-peraturan di wilayahnya berdasarkan kebijaksanaan Dayak. Hal ini tentu sangat menyedihkan. Karena Sarawak dan Sabah adalah native rightsnya Dayak.
Pribumi Sarawak juga tidak bisa melestarikan wilayah hutannya sepenuhnya, yang telah ditinggalkan nenek moyang mereka kepada mereka selama ribuan tahun. Disebabkan bukan mereka yang berkuasa mengeluarkan izin-izin di wilayah mereka. Penguasaan Malaya di Sarawak membuat orang-orang Malaya menjadi berkuasa penuh. Sehingga membuat Malaya sanggup mendirikan karya seni semahal menara kembar di ibukotanya. Yang ringgitnya banyak didapat dari hasil penjualan kekayaan alam Sarawak dan Sabah yang melimpah. Yang di ibukota Sarawak dan Sabah pun sampai sekarang tak ada gedung semewah itu.
Pribumi Sarawak adalah suku Dayak. Yang terbeken adalah Dayak Iban dan Dayak Melanau. Selain dua puak Dayak ini, ada juga puak-puak Dayak lain dalam jumlah kecil. Disamping suku Dayak, ada suku Melayu yang sudah ratusan tahun tinggal di Sarawak, berasal dari (kepulauan) Riau. Setelah Dayak dan Melayu, ada juga orang China yang datang pada akhir abad 19. Sebelum digabungkan ke Malaya, selama seabad Sarawak diatur keluarga Inggris sampai tahun 1946, sebagai wilayah yang berbentuk kerajaan. Dan berstatus sebagai negara protektoratnya Inggris di Asia sampai tahun 1963. Negara setengah merdeka.
Walaupun pribumi Sarawak adalah suku Dayak, tapi yang berkuasa adalah suku Melayu. Keadaan ini tentu sangat tidak adil bagi orang Dayak. Melayu berkuasa di Sarawak disebabkan sejarahnya, yang sejak zaman Raja Brooke sudah ditugaskan sebagai panglima di benteng-benteng Sarawak. Pelindung wilayah Sarawak. Dayak dan Melayu pada zaman pengaturan keluarga Brooke, tidak berambisi menjadi penguasa tertinggi Sarawak. Sedangkan di Sabah, pribuminya adalah suku Dayak Kadzan dan suku Bajo. Sebelum digabungkan ke Malaya, wilayah Sabah dikelola oleh perusahaan British Borneo Utara.
Dalam pandangan pribadi saya, skenario yang lebih baik untuk Sarawak dan Sabah pada tahun 1963 adalah Sarawak dan Sabah menjadi negara sendiri. Republik Sarawak dan Republik Sabah. Dengan begini, peta politik Asia Tenggara jelas menjadi lebih memikat dan candu. Dengan adanya dua negara yang sama besar, Malaya dan Sarawak, yang menjadi tetangga Indonesia. Malaya sebagai negara Melayu dan Sarawak sebagai negara Dayak. Berdirinya negara berdasarkan suku ini, tentunya sesuai dengan perintah tuhan yang diabadikan dalam surat al-baqarah ayat 60. Inilah resep kejayaan suku-suku di Eropa.
Apabila kemauan ini saat itu tak disetujui Inggris, maka tetap dengan Inggris adalah yang lebih baik, daripada digabungkan dengan Malaya. Hanya sekedar bangga berwilayah besar tapi hilang kekuasaan tertinggi di wilayah sendiri, tentu ini bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana bagi pribumi Sarawak dan Sabah. Saat sudah waktunya merdeka, barulah Sarawak dan Sabah merdeka. Inggris pun tak mungkin selamanya menahan kemerdekaan Sarawak dan Sabah. Sebab keadaan dunia yang sudah berubah sejak perang dunia kedua berakhir. Sabah adalah tempat terbaik untuk dijadikan pangkalan militer Inggris di Asia.
Dengan menjadi negara sendiri, Sarawak tak dikuasai Melayu. Terutama Melayu-melayu palsu yang dikirim dari Malaya untuk menjadi pejabat sejak tahun 1990an. Disebabkan Melayu-melayu palsu itu adalah keturunan pendatang-pendatang dari Indonesia, khususnya Sumatra dan Sulawesi. Yang justru hanya merugikan alam Sarawak, satwa Sarawak, pribumi Sarawak, dan budaya Sarawak. Dengan begini, Dayak bisa menjadi kelompok terbanyak di parlemen dan bisa menjadi presiden di wilayahnya sendiri. Bukan hanya gubernur, kapolda, dan pangdam. Ini jelas sangat besar manfaatnya untuk orang-orang Dayak. Inilah keadilan.
Skenario kedua kalau tak menjadi negara sendiri, adalah bergabung dengan Brunei. Ini jelas lebih baik daripada bergabung dengan Malaya. Apalagi raja Brunei memang adalah raja Sarawak yang sebenarnya. Dan juga raja Sabah yang sebenarnya. Kalau ini terjadi, negara ini sangat memikat. Sebab rajanya adalah Melayu tapi rakyatnya yang terbanyak adalah Dayak, kaum Nasrani. Sehingga diperlukan pemakluman yang tinggi antara kedua suku untuk saling menjaga kerukunan negara. Ini adalah kelangkaan yang memikat. Meski bergabung dengan Brunei bukanlah pilihan terbaik, tapi ini jelas lebih baik daripada bergabung dengan Malaya.
Malangnya, memang sudah menjadi nasib Sarawak dan Sabah yang dijadikan penguat Malaya, sekedar untuk menyeimbangi Indonesia. Supaya wilayah Malaya tak terasa terlalu kecil di dalam pikiran orang Malaya saat melihat peta Indonesia. Padahal cara berpikir seperti ini adalah pemikiran yang salah. Andai Sarawak dan Sabah berdaulat seperti Brunei, tak dijadikan sumber kekayaan Malaya, tentu Sarawak dan Sabah sekarang sudah seperti Swedia dan Denmark. Menjadi negara yang hebat dan membanggakan. Bermanfaat bagi kehidupan umat manusia lewat hutannya. Dan menyediakan jutaan lapangan kerja bagi bangsa Indonesia.
-----
Penulis adalah alumni SMANSA Batam. Abang Lisa Al Gafar dan Nila Al Gafar. 96 adalah angka kegemarannya.

Komentar Via Facebook :