Sultan Mahmud Shah IV... Si Bebal yang Kokoh
Cucu Sultan Mahmud Muzaffar Syah IV. (Foto: istimewa)
Oleh: Abang Mat
Sultan Mahmud Muzaffar Shah IV adalah tokoh yang memikat dalam pandangan saya. Beliau lahir di Terengganu dan merupakan cucu dari Abdurrahman Muazzam Shah I. Sultan Riau ke 16 yang lahir di Bintan, Riau. Beliau naik tahta pada usia yang masih sangat muda, 12 tahun. Selama enam tahun pertama beliau menjalankan negara dibawah bimbingan ayahnya. Sejak kecil beliau adalah orang yang suka belajar. Pelajaran kegemarannya adalah sejarah, bahasa, dan perang. Beliau menguasai empat bahasa. Melayu, Belanda, Inggris, dan Arab. Buku kegemarannya adalah Muqaddimah karya Ibnu Khaldun.
Beliau bergelar Mahmud IV karena beliau adalah kelanjutan dari Mahmud III, great grandfathernya. Dari anak perempuannya yang bernama Embung Fatimah lahir lah Sultan Riau ke 20 yang bernama Abdurrahman Muazzam Shah II. Sultan Mahmud IV berkuasa pada tahun 1835 sampai tahun 1857. Beliau adalah Sultan Riau ke 18 sejak Mahmud I mendirikan Kesultanan Riau di Bintan. Masa pemerintahannya penuh dengan gejolak politik. Beliau wafat pada tahun 1865 dan dimakamkan di Pahang. Pada hari ini kisah kepahlawanannya tetap dikenang dalam ingatan orang-orang melayu.
Apa yang memikat dari beliau yang pertama adalah dalam hubungan persekutuan antara Kerajaan Belanda dengan Kesultanan Riau, beliau memilih tak mau terikat dengan perjanjian yang dibuat datoknya dengan Belanda. Sehingga sering membuat pejabat-pejabat Belanda di Batavia geram dengannya. Beliau ingin Riau merdeka dari Belanda. Sikap ini terjadi saat raja-raja di Surakarta dan Jogjakarta sedang romantis-romantisnya bermesraan dengan Belanda. Itu sebabnya beliau sangat membenci persekongkolan Yang Dipertuan Muda Riau dengan Belanda. Sehingga membuat beliau ingin membubarkan lembaga itu.
Hal kedua yang memikat dalam hidupnya adalah beliau ingin menyatukan ulang wilayah asli negara datok moyangnya yang mencakup wilayah-wilayah di Semenanjung, terutama Johor dan Pahang, kembali ke dalam Kesultanan Riau. Baginya cukuplah Singapura yang terpaksa beliau relakan. Padahal, dari sisi adat istiadat Melayu di Johor dan Pahang saat itu, beliau tetap dianggap sebagai Raja Melayu yang tertinggi derajatnya. Sehingga beliau tetap bergelar Sultan Riau, Johor, dan Pahang. Tapi penghormatan itu ternyata tak berpengaruh baginya. Beliau tetap menginginkan negaranya yang sebelum Traktat London 1824.
Setelah penguasa Johor berganti dinasti dan keluarga temenggung berkuasa penuh, Temenggung Ibrahim tetap tak memakai gelar Sultan hingga akhir hayatnya di tahun 1862. Disebabkan oleh rasa segan dan hormat Temenggung Ibrahim kepada Sultan Mahmud IV di Riau. Yang merupakan penguasa tertinggi negara melayu saat itu. Begitu juga dengan keluarga Bendahara di Pahang. Selama Sultan Mahmud IV berkuasa, beliau banyak melakukan kunjungan kenegaraan ke luar negara, terutama ke Singapura, Pahang, dan Terengganu untuk mengumpulkan dukungan. Terutama dukungan politik dan militer.
Dilihat dari sudut pandang hukum internasional, apa yang dilakukan Sultan Mahmud IV ini jelas bukanlah tindakan yang benar. Karena beliau tak mematuhi perjanjian yang telah dibuat datoknya sebagai kepala negara. Dalam pergaulan internasional, setiap perjanjian harus dilaksanakan. Pacta Sunt Servanda. Dengan tidak adanya sikap baik dari Sultan Mahmud IV selama beliau menjabat, akhirnya membuat Gubernur Jendral di Batavia memecat beliau dari jabatannya. Dan menggantinya dengan kerabatnya yang juga berbakat dan berkepribadian lebih baik. Yaitu Pak Ngahnya yang bernama Sulaeman Badrul Alamshah II.
Sangking besarnya pengaruh Sultan Mahmud Shah IV di kalangan rakyatnya, banyak panglima-panglimanya yang menentang pemecatannya. Hingga membuat Tengku Sulung di Reteh sanggup berperang melawan Belanda. Peristiwa ini dikenal dengan nama Perang Reteh. Pada perang yang melelahkan ini, Belanda berjaya mengalahkan prajurit-prajuritnya Tengku Sulung. Dengan strategi sengaja mengulur waktu, sehingga membuat prajurit-prajurit Tengku Sulung banyak yang terkecoh dan kocar-kacir karena mengira Belanda tak akan menyerang semua bentengnya.
Terlepas dari bebalnya Sultan Mahmud IV yang tak patuh dengan undang-undang dasar negaranya, kita bisa melihat jalan hidupnya yang luar biasa. Cintanya kepada negaranya yang tak terukur dengan nikmat jabatan yang beliau jalani. Beliau menginginkan negaranya merdeka. Berdaulat seperti Belanda, Inggris, Amerika, dan Ottoman pada saat itu. Tapi beliau memang bukan tokoh yang yang hidup di zaman yang sesuai dengan kemauannya. Andai beliau hidup di zaman setelah perang dunia kedua baru selesai, pastilah mimpinya terwujud dan negaranya sekarang sudah merdeka.
-----
Penulis adalah sosok yang suka memandang pohon-pohon yang rindang. Singapura adalah tempat kegemarannya melatih bahasa Inggris. Said Indra Abdullah adalah guru bahasa Inggris pertamanya.

Komentar Via Facebook :