Kisah Sebuah Zaman
Istana Sultan Deli.
Oleh: Abang Mat
Sering terlintas dalam pikiran saya di sekali-sekali waktu, kehidupan orang melayu di sumatra timur zaman dulu. Disaat sedang jaya-jayanya, pada rentang waktu tahun 1860 sampai 1945. Ini menjadi memori istimewa yang tetap hidup dalam pikiran saya sampai saya dewasa. Dan entah kenapa, menumbuhkan perasaan khusus dalam diri saya. Padahal saya tak pernah kesana, sampai tahun 2012. Saya tidak pernah berada di dalamnya tapi saya merasa itu adalah bagian dari diri saya.
Memori ini saya dapat dari ketidaksengajaan saya waktu kecil yang suka menonton tv. Di sebuah acara tv di TVRI seingat saya, ditampilkan sekelompok lelaki dan wanita menari di depan sebuah istana yang sangat cantik pada malam hari. Dengan pakaian yang indah, gerak tari yang menarik, dan irama musik yang sangat bagus. Yang saya tak tau namanya, tapi sering teringat dalam benak saya. Selesai mereka menari, para penari saling bercakap membahas suatu persoalan di dekat jendela istana, sambil berpantun. Inilah modal memori saya sampai saya dewasa.
Disaat saya beranjak dewasa, sedikit demi sedikit baru saya tau ternyata istana yang cantik itu bernama istana maimun. Milik keluarga kesultanan deli dan bertempat di medan. Sebuah kota di pulau sumatra yang sangat jauh dari kampung halaman saya di batam. Saya juga mulai tau dari seringnya liputan-liputan di televisi tentang istana ini yang sering menjadi berita utama, karena menjadi tujuan utama turis di medan. Tapi waktu itu saya tetap tak betul-betul mengikuti beritanya karena disaat yang bersamaan saya sedang fokus dengan peradaban barat, khususnya eropa.
Baru pada tahun 2009 lah, dalam keseharian saya berselancar di google, saya menemukan blog yang sangat penting dalam hidup saya. Dan bisa saya anggap, berpengaruh. Semua isinya memberitakan tentang suku melayu di sumatra timur pada puncak kejayaannya. Yaitu blog nya M Muhar Omtatok, seorang budayawan melayu di medan. Blog nya masih bisa dilihat sampai sekarang, walau sudah ada banyak perubahan. Maksud saya, foto-foto yang saya lihat dulu, sudah tidak ada lagi satu pun. Tak tau kenapa.
Di blog nya diperlihatkan dengan jelas, semua foto suku melayu di sumatra timur pada zaman dulu. Foto istana-istana, foto penobatan tengku mahkota, foto pernikahan bangsawan, foto pidato sultan, foto kunjungan kenegaraan sultan, foto pesta rakyat, foto sultan bertahta di singgasana, dan ratusan foto bersejarah lainnya yang sangat membuat saya terharu bangga. Di antara semua foto itu, yang paling istimewa bagi saya adalah foto penandatanganan perjanjian politik antara belanda dengan semua kesultanan melayu di sumatra timur, pada tahun 1938. Di rumah residen sumatra timur di medan. Yang merupakan perjanjian politik terakhir antara belanda dengan melayu, sebelum perang dunia kedua pecah.
Dari sana saya mulai tau bahwa ada banyak negara melayu di sumatra timur pada zaman dulu. Mulai dari Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Kota Pinang, Kualuh Leidong, Siak Sri Indrapura, dan Pelalawan. Semua kesultanan ini mempunyai dua kesamaan, yaitu mereka semua kaya raya dan berperadaban tinggi. Masing-masing terkenal pada masa itu. Tapi yang paling terkenal adalah kesultanan Deli, karena wilayahnya yang berada di ibukota karesidenan sumatra timur. Dan kesultanan-kesultanan ini, jauh lebih kaya daripada semua kesultanan di semenanjung Malaya pada masa itu.
Ada kebanggaan setiap melihat semua foto-foto itu. Ditambah lagi dengan gelar Sultan Deli yang terdengar hebat di telinga saya, yaitu Perkasa Alamsyah. Terasa sangat istimewa. Saya salut waktu itu bung muhar bisa mempunyai foto-foto bersejarah sebanyak itu. Tak cuma mendapat wawasan tentang suku melayu di sumatra timur dari blog nya, tapi saya juga banyak mendapatkannya dari bahan bacaan saya. Seperti dari buku-buku, koran, majalah, artikel-artikel di internet yang menceritakan tentang sumatra timur. Termasuk artikel-artikel di majalah-majalah lama, misalnya di majalah kartini dan tempo. Saya baca semuanya, sangking semangatnya. Bahkan sampai saya simpan.
Dari sini, saya mulai bersungguh-sungguh meneliti sejarah melayu, di sumatra timur khususnya. Hampir setiap hari, selama bertahun-tahun. Setiap ada waktu kosong dan setiap saya internetan, pasti sumatra timur menjadi salah satu dari pilihan saya. Siang dan malam pikiran saya waktu itu hanya terbayang dengan gedung-gedung cantik yang ada disana. Hasilnya adalah banyak fakta memikat dan penting yang saya dapati dari semua penelitian saya selama ini. Dan fakta-fakta ini tak pernah dibahas di depan umum karena tak ada yang tau.
Saya sadar, yang membuat saya mempunyai perasaan khusus dengan memori masa kecil saya adalah karena peradaban yang saya lihat itu sangat bagus dalam ingatan saya. Dan beruntungnya saya karena mereka dengan saya adalah satu suku yang sama, ada ikatan perasaan. Tanpa saya kira, setelah saya lulus kuliah, saya ditakdirkan mengunjungi ibukota sumatra timur. Jadi saya bisa melihat langsung sisa-sisa keagungan peradaban mereka tempo dulu. Setelah pulang dari sana, foto-foto lama peradaban mereka saya cetak sampai beralbum-album.
Fakta-fakta yang saya dapatkan dari hasil penelitian saya, diantaranya adalah Sumatra Timur, yang berstatus karesidenan dalam pemerintahan hindia belanda, ternyata adalah wilayah terkaya di hindia belanda. Disebabkan sangking banyaknya bisnis pemodal-pemodal barat pada zaman itu. Bisnis yang paling utama pada zaman itu adalah bisnis perkebunan, yang diawali dari perkebunan tembakau di wilayahnya kesultanan deli. Yang digagas oleh Jacob Nienhuys. Bekerja sama dengan Sultan Deli, sebagai tokoh pertama dari kalangan suku Melayu yang membuat perjanjian bisnis dengan pengusaha eropa.
Selanjutnya, semua kejayaan bisnis pemodal barat ini berdampak kepada menjadi kaya rayanya semua kesultanan di sumatra timur pada waktu itu. Terutama di kalangan bangsawannya. Istana adalah lambang kekayaan setiap kesultanan. Semua istana dibuat oleh arsitek yang disewa langsung dari belanda dan jerman, demi menghasilkan karya seni yang membanggakan. Semua sultan mendirikan gedung-gedung yang cantik. Mulai dari istana, mesjid raya, sekolah, perkedaian, dan mahkamah. Termasuk bermunculannya banyak kota baru di wilayah kesultanan. Seperti brandan, binjai, medan, bandar khalifah, dan kisaran. Hal ini membuat semua rakyat sangat mencintai keluarga bangsawan. Rakyat hidup serba cukup.
Kesultanan berperan besar dalam mensejahterakan rakyat. Diantaranya adalah dengan menyediakan pendidikan gratis, rumah, dana hari tua, dana naik haji, prasarana umum yang setara dengan di negara-negara eropa, bahkan sampai keperluan makanan bulanan, dan bermacam-macam kebijakan kesultanan yang sangat peduli kepada rakyatnya. Kekayaan kesultanan yang melimpah itu banyak berasal dari bisnis perkebunan dan perminyakan, disalurkan untuk kepentingan rakyatnya. Karena dalam ajaran melayu kuno, raja hanya lah pengelola negara, tapi negara adalah milik rakyat. Dalam hal ini, yang dinamakan rakyat kesultanan adalah suku melayu. Orang yang berketurunan melayu, berayah suku melayu.
Fakta selanjutnya, Belanda di nusantara membuat kebijakan yang berbeda pada wilayah suku melayu. Di wilayah suku melayu, belanda tidak menjajah secara langsung. Seperti yang belanda lakukan pada wilayah barat sumatra. Di wilayah-wilayah melayu, Belanda bertindak sebagai satu-satunya negara sahabat bagi semua kesultanan melayu. Dengan menganugerahkan status sebagai zelfbesture landschapen kepada semua wilayah suku melayu, atau dengan kata lain adalah "wilayah berpemerintahan mandiri". Keputusan ini dibuat setelah bertahun-tahun pengelana dan pengusaha belanda tinggal di wilayah suku melayu, sebelum semua kesultanan itu digabungkan ke dalam pemerintahan hindia belanda.
Dengan berstatus begini, artinya semua kesultanan melayu tetap merdeka, walau tidak merdeka 100%. Belanda hanya berkuasa dibidang hubungan luar negeri dan pertahanan keamanan. Terlepas dari dua bidang ini, semua urusan negara adalah wewenang kesultanan. Mulai dari tanah, pemerintahan dalam negeri, sampai pengadilan. Dan belanda, hanya menempatkan seorang penasehat sultan sebagai perwakilannya di ibukota kesultanan. Dengan merangkap jabatan sebagai seorang residen. Seumpama duta besar. Dalam hukum internasional, hubungan persekutuan ini diistilahkan dengan protectorate state.
Pada masa ini, saat saya sedang giat-giatnya meneliti, saya menjadi pecinta arsitektur melayu. Karena dalam pandangan saya, arsitektur suku melayu adalah yang tercantik di antara semua suku di nusantara. Setelah saya juga meneliti budaya semua suku di nusantara. Mulai dari aceh, minang, sampai maori. Dan diantara semua istana kesultanan di sumatra timur, istana kesultanan serdang lah yang tercantik dalam pandangan saya. Istana ini arsitekturnya terilhami dari gaya rumah tradisional suku melayu, yang biasa dijumpai di perkampungan-perkampungan melayu.
Fakta memikat lainnya dari hasil penelitian saya adalah medan pada masa lalu merupakan pusat politik melayu, di pulau sumatra. Disaat pekan baru masih banyak hutan belantara dan hanya ada beberapa perkampungan kecil di tepi sungai, medan sudah menjadi sebuah kota berstatus internasional yang semaju singapura, dengan masyarakatnya yang beragam. Termasuk orang china dan orang india. Bukan hanya orang melayu dan orang belanda. Serta semua orang dari luar wilayah kesultanan yang bekerja dengan belanda, misalnya orang jawa dan orang banjar. Terlihat dari penataan pusat kota tuanya yang terbagi antara wilayah melayu, wilayah belanda, dan wilayah china. Pada zaman itu, orang-orang batak belum datang dari tapanuli.
Fakta memikat lainnya adalah, sangking baiknya semua sultan kepada rakyatnya, dalam peraturan utama kesultanan, orang melayu tidak dibolehkan terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang dalam pandangan sultan, bukan untuk orang melayu. Misalnya bekerja menjadi buruh di perkebunan asing, tidak ada orang melayu. Apalagi yang membangun jalan dan rel kereta misalnya. Tidak ada. Karena memang tidak dibolehkan oleh pihak kesultanan. Kecuali mendirikan rumah dan membuat kapal. Karena ini melambangkan citra kesultanan. Kebanggaan bagi setiap sultan.
Setelah cukup lamanya zaman kejayaan itu berjalan, mencapai tiga generasi, peta politik di asia tenggara berubah, zaman itu pun berakhir. Diawali saat jepang menghancurkan tatanan politik yang telah dibuat belanda di semua kesultanan itu. Dan diakhiri dengan dirampasnya hampir semua perusahaan belanda oleh pemerintah republik indonesia pada tahun 1958, setelah pemerintahan sukarno hatta mengkhianati perjanjian kemerdekaan. Keadaan ini sempat diselingi dengan pemberontakan 3 maret 1946 yang disebabkan ke iri dengkian kaum pendatang kepada kaum bangsawan, yang mengakibatkan hilangnya banyak istana. Dan kemudian diselingi dengan berdirinya negara sumatra timur pada tahun 1948 oleh Tengku Mansur.
Sejak dikhianatinya konferensi meja bundar oleh pihak unitaris dan dipaksa bergabungnya wilayah provinsi sumatra timur ke dalam provinsi republik indonesia oleh tokoh kesatuan mohamed hatta, tanah-tanah milik kesultanan banyak yang dirampas oleh negara lewat tangan BUMN, dengan dukungan penuh TNI. Sejak saat itu kesultanan bisa dikatakan kehilangan semua sumber pembangunan negeri dan rakyatnya. Tak seperti di saat Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah mendirikan kota medan. Pemodal-pemodal barat pun keluar satu demi satu dari sumatra timur.
Pada hari ini, kita hanya bisa melihat istana maimun sebagai peninggalan utama dari warisan peradaban masa lalu sumatra timur. Istana maksum yang jauh lebih megah itu sudah terkorban pada masa pemberontakan tahun 1946. Begitu juga istana darul aman di langkat dan istana darul arif di serdang. Saat kita merasa tidak cukup puas dengan semua peninggalan yang ada disana, maka istana sultan siak lah yang menjadi penghibur disaat kita berduka merindukan semua istana yang telah tiada itu, as shireya al hasyimea namanya. Mesjid raya Al Mahsun dan mesjid raya Al Osmani menjadi pelengkap kepingan-kepingan cerita manis kejayaan zaman keemasan itu, yang bisa membuat kita terharu sedih saat mengenangnya.
Meskipun begitu, garis langsung keturunan sultan tetap terjaga sampai sekarang. Setiap hari raya aidil fitri, semua masyarakat muslim di medan biasanya solat bersama dengan sultan di mesjid raya peninggalan datoknya. Dan berkunjung ke istana demi menjunjung duli kepada sultan. Terbayang andai semua kesultanan di sumatra timur tetap berdaulat sampai sekarang, seperti brunei misalnya, entah sudah secantik apa kota-kota di sumatra timur sekarang jadinya. Bahkan mungkin seperti Doha dan Riyadh. Terlepas dari kenyataan ini, mesjid raya Al Mahsun tetap lah karya seni terindah yang pernah ada di indonesia sampai sekarang. Hanya orang yang benar-benar kaya, jenius, dan berselera tinggi yang mampu membuatnya.
Beginilah pandangan pribadi saya tentang wilayah sumatra timur, yang begitu berjaya dan istimewa pada zaman dulu, sebelum dijajah indonesia sejak tahun 1950. Dan telah hancur lebur peradabannya karena ketidak becusan pemerintah pusat dalam mengurus negara. Pandangan yang berasal dari memori-memori singkat dimasa kecil. Dan ditelusuri dengan sangat mendalam pada masa saya berkuliah di jogjakarta.
Penulis adalah penggemar arsitektur. Dan menganggap paris sebagai kota tercantik di dunia.
Komentar Via Facebook :