Dosa-dosa Belanda kepada Suku Melayu di (Kepulauan) Riau
Abang dengan datoknya, anak Watan Riau. (Foto: istimewa)
Oleh: Abang Mat
Tak ada bangsa yang sempurna, begitu juga belanda. Di mata bangsa indonesia, belanda adalah penjahat. Itu kesan mutlak. Penjahat yang menjajah nenek moyang bangsa indonesia selama 350 tahun. Walaupun setiap wilayah berbeda masa penjajahannya. Segiat apapun usaha belanda memulihkan citranya dimata bangsa indonesia, tetap tak mengubah kesan belanda dalam sanubari bangsa indonesia. Misalnya dengan pengembalian artefak-artefak bersejarah dan pemberian beasiswa kepada orang-orang di pulau jawa. Karena diajarkan turun temurun di sekolah-sekolah sejak zaman presiden suharto, belanda adalah penjahat.
Sebab lainnya adalah karena bangsa indonesia tau semua usaha pemulihan citra itu pada akhirnya dilakukan hanya demi melanggengkan kepentingan-kepentingan bisnis belanda di indonesia turun temurun. Sebab kekayaan alam indonesia yang melimpah dan besarnya pasar indonesia dari sumatra sampai papua. Mendekati 300 juta jiwa. Ditambah lagi dengan murahnya gaji pekerja pabrik di Indonesia. Tiga hal ini sangat diperlukan belanda untuk mengabadikan peradaban belanda di negaranya supaya tetap aman seperti sekarang. Berikut ini saya tuliskan dosa-dosa suku belanda kepada suku melayu di (kepulauan) Riau.
Dosa pertama belanda kepada suku melayu adalah memasukkan orang-orang china. Sejak pertengahan abad 19 orang china banyak didatangkan dari Fujien ke Riau. Mereka sengaja disebarkan ke daerah-daerah yang dikembangkan belanda. Dengan tujuan membuat suku melayu kehilangan keahlian berjual beli. Karena perniagaan-perniagaan kecil dan sedang, sengaja dikhususkan belanda untuk orang-orang china. Hal ini dampak selanjutnya adalah membuat masyarakat suku melayu menjadi tak memiliki perniagaan di wilayah negaranya sendiri. Tujuan akhir dari strategi politik ini adalah supaya orang china mempunyai kekuatan yang besar dalam negara, sehingga bisa mencampuri urusan-urusan negara. Khususnya di bidang ekonomi dan politik. Dan Sultan terpaksa setuju dengan kemauan kelompok china.
Dosa kedua adalah membubarkan negaranya suku melayu dan membunuh monarkinya. Belanda dengan niat jahatnya waktu itu sengaja membuat keadaan supaya orang-orang melayu geram. Tujuannya adalah supaya belanda ada alasan untuk memecat Sultan. Setelah itu wilayah Riau dijadikan jajahan langsung belanda. Tapi bedanya dengan peristiwa tahun 1857, pada tahun 1911 itu setelah sultan dipecat dari jabatannya dan kesultanannya dibunuh, wilayah negaranya langsung dikuasai belanda sepenuhnya. Taktik ini dilakukan karena sangking pentingnya wilayah kesultanan Riau, karena sejarahnya yang merupakan wilayah asal muasal bahasa persatuan di hindia belanda. Sehingga belanda bertekad harus menguasainya langsung. Dan membuat belanda sanggup mengkhianati Traktat London 1824 yang mengakui kekuasaan kesultanan Riau.
Seharusnya waktu itu apabila belanda betul-betul baik, belanda tidak membunuh monarki Riau. Tapi cukup dengan mengganti Sultan Abdurrahman Muazzamshah II dengan anak cucunya Sultan Sulaeman Badrul Alamshah II atau anak cucunya Sultan Mahmud Muzaffar Shah IV. Sebab kesultanan adalah hak milik suku melayu turun temurun, yang sudah ada berabad-abad sejak awal abad 16. Bukan hanya hak milik keluarga kesultanan tapi juga kebanggaan semua orang melayu di Riau. Penggantian kepala negara (Sultan) pada waktu itu bisa mencontoh seperti pada zaman Sultan Mahmud IV yang dipecat dari jabatannya karena degil. Tapi hal ini tak diulangi Belanda, karena ambisi belanda berkuasa langsung di wilayah Kesultanan Riau. Yang terletak di jalur utama pelayaran dunia.
Dosa ketiga belanda adalah mendukung (sengaja membiarkan) penggabungan wilayah Riau ke dalam negara Republik Indonesia Serikat. Walaupun utusan-utusan Riau saat itu setuju dengan penggabungan wilayahnya, tapi sebagai penguasa tertinggi Riau saat itu, belanda yang bijaksana bisa mencegah penggabungan yang berakibat fatal bagi suku melayu. Sudah tau suku melayu pasti menjadi kelompok kecil (minoritas) dalam negara Republik Indonesia Serikat, seharusnya belanda mencegah penggabungan ini. Seperti belanda menghalang wilayah Papua mengikuti Konferensi Meja Bundar. Apalagi dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya pengkhianatan perjanjian dari pemerintah Republik Indonesia Serikat. Harusnya wilayah Riau waktu itu dibuat menjadi negara sendiri yang berdaulat, seperti Denmark dan Jerman.
Dosa belanda selanjutnya adalah menobatkan pengganti Sultan Sulaeman Badrul Alamshah II kepada yang bukan dari keturunan sultan. Belanda bersekongkol dengan Yang Dipertuan Muda Riau untuk menjadikan Raja Abdurrahman sebagai Sultan Riau. Jabatan Sultan Riau adalah HAK MUTLAK keturunan melayu. Belanda sengaja melakukan ini untuk melemahkan semangat suku melayu. Seharusnya anak lelaki tertua Sultan Sulaeman II lah yang menjadi pewaris tahta Riau. Kalau anak lelaki tertuanya sudah wafat, maka anak lelakinya yang lebih muda. Begitu seterusnya sampai ke saudara kandung lelaki Sultan Sulaeman II dan keponakannya. Sepupu-sepupunya. Andai semua saudaranya itu tidak sehat atau belum cukup umur, atau sudah tidak ada semuanya, maka di ambil dari jalur keturunan anak cucu cicit Sultan Mahmud IV. Intinya adalah keluarga yang dari jalur sultan.
Dosa ke lima adalah belanda tidak sungguh-sungguh membangun pendidikan di Riau. Itu pun yang diutamakan adalah anak-anak china. Itu sebabnya tak banyak sekolah peninggalan belanda di Riau, kecuali di Bintan. Bahkan di batam satu pun tak ada. Anak-anak di Batam pada zaman itu hanya belajar di madrasah dengan guru arab melayu. Belanda tak melaksanakan Politik Etisnya di wilayah Riau. Peran belanda di Riau tak seperti peran belanda di pulau jawa yang banyak membangun sekolah dan perlengkapan umum kota. Bahkan sampai ada kampus, contohnya seperti sekolah teknik di bandung, sekolah kedokteran di batavia, dan sekolah hukum di batavia. Sekolah tinggi-sekolah tinggi seperti ini tak ada di Riau. Kebijakan ini dibuat karena belanda takut apabila orang melayu banyak yang cerdas, diperkirakan akan menyingkirkan Belanda dari Riouw.
Dosa ke enamnya adalah sengaja membiarkan wilayah Riau digabungkan dengan wilayah-wilayah di timur sumatra menjadi provinsi baru pada tahun 1957. Keputusan ini membuat wilayah Riau yang pada tahun 1950 secara inkonstitusional dijadikan sebuah kabupaten dalam provinsi sumatra tengah, tetap hanya menjadi sebuah kabupaten. Artinya belanda mendukung orang-orang melayu sengaja dirugikan. Apalagi setelah orang-orang belanda diusir Presiden Sukarno DAN dengan merdekanya singapura pada tahun 1965, nasib wilayah Riau semakin jelas pada periode-periode setelahnya. Seharusnya setelah dibubarkannya sumatra tengah, wilayah (kepulauan) Riau dijadikan provinsi tersendiri, seperti yang diusahakan kepada Bali.
Orang Belanda sebagai suku pribumi di negaranya yang homogen, pasti tidak mau kalau kerajaannya (monarkinya) dimatikan dan negaranya dirubah menjadi republik. Apalagi kalau negaranya ditaklukkan negara lain. Misalnya wilayah negaranya dijadikan provinsinya Republik Prancis dan dijadikan provinsinya Republik Jerman. Pasti belanda tak akan mau, walau sekaya apapun Prancis dan Jerman. Karena kecintaan dan kebanggaan orang-orang belanda dengan sejarah yang mereka miliki sebagai satu kesatuan yang sudah ada sejak berabad-abad, sejak Pangeran Wlliam van Oranje mendirikan bangsanya. Pelaut tangguh dari eropa barat yang mendirikan Batavia di Asia.
Belanda juga pasti tak mau kalau pendatang di provinsi-provinsinya lebih banyak daripada pribumi, apalagi kalau sampai membuat pribumi belanda menjadi kelompok yang lebih kecil. Keadaan ini pasti sangat tidak diinginkan orang-orang belanda. Walaupun pendatangnya adalah suku-suku yang seras dengan suku belanda, misalnya suku denmark dan suku jerman. Apalagi kalau pendatangnya itu sampai memenuhi lembaga-lembaganya belanda, yang merupakan native rightsnya belanda. Mulai dari Parlemen, BUMN, dan sampai yang tersakral, Militer. Suku Belanda pasti tak setuju dan sangat keberatan. Walaupun sudah ada satu orang arab maroko di Rotterdam yang dijadikan walikota, untuk dijadikan modal debat apabila dipermasalahkan dimasa depan.
Seandainya wilayah belanda dibuat jadi dua negara baru, sudah pasti belanda juga tak akan mau. Seperti wilayahnya Kesultanan Riau yang dibelah dua pada tahun 1824 menjadi Riau dan Johor. Terakhir, orang-orang belanda pasti tak mau ibukotanya dikendalikan orang-orang yang bukan pribumi belanda. Bukan hanya tak mau orang belanda lebih sedikit daripada pendatang. Apalagi kalau mayoritas pendatangnya adalah pendatang arab dari maghribi. Begitu juga dengan perekonomiannya, walau hanya setengah perekonomiannya dikendalikan orang-orang china misalnya. Meskipun Walikota, Menteri Keuangan, dan Perdana Menterinya tetap orang belanda asli. Belanda pasti tetap tak mau. Apalagi tanahnya. Itu adalah hal yang wajar dan memang sudah seharusnya.
Oleh sebab-sebab inilah, dalam pandangan saya betapa besarnya dosa belanda kepada suku melayu di (kepulauan) Riau. Sampai sekarang tak ada tanggung jawab pemerintah belanda kepada suku melayu setelah 76 tahun indonesia berdiri. Hanya karena suku melayu adalah suku yang sedikit dan tak berkuasa besar di indonesia. Jangankan permohonan maaf dari Raja Belanda kepada suku melayu karena penjajahannya, yang terjadi justru belanda semakin menambah banyak dosa-dosanya. Sejak orang-orang belanda sepakat menjadikan (kepulauan) Riau sebagai ''sumber gizinya'' singapura dan negaranya, setelah singapura merdeka. Yang disebabkan karena belanda kehilangan kekaisarannya pada akhir tahun 1949.
Demikianlah pikiran singkat saya sebagai anak watan Riau yang hidup di zaman google. Tentunya itu belum semua dosa diceritakan, masih banyak dosa-dosa belanda lainnya. Belanda tentunya tak senang membaca semua kenyataan ini dan itu adalah perasaan yang wajar. Karena merasa harus selalu dibenarkan apabila berhadapan dengan pihak yang lemah dan tak diperlukan. Tapi apakah perasaan marah itu lebih benar daripada semua kejahatan yang telah dibuat orang belanda kepada suku melayu di (kepulauan) Riau? ... Biarlah jiwa yang adil yang menentukannya.
---
Penulis adalah sosok yang penasaran dengan ratusan foto masa lalu Riau yang masih sengaja disimpan di Belanda. Di antaranya adalah foto Raja Mohamed dengan anggota-anggotanya saat mengikuti Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949. Dan foto-foto masa lalu Riau lainnya yang dipotret lewat jepretan wisatawan-wisatawan mancanegara pada zaman itu.

Komentar Via Facebook :