Lebih dari 200 Tikaman, Pisau Bukti Pembunuhan Siswa di Malaysia Diukir Nama Pembantai Massal AS

Lebih dari 200 Tikaman, Pisau Bukti Pembunuhan Siswa di Malaysia Diukir Nama Pembantai Massal AS

Pelajar perempuan berusia 16 tahun di Selangor.

Nurjali

Malaysia, Batamnews - Dunia kembali terguncang oleh sebuah peristiwa tragis. Seorang pelajar perempuan berusia 16 tahun di Selangor, Malaysia, tewas setelah dibacok oleh seorang teman sekolahnya. Kekejaman peristiwa ini semakin dalam ketika terungkap detail-detail yang memilukan.

Ibunda korban, Huang Li Ping, bercerita dengan hati yang hancur. Putrinya yang malah ditemukan dengan lebih dari 200 luka tikaman, terutama di bagian kanan atas tubuh dan paha. Luka itu begitu parah hingga menusuk paru-paru gadis itu.

Dikisahkan oleh sang ibu, putrinya sempat mengunci diri di dalam bilik toilet untuk menyelamatkan diri. Sayangnya, itu tidak cukup. 

Baca juga: Malaysia Larang Ponsel Pintar untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Ini Sebabnya

Pelaku diduga memanjat sekat bilik, melancarkan serangan berdarah, lalu keluar dengan cara yang sama tanpa perlu membuka kunci pintu. Saat guru-guru berhasil membuka pintu, nyawa sang gadis sudah tidak bisa diselamatkan.

Ayah korban pun menyampaikan kepedihannya. Ia tak percaya bagaimana sebuah pisau bisa dengan mudah dibawa masuk ke dalam lingkungan sekolah.

Yang membuat bulu kuduk berdiri adalah motif yang terlihat dari senjata yang digunakan. Polisi menyita tiga senjata dari pelaku, termasuk dua pisau yang diukir dengan nama-nama penembak massal terkenal dari Amerika Serikat.

Satu pisau bertuliskan "Sandy Hook 2012" dan "Adam Lanza", nama pelaku yang membunuh 26 orang, 20 di antaranya adalah anak-anak, di Sandy Hook Elementary. Pisau lainnya terukir nama "Seung-Hui Cho", pelaku pembantaian di Virginia Tech tahun 2007 yang menewaskan 32 orang.

Fakta ini, ditambah dengan laporan bahwa pelaku mengenakan sarung tangan selama penyerangan, membuat polisi yakin bahwa ini adalah pembunuhan yang direncanakan. 

Kepolisian Selangor, yang diwakili Kepala Polisi Hussein Omar Khan, menyelidiki apakah pelaku terpengaruh oleh permainan video kekerasan atau konten media sosial.

Baca juga: 150 Pekerja Migran Indonesia Dipulangkan dari Malaysia ke Batam

Hingga saat ini, 59 orang telah diperiksa. Yang juga mencengangkan, pelaku diketahui pernah mengikuti bimbingan akademik, namun tidak ada catatan bahwa ia pernah menjalani perawatan psikologis sebelumnya.

Kisah tragis ini meninggalkan luka yang dalam, sekaligus pertanyaan besar tentang pengaruh kekerasan global yang merasuki generasi muda dan sistem keamanan di institusi pendidikan.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :