Andai Malaya Adalah Wilayahnya Indonesia
Abang Mat di Masjid Tengku.
Oleh: Abang Mat
MALAYA... wilayah yang sangat makmur di dunia. Kemakmurannya bisa dilihat pada megahnya pusat pemerintahannya di Putrajaya, ringgitnya yang cenderung kuat, dan begitu banyaknya orang dari Indonesia yang datang untuk bekerja. Tapi pernahkah kita membayangkan andai dulu Malaya dijadikan wilayahnya Indonesia? ... seperti Sumatra contohnya. Apa yang akan terjadi dengan mereka? ... anggaplah wilayah Malaya yang besar itu dibagi menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Malaya Utara dan Provinsi Malaya Selatan. Bagaimana nasib mereka? ...
1. Malaysia yang mengamalkan sistem monarki konstitusional dengan banyak raja itu dipastikan tidak boleh meneruskan kerajaan-kerajaannya yang tetap berkuasa sampai sekarang, mulai dari Johor sampai Perlis. Karena di wilayah Indonesia, satu-satunya kerajaan yang boleh berkuasa hanya lah raja Yogjakarta. Jadi raja-raja di Malaya itu akan sama nasibnya dengan raja-raja Melayu di Sumatra Timur seperti Sultan Deli dan Sultan Siak. Apabila orang Malaya ingin meneruskan kekuasaan kerajaan di provinsinya sendiri, maka semua pelakunya akan difitnah sebagai pemberontak, dan pasti diberantas.
2. Gabungan semua anggota parlemen dari wilayah Malaya tidak akan bisa menjadi yang terbanyak atau terbesar di parlemen pusat Indonesia, karena yang terbanyak adalah gabungan anggota parlemen yang berasal dari wilayah pulau Jawa. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat di Malaya memang tidak sebanyak masyarakat di pulau Jawa. Dan pembuatan aturan yang tidak adil yang dikendalikan oleh pejabat-pejabat di pemerintah pusat pada awal kemerdekaan. Dampaknya adalah pihak Malaya tidak akan pernah bisa memastikan semua kehendak politiknya pasti terwujud atau langsung terwujud.
3. Tak akan ada ibukota Malaya seperti yang sekarang. Dipenuhi dengan gedung-gedung megah dan gemerlap cahaya yang menerangi seluruh kota pada malam hari. Kota-kota utama di Malaya, seperti Johor Bahru dan George Town paling jauh perkembangan pembangunannya hanya lah akan sebatas kota-kota di pulau Sumatra. Tak akan ada jalan raya yang langsung menghubungkan wilayah selatan Malaya sampai ke wilayah utara Malaya, setidaknya sampai di zamannya Joko. Banyak prasarana-prasarana dasar yang tidak ada dan tidak layak, bahkan walau di kota setingkat ibukota.
4. Semua sumber daya alam (kekayaan alam) Malaya, minyak sampai timah, mulai dari Johor sampai Perlis akan dikuasai penuh (manfaatnya) oleh pemerintah pusat di Jakarta sampai habis. Dipakai untuk pembangunan Jakarta dan membiayai kehidupan pejabat-pejabat negara di Jakarta. Kecuali sejak zaman otonomi daerah baru lah ada sedikit penambahan dana untuk setiap provinsi di Malaya. Hasil lain yang di dapat provinsi-provinsi di Malaya dari semua penambangan itu adalah alam yang rusak, yang tidak akan pernah menjadi secantik dan seselamat asli nya lagi.
5. Menara Petronas. Karya seni terindah yang pernah ada di Asia, tidak akan pernah ada di Malaya. Karena hampir semua duit hasil kekayaan alam Malaya dan pajak Malaya dipakai untuk pembangunan proyek-proyek pemerintah pusat. Pengutamaan Jakarta tetap di abadikan demi mencegah munculnya kota-kota sehebat Sydney di provinsi-provinsi lain, termasuk Malaya. Tanpa bermaksud takabur, sampai dunia kiamat pun tidak akan pernah ada monumen hebat di Malaya. Sama keadaannya seperti Sumatra dan Papua yang kaya alamnya tapi tak ada satu pun monumen hebat di wilayah-wilayahnya.
6. Malaya akan penuh sesak dengan berdatangannya pendatang dari pulau Sumatra dan pulau Jawa yang datang untuk bekerja. Dalam keadaan seperti sekarang yang berdaulat, Malaya tetap kedatangan berjuta-juta pendatang dari Indonesia, apalagi andai Malaya hanya lah provinsi di Indonesia. Hal ini selanjutnya berdampak pada terciptanya banyak masalah antara pendatang dari Indonesia dengan pribumi Malaya, karena tak dibuatnya aturan yang adil untuk pribumi. Dan pada akhirnya menjadi terhambatnya pembangunan-pembangunan penting di setiap provinsi, serta semakin tertinggalnya wilayah Malaya.
7. Berita-berita di televisi-televisi Malaysia setiap harinya akan penuh diisi dengan berita-berita yang terjadi di kota-kota besar di pulau Jawa, Jakarta khususnya. Secara khusus adalah berita-berita tentang perpolitikan Indonesia ditingkat pusat, biasanya adalah berita tentang perebutan jabatan dan berita tentang pengungkapan kasus-kasus korupsi. Diluar berita-berita ini adalah berita tentang kejahatan dan kemalangan yang terjadi di pulau Jawa, khususnya di Jakarta. Berita-berita tentang yang terjadi di Malaya hanya sekali-sekali muncul di tv nasional.
8. Suku Melayu tak akan bisa menjadi presiden Indonesia. Walaupun didukung oleh semua orang Melayu di Kepulauan Riau. Karena sangking kokohnya penguasaan suku Jawa di Indonesia. Bukan hanya di lembaga-lembaga pemerintah pusat tapi juga di parlemen, di BUMN, sampai di ketentaraan. Bahkan sampai ke provinsi-provinsi rantauannya. Bahkan untuk jabatan gubernur pun, baru sejak zaman otonomi daerah lah bisa dijalani pribumi Malaya. Itupun harus dengan bertanding melawan politisi-politisi pendatang lewat pilgub, di provinsi-provinsi yang banyak pendatangnya. Seperti Johor dan Selangor.
9. APBD (anggaran tahunan provinsi) untuk provinsi-provinsi di Malaya tak akan sebesar sekarang saat menjadi Malaysia. Karena sepenting apapun wilayah Malaya, tetaplah dianggap tidak lebih penting dibanding wilayah provinsi-provinsi yang ada di pulau Jawa yang padat. Provinsi di Malaya yang mempunyai banyak kesempatan untuk berjaya seperti Johor dan Penang, tak akan bisa semaju sekarang. Apalagi membayangkan Johor seperti Singapura, sangat tidak mungkin. APBD provinsi-provinsi di Malaya tidak lah akan jauh berbeda dengan APBD provinsi-provinsi di pulau Sumatra.
10. Gaji bulanan yang kecil bagi orang-orang yang bekerja mengandalkan UMP, walau sebanyak apapun pabrik di Johor dan Selangor. Bahkan di Batam dan Jakarta yang upah bulanannya di anggap besar pun, hanya cukup untuk keperluan hidup sebulan seorang yang belum menikah. Hal ini pada akhirnya bisa membuat pribumi Malaya merantau mencari kerja, misalnya ke Jakarta dan Batam. Atau yang lebih parah lagi ke Hongkong dan Taiwan. Hal ini tentu menyedihkan, karena mengingat malaya sebagai sebuah wilayah yang kaya alamnya dan banyak kesempatan besar untuk berjaya.
Sepuluh hal ini sudah tentu tidak dinginkan semua orang Melayu di Malaya terjadi pada mereka. Karena sudah jelas ini semua sangat tidak adil dan terlalu banyak mudaratnya. Oleh sebab itu sudah sewajarnya lah orang-orang Melayu di Malaya sangat bersyukur dengan keadaan mereka sekarang, dengan takdir yang mereka dapat. Yaitu bukan bagian dari wilayahnya republik Indonesia. Karena dengan berkeadaan seperti sekarang bisa membuat mereka sejaya suku-suku di Eropa, seperti suku Belanda dan suku Jerman contohnya. Dengan semua hak dan wewenang yang ada.
Penulis adalah penggemar cerita lorong waktu dan kiamat sudah dekat. Penikmat suara hujan dan pisang goreng. Pembaca majalah HAI dimasa mudanya.

Komentar Via Facebook :