Refleksi Hari Olahraga Nasional 9 September

Negara, Olahraga, dan Kesehatan Masyarakat

Negara, Olahraga, dan Kesehatan Masyarakat

Raja Dachroni. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Raja Dachroni

Olahraga dan kesehatan masyarakat merupakan dua elemen fundamental yang menentukan kualitas sebuah bangsa. Sejarah mencatat bahwa negara-negara yang kuat bukan hanya ditopang oleh ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh masyarakat yang sehat, bugar, serta memiliki daya juang tinggi. Dalam konteks inilah, negara memiliki kewajiban untuk hadir, terlibat, dan memberikan dukungan penuh terhadap olahraga dan kesehatan masyarakat. Bukan hanya sebagai aktivitas rekreasi atau prestasi semata, olahraga sejatinya adalah investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang sehat jasmani, tangguh mental, dan disiplin moral.

Kesehatan masyarakat pun menjadi salah satu ukuran kemajuan negara. Sebab, tanpa masyarakat yang sehat, pembangunan tidak akan berjalan optimal. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari dan kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor penyebab utama meningkatnya penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung (WHO, 2020). Fenomena ini juga terjadi di Indonesia, di mana transisi gaya hidup modern sering kali membuat masyarakat semakin jauh dari aktivitas fisik.

Negara tidak bisa berpangku tangan menghadapi tantangan tersebut. Melalui regulasi, kebijakan publik, serta penyediaan fasilitas olahraga yang merata, negara dapat mendorong masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai budaya sehari-hari. Peran negara menjadi krusial, sebab tanpa keberpihakan pemerintah, olahraga berpotensi hanya menjadi konsumsi kelompok tertentu, sementara sebagian besar masyarakat justru tidak memiliki akses memadai.

Peringatan Hari Olahraga Nasional setiap tahun harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Momentum ini adalah pengingat bahwa olahraga adalah hak setiap warga negara, bukan hanya milik atlet atau komunitas tertentu. Negara harus memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat, dari desa hingga kota, dari anak-anak hingga lansia, memiliki kesempatan untuk bergerak, berolahraga, dan hidup sehat. Dengan demikian, olahraga dan kesehatan masyarakat bukan sekadar isu teknis, tetapi bagian dari strategi nasional membangun bangsa yang berdaya saing tinggi.

Menyoal Komitmen Negara

Meskipun negara telah memiliki komitmen dalam bidang olahraga dan kesehatan masyarakat, tantangan yang dihadapi masih cukup kompleks. Pertama, masalah kesenjangan akses terhadap fasilitas olahraga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kota-kota besar memang relatif memiliki infrastruktur olahraga yang memadai, namun di wilayah pedesaan atau daerah tertinggal, masyarakat sering kali tidak memiliki lapangan olahraga yang layak, apalagi fasilitas modern. Hal ini menciptakan ketidaksetaraan dalam kesempatan berolahraga (Kemenpora, 2022).

Kedua, budaya olahraga di masyarakat masih belum terbentuk secara kuat. Banyak orang masih menganggap olahraga sebagai aktivitas tambahan, bukan kebutuhan pokok. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya gaya hidup sedentari akibat kemajuan teknologi, di mana waktu lebih banyak dihabiskan di depan layar gawai atau televisi dibandingkan bergerak aktif. Rendahnya kesadaran ini berdampak langsung pada meningkatnya kasus penyakit degeneratif yang seharusnya bisa dicegah dengan olahraga teratur (Kemenkes RI, 2021).

Ketiga, orientasi kebijakan olahraga di Indonesia masih cenderung berat pada olahraga prestasi. Meskipun prestasi internasional penting sebagai kebanggaan bangsa, tetapi perhatian yang lebih besar seharusnya juga diberikan pada olahraga masyarakat. Tanpa masyarakat yang sehat dan aktif, sulit bagi negara untuk melahirkan atlet-atlet tangguh secara berkesinambungan. Dengan kata lain, pembinaan olahraga prestasi harus berjalan beriringan dengan pembudayaan olahraga masyarakat.

Keempat, rendahnya alokasi anggaran juga menjadi masalah serius. Anggaran untuk olahraga masih sering ditempatkan pada posisi sekunder dibandingkan sektor lain. Padahal, investasi dalam olahraga dan kesehatan masyarakat dapat mengurangi beban negara di bidang kesehatan. Studi kesehatan publik membuktikan bahwa setiap satu dolar yang diinvestasikan dalam pencegahan melalui olahraga, dapat menghemat hingga beberapa kali lipat biaya pengobatan penyakit (Bauman et al., 2016).

Selain itu, peran dunia pendidikan juga tidak boleh diabaikan. Mata pelajaran pendidikan jasmani di sekolah sering kali dianggap sebagai pelengkap, bukan prioritas. Padahal, sekolah adalah tempat strategis untuk menanamkan budaya olahraga sejak dini. Jika negara tidak mampu menempatkan olahraga dalam kurikulum dengan porsi yang proporsional, maka sulit mengharapkan generasi muda tumbuh menjadi individu yang sehat, kuat, dan berdaya saing.

Sebuah Renungan

Hari Olahraga Nasional harus menjadi momentum refleksi sekaligus evaluasi tentang sejauh mana negara hadir dalam memastikan kesehatan masyarakat melalui olahraga. Olahraga bukan hanya tentang kemenangan di arena kompetisi, tetapi juga tentang bagaimana seluruh warga memiliki kesempatan untuk hidup sehat, aktif, dan produktif. Negara memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk menyediakan kebijakan yang berpihak, fasilitas yang memadai, serta anggaran yang cukup bagi pengembangan olahraga masyarakat.

Dari berbagai masalah yang telah diuraikan, jelas bahwa tantangan utama ada pada kesenjangan akses, rendahnya budaya olahraga, orientasi kebijakan yang berat sebelah, serta minimnya anggaran. Untuk mengatasinya, negara perlu merumuskan strategi yang lebih holistik. Pertama, pemerintah harus memperluas pembangunan fasilitas olahraga publik yang bisa diakses gratis atau dengan biaya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kedua, program edukasi kesehatan dan olahraga harus digencarkan, baik melalui sekolah, kampanye media, maupun komunitas lokal.

Ketiga, perlu adanya keseimbangan antara olahraga prestasi dan olahraga masyarakat. Kebijakan harus memastikan bahwa perhatian tidak hanya pada segelintir atlet nasional, tetapi juga pada jutaan warga biasa yang membutuhkan ruang untuk bergerak. Dengan membudayakan olahraga di masyarakat, justru akan lahir bibit-bibit atlet potensial yang tumbuh secara natural dari basis yang sehat dan aktif.

Keempat, alokasi anggaran untuk olahraga harus dipandang sebagai investasi, bukan beban. Jika negara serius membangun generasi yang sehat, maka biaya kesehatan akibat penyakit tidak menular dapat ditekan. Dalam jangka panjang, hal ini juga akan meningkatkan produktivitas nasional.

Akhirnya, olahraga dan kesehatan masyarakat harus ditempatkan sebagai prioritas strategis dalam pembangunan bangsa. Peringatan Hari Olahraga Nasional adalah kesempatan untuk menegaskan kembali komitmen negara bahwa masyarakat yang sehat adalah fondasi bangsa yang kuat. Sebab tanpa masyarakat yang bugar jasmani, sehat rohani, dan kuat mental, mustahil Indonesia bisa melangkah jauh dalam persaingan global.

Penulis adalah Ketua Komunitas Peduli Kampung Sendiri (KPKS) Tanjungpinang.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait