Tragedi Berulang di PT ASL Shipyard Batam: Dua Ledakan, Puluhan Korban, dan Misteri Kelalaian K3

Tragedi Berulang di PT ASL Shipyard Batam: Dua Ledakan, Puluhan Korban, dan Misteri Kelalaian K3

Sejumlah Pekerja PT ASL Shipyard, Batu Aji, Kota Batam, Berupaya Evakuasi Rekan Kerjanya Yang Terdampak Dalam Tragedi Maut Meledaknya Kapal Federal II. (foto. istimewa).

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Dalam rentang empat bulan, dua tragedi maut terjadi di kapal yang sama, menewaskan total 15 orang pekerja dan melukai puluhan lainnya. Diketemukan tragedi maut itu terjadi di Kapal Floating Storage and Offloading (FSO) Federal II di PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji, Batam, tentu hal ini menyisakan duka panjang bagi para pekerja galangan dan keluarga mereka.

Kini, muncul pertanyaan besar: apakah mereka benar-benar korban kecelakaan kerja murni, atau korban dari kelalaian penerapan Keselamatan Kerja (K3)?

Tragedi Pertama: Ledakan Juni 2025, Empat Pekerja Tewas

Ledakan pertama terjadi pada Selasa, 24 Juni 2025, pukul 14.00 WIB, di tangki kapal Federal II yang sedang menjalani perbaikan. Dentuman keras terdengar hingga radius satu kilometer dari area galangan PT ASL Shipyard.

Empat pekerja subkontraktor PT Manchar Marine Batam (MMB) dan PT Ocean Pulse Solution (OPS) tewas seketika:

  • Gunawan Sinulingga (46), warga Kibing, Batuaji.

  • Hermansyah Putra (30), warga Tanjung Uban Utara, Bintan.

  • Berkat Setiawan Gulo (22).

  • Janu Arius Silaban (24), asal Tapanuli Tengah.

Sementara lima lainnya luka-luka, termasuk Upik Abdul Wahid (32) yang mengalami luka bakar hampir di seluruh tubuh.

Polresta Barelang saat itu langsung melakukan penyelidikan awal. Dugaan kuat mengarah pada prosedur kerja panas (hot work) di dalam tangki tanpa sistem ventilasi memadai.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian, menegaskan bahwa pihaknya menelusuri dugaan kelalaian.

“Kami dalami kemungkinan adanya pelanggaran SOP kerja di area terbatas (confined space). Tim Labfor Polri juga sudah turun memeriksa sisa material ledakan,” ujarnya, Rabu (25/6/2025).

Tragedi ini semestinya menjadi peringatan keras bagi manajemen PT ASL Shipyard. Namun, empat bulan kemudian, sejarah kelam itu berulang dengan korban yang lebih banyak.

Tragedi Kedua: Ledakan Oktober 2025, 11 Nyawa Kembali Melayang

Hanya berselang empat bulan, pada Rabu subuh, 15 Oktober 2025, ledakan kembali mengguncang kapal Federal II di lokasi yang sama. Kali ini, dampaknya jauh lebih parah: 31 orang menjadi korban, 11 di antaranya meninggal dunia.

Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safrudin turun langsung ke lokasi bersama Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin. Mereka meninjau tempat kejadian serta menjenguk korban di RS Mutiara Aini, RSUD Embung Fatimah, dan RS Elisabet Batu Aji.

“Untuk penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan. Tim Reskrim baik Polresta Barelang maupun Ditreskrimum Polda sedang bekerja untuk mengetahui penyebab pasti kejadian ini,” ujar Asep.

“Apabila ditemukan adanya unsur kelalaian yang mengakibatkan orang meninggal dunia, maka kita akan proses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Polda Kepri mencatat 11 korban meninggal dunia di berbagai rumah sakit. Sebagian besar korban adalah pekerja borongan dan subkontraktor yang ditugaskan memperbaiki tangki serta sistem perpipaan di dalam kapal.

K3 di PT ASL: Himbauan, Bukan Sanksi

Meski dua tragedi terjadi dalam waktu berdekatan, Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Kepri belum memberikan sanksi administratif ataupun penghentian operasional terhadap PT ASL Shipyard.

Kepala Disnaker Kepri, Dicky Wijaya, hanya menyampaikan himbauan terkait pentingnya penerapan sistem K3.

“Kami sedang melakukan investigasi mendalam terkait penerapan keselamatan kerja (K3) dari PT ASL,” ujar Dicky kepada Batamnews.co.id, Kamis (16/10/2025).

“Kejadian kemarin ini yang kedua kalinya. Hal ini menjadi perhatian kita semua terkait sistem dan penerapan K3 terhadap pekerja di PT ASL,” tambahnya.

Dicky juga menegaskan bahwa seluruh korban telah terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan dengan jaminan pendidikan bagi anak korban meninggal. Namun, ia tak menjawab apakah ada sanksi yang akan dijatuhkan kepada perusahaan jika terbukti lalai.

“Kami menunggu hasil penyelidikan kepolisian untuk mengetahui apakah ada pelanggaran dalam penerapan standar K3,” ucapnya.

Pola Pelanggaran yang Berulang

Dari hasil penelusuran Batamnews.co.id, kedua insiden di kapal Federal II memiliki pola yang serupa:

  1. Pekerjaan dilakukan di area tertutup tanpa ventilasi memadai.

  2. Ada aktivitas pengelasan dan pemotongan logam di dalam tangki bahan bakar.

  3. Diduga tidak ada pengawasan langsung dari petugas K3 perusahaan utama.

Salah satu korban selamat, Alatas Manopan Silaban (31), menuturkan kepada penyidik bahwa sebelum ledakan, mereka sudah mencium bau gas kuat di dalam tangki.

“Sudah sempat kami bilang ada bau menyengat, tapi pekerjaan tetap lanjut. Setelah itu tiba-tiba meledak,” ujarnya dengan suara lirih di ruang perawatan RS Mutiara Aini.

Keterangan ini memperkuat dugaan adanya pelanggaran standar OHSAS dan Permenaker No. 5 Tahun 2021 yang mewajibkan mitigasi risiko kerja serta izin kerja khusus untuk area berbahaya.

Antara Laka Kerja dan Kelalaian

Dua tragedi di kapal Federal II tidak bisa lagi disebut sebagai “musibah biasa.” Fakta bahwa kedua ledakan terjadi di lokasi dan objek yang sama menunjukkan adanya pengulangan fatal akibat kelalaian penerapan K3.

Meski PT ASL Shipyard belum mengeluarkan pernyataan resmi, sikap bungkam manajemennya memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Ketika ditanya oleh awak media, Kenneth, Manajer PT ASL, hanya menjawab singkat:

“I don’t know about this (Saya tidak tahu soal ini),” ujarnya saat dikonfirmasi Batamnews.co.id.

Padahal publik, para pekerja, dan keluarga korban berhak tahu: apakah 15 nyawa itu benar-benar meninggal karena takdir, atau karena kelalaian yang bisa dicegah.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :