Kenapa Orang Inggris Bisa Bertahan Ratusan Tahun di Singapura?
Rumah bergaya Melayu Inggris. (Foto: istimewa)
Oleh: Abang Mat
Tengku Hussein dan kawan-kawannya berusaha menggulingkan Tengku Abdurrahman dari pusat kekuasaannya di Daik Lingga, karena menganggap beliau lah yang berhak dengan tahta Riau. Tapi takdir sudah menetapkan Abdurrahman lah yang bertahta menjadi Sultan Riau. Raffles yang mengetahui kemelut politik ini dengan cepat bersikap bijaksana dengan bertanya kepada Hussein yang sedang berada di Temasek, bolehkah kami mendirikan pelabuhan di pulau ini? Hussein menjawab dengan senang hati. Yang penting pelabuhan awak membawa kejayaan bagi semua orang disini, khususnya rakyat beta.
Singkat cerita, setelah Traktat London ditandatangani pada tahun 1824 resmi lah Hussein menjadi Sultan. Tapi beliau tak menjadi Sultan di Riau. Beliau menyetujui saran Inggris yang memanfaatkan besarnya wilayah kesultanan Riau pada saat itu. Sengketa bertahun-tahun antara dua saudara kandung itu pun selesai. Abdurrahman lega dan Hussein pun puas. Abang dan adek ini sama-sama menjadi raja. Yang satu melanjutkan tahtanya di Lingga sejak 1811 sebagai Sultan Riau dan yang satu lagi bertahta di Singapura sejak 1819 sebagai Sultan Johor. Setelah peristiwa besar ini selesai, dimulailah zaman Inggris di Singapura.
Kenapa orang Inggris yang sedikit itu bisa berkuasa sampai ratusan tahun di Singapura? Tepatnya selama 135 tahun? Bahkan setelah perang dunia kedua selesai, Inggris kembali berkuasa selama 17 tahun. Jawabannya adalah karena selama Inggris berkuasa di Singapura, orang-orang Inggris tidak pernah merugikan orang Melayu. Bahkan adanya Inggris di Singapura justru banyak menguntungkan orang Melayu. Inilah yang membuat Inggris bisa bertahan lama di Singapura, lebih dari satu abad. Sehingga banyak orang Melayu merasa kehilangan saat orang-orang Inggris kembali ke negaranya selamanya.
Selama Inggris berkuasa, tak sampai 5% pulau Singapura yang dibuat betul-betul bernuansa Inggris. Contohnya adalah di colonial district yang dipenuhi gedung-gedung warisan Inggris. Selain itu adalah pos-pos keamanannya yang tersebar di seluruh penjuru pulau dan rumah pejabat-pejabatnya. Meskipun pulau itu mutlak dalam kekuasaan Inggris sejak tahun 1867. Lebih dari setengah luas pulau itu tetap hutan dengan penghuni-penghuninya. Inggris tetap mengawetkan rasa memiliki pulau itu dalam pikiran orang-orang Melayu. Dengan cara membuat 90% pemukiman di pulau itu menjadi daerah pemukiman-pemukimannya orang Melayu.
Itu sebabnya selama ratusan tahun Inggris berkuasa, tak pernah ada sekalipun pemberontakan dari orang Melayu. Walaupun hanya sebatas di kedai kopi. Orang-orang Melayu tetap merasa pulau itu adalah pulaunya, bekas wilayah Riau dan bekas ibukota Johor. Orang melayu di Singapura menerima kenyataan bahwa orang Inggris lebih hebat daripada orang Melayu. Orang Melayu tau Inggris adalah rajanya Eropa saat itu. Suku yang menciptakan kereta dan telegraf, dengan angkatan laut terbesar di dunia. Orang Melayu di Singapura mengetahui ini berkat cerita orang-orang Melayu di Riau yang sudah melanglang buana ke Turki.
Orang Melayu diajarkan bahasa Inggris supaya bisa menjadi polisi dan pegawai pemerintah. Hal ini semakin menyenangkan orang Melayu. Sebab sebelum kedatangan orang-orang Inggris, pulau itu diurus secara tradisional. Pengenalan dengan berbagai macam hal baru semakin membuat orang Melayu menyenangi Inggris, contohnya seperti koran dan jam. Orang Melayu juga diperkenalkan dengan ilmu arsitektur terbaru, sehingga membuat orang-orang Melayu pada zaman itu banyak menghasilkan karya seni yang menawan di pulaunya. Keahlian Melayu dan Inggris dalam bidang arsitektur membuat pulau Singapura menjadi semakin cantik.
Orang Melayu merasa mujur karena setiap hari mendapatkan pemandangan yang menyenangkan di pulaunya, khususnya pusat kotanya yang dibuat seperti London. Ditambah lagi dengan perkampungan-perkampungannya yang cantik jelita dan menyengarkan. Orang Melayu di Singapura bangga dengan kotanya sebab lebih maju daripada semua kota di Malaya. Puncaknya adalah saat Singapura dijadikan pusat perfilman pada tahun 1948 sampai tahun 1965, pulau itu banyak menghasilkan film-film hebat yang tetap dicintai orang-orang Melayu sampai sekarang. Tiga Abdul dan Alibaba Bujang Lapok adalah contohnya.
Kedatangan orang Bugis, orang Jawa, orang Boyan, orang Banjar, dan orang Minang sejak akhir abad 19 dan awal abad 20 untuk bekerja di perkebunan-perkebunan karet orang China tidak meresahkan orang Melayu. Karena sifat orang Melayu yang mudah menerima pendatang. Dengan semua kebaikan yang telah dilakukan orang-orang Inggris selama turun temurun di Singapura, membuat orang-orang Melayu sangat mendukung pemerintahan Inggris. Orang Melayu menjadi terhubung dengan dunia yang lebih luas. Keputusan Tengku Hussein menjadikan Inggris sebagai kawan kerjanya adalah keputusan yang baik.
-----
Penulis adalah peminat cerpen Singapura. Menganggap lampu dan kamera adalah penemuan terpenting umat manusia. Whatever adalah lagu rock kegemarannya.

Komentar Via Facebook :