Tengku Abdul Rahman... Pintar atau Bodoh?

Tengku Abdul Rahman... Pintar atau Bodoh?

Si ganteng pendiri negara Melayu. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Abang Mat

Tengku Abdul Rahman Putra Al Haj adalah pendiri negara Melayu. Beliau mendirikan negara Melayu pertama di dunia setelah zaman perang dunia kedua selesai, bernama Malaya. Bukan hanya pendiri, beliau juga menjabat sebagai perdana menteri pertama negaranya. Beliau berasal dari keluarga bangsawan Kedah. Ayah beliau adalah seorang bersuku Melayu dan bunda beliau adalah seorang Siam. Beliau adalah seorang pengacara lulusan Cambridge yang berjuang membentuk negara baru di semenanjung, lewat partai United Malaysia Nation Organization. Beliau adalah ketua perunding Malaya di London.

Berkat hasil perundingannya, Malaya mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1957. Tanpa perlu berperang mengorbankan rakyatnya. Selama 13 tahun pemerintahannya, saat Petronas belum ada, beliau mengalami zaman dimana masyarakat pribumi negaranya banyak yang hidup sebagai nelayan. Disebabkan keberpihakan Inggris kepada orang-orang China dimasa-masa awal pembangunan Malaya, menjadikan orang Melayu tertinggal dan orang China mempunyai daya tawar yang tinggi. Ini terwujud dengan pendirian MCA dan keanggotaan MCA dalam Barisan Kebangsaan. Dipuncaki dengan jabatan strategis di kabinet.

Pada tahun 1961 Tengku merancang untuk menggabungkan Singapura, Sarawak, Brunei, dan Sabah ke Malaya. Gagasan ini disetujui Inggris, ayah angkat Malaya. Dengan tujuan, negara baru ini menjadi penyeimbang Indonesia di kawasan nusantara. Singkat cerita, tahun 1963 resmilah Singapura, Sarawak, dan Sabah bergabung dengan Malaya, membentuk Malaysia. Usaha mempertahankan penyatuan (madu tiga) ini dijalani dengan perang. Hanya Brunei yang tak setuju dengan penggabungan ini. Karena kawatir mempertimbangkan nasibnya menjadi seperti Pontianak, Bulungan, dan Kutai sejak kehilangan kedaulatan. 

Singkat cerita, setelah terjadinya banyak perbedaan kemauan antara Tengku dan pemimpin Singapura saat itu, Singapura dikeluarkan dari Malaysia pada tahun 1965. Karena adanya Singapura membuat jumlah orang China menjadi hampir sama banyak dengan orang Melayu dan pendatang nusantara lainnya. Tengku yang didesak jendral dan menterinya untuk memenjarakan Lee Kuan Yew yang menentang hak Melayu, karena kasih sayangnya memutuskan membiarkan Lee Kuan Yew mewujudkan kemauannya. Dengan memodalkan Lee Kuan Yew pulau Singapura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sebagai negara berdaulat. 

Melihat dari tiga peristiwa penting yang terjadi pada tahun 1963, 1964, dan 1965, bagaimanakah kita menyimpulkan seorang Tengku Abdul Rahman? Melihat dari betapa besarnya wilayah baru yang beliau dapat untuk negaranya. Mempertimbangkan sakralnya Singapura sebagai sumber kekayaan negaranya. Dan mengingat tak maunya beliau tunduk kepada kemauan Sukarno. Biarlah orang yang layak, yang menilai beliau. Yang pasti, surat terbuka dari seorang dokter muda yang sedih karena kehilangan pulau tempat belajarnya, telah membuat Tengku yakin mundur dari jabatannya selamanya. 

---

Penulis adalah lulusan SD Negeri 015 Batam. Menganggap Borneo, Bali, dan Sumbawa sebagai tiga pulau paling memikat di Nusantara. Akhir Sejarah dan Lelaki Terakhir karya Francis Fukuyama, serta Benturan Peradaban karya Samuel Huntington adalah dua buku yang beliau dambakan baca dalam bahasa Indonesia. 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :