Suami Pembunuh Pegawai BPOM Batam di Kamar Hotel Capri Chinatown Singapura, Jalani Rekonstruksi di TKP
Pelaku saat dibawa petugas kepolisian Singapura untuk menjalani rekonstruksi di TKP.
Singapura, Batamnews - Kasus pembunuhan warga Pekanbaru, Riau yang bekerja sebagai pegawai BPOM di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, kembali bergulir di pengadilan Singapura. Pada pagi hari Rabu, 3 Desember 2025, sebuah mobil tahanan polisi memasuki area parkir hotel Capri by Fraser di China Square.
Dari dalam mobil tahanan tersebut, turun seorang pria dengan kepala tertunduk, tangan dan kakinya dibelenggu. Ia adalah Salehuddin (41 tahun), pria asal Indonesia yang didakwa membunuh istrinya sendiri di kamar hotel itu lebih dari sebulan lalu.
Insiden berawal pada Jumat, 24 Oktober. Salehuddin mendatangi kantor polisi Bukit Merah East dan mengaku telah membunuh istrinya. Petugas yang menanggapi kemudian menemukan Nurdia Rahmah Rery (38 tahun) tak bernyawa di salah satu kamar di lantai tujuh hotel tersebut.
Ia dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Esok harinya, Salehuddin resmi didakwa dengan tuduhan pembunuhan di pengadilan.
Kunjungannya kembali ke hotel pada 3 Desember itu merupakan bagian dari proses penyelidikan. Ia tiba sekitar pukul 09.15 pagi, mengenakan kaus polo merah dan celana hitam.
Diapit dua polisi di kanan-kirinya, Salehuddin dibawa ke atas, menuju kamar tempat tragedi itu terjadi. Dua jam kemudian, sekitar pukul 11.15, ia kembali turun dan diangkut van yang sama meninggalkan lokasi.
Keluarga yang Berduka dan Misteri di Baliknya
Kisah di balik peristiwa ini perlahan terungkap. Salehuddin dan Nurdia telah menikah selama sembilan tahun. Menurut keterangan keluarga, tidak ada tanda-tanda masalah serius dalam rumah tangga mereka.
Nurdia, putri sulung keluarga, bekerja sebagai apoteker di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Batam. Ia dikenal memiliki hubungan baik dengan keluarganya, meski sang saudara, Ishan, mengakui bahwa Nurdia kerap menyembunyikan perasaan dan selalu tampak kuat di depan keluarga.
Salehuddin disebut-sebut sebelumnya bekerja di Brunei sebagai scaffolder sebelum mengundurkan diri dan tiba di Singapura. Nurdia kemudian menyusul untuk bertemu dengannya, tanpa membawa serta kedua anak mereka yang berusia 5 dan 8 tahun.
Kini, kedua anak itu telah dibawa ke Pekanbaru untuk tinggal bersama keluarga besar Nurdia. "Mereka sekarang tinggal bersama orang tua dan saya. Kami akan mengasuh dan menyekolahkan mereka di Pekanbaru," ujar Ishan, menegaskan komitmen keluarga.
Kabar meninggalnya Nurdia menjadi pukulan berat bagi keluarga dan rekan-rekannya. Sehari setelah kejadian, seorang kerabatnya menulis ungkapan duka di Facebook, mengenang Nurdia sebagai lulusan Universitas Andalas yang penyayang, seorang anak, saudara, dan ibu yang baik.
Dalam unggahan berisi foto mereka bersama, kerabat itu berucap pilu:
"Ini sepertinya foto terakhir kita bersama, ya? Kenapa kita tidak lebih banyak berfoto? Kenapa kita tidak lebih banyak mengobrol? Kenapa pelukan kita tidak lebih erat? Tenanglah sahabatku, jangan khawatir. Kami akan memperjuangkan Bintang dan Hanan, kami ingin mereka menjadi bagian dari keluarga kami. Kami akan pastikan mereka mendapat cukup kasih sayang dari kita semua. Kamu, ibu mereka, tak akan tergantikan, tapi kami akan ada untuk mereka. Tolong jaga mereka dari atas sana, ya?"
BPOM Indonesia juga turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Nurdia, rekan mereka yang telah pergi terlalu cepat.
Kisah ini kini memasuki babak proses hukum. Sementara Salehuddin menjalani tahap demi tahap penyelidikan, keluarga di Pekanbaru berusaha memulihkan luka dan membangun kembali masa depan untuk dua anak yang telah kehilangan kedua orang tua mereka dalam tragis.

Komentar Via Facebook :