Medsos dan Nilainya

Medsos dan Nilainya

Sultan Riau di Batavia, tahun 1865.

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Abang Mat 

Akhir-akhir ini banyak budak-budak Kepulauan Riau muncul di medsos... khususnya di youtube. Mereka muncul dengan kekhasannya masing-masing yang mendapatkan banyak dukungan dari dunia internasional, terutama Singapura dan Malaysia. Dua negara termaju di asia tenggara, tempat bertahtanya menara kembar dan marina bay sands. Memanfaatkan jangkauan medsos yang mendunia, mereka tampil dengan bahasa Melayu asli dan logat Melayu yang kental, yang memudahkan mereka terhubung dengan dunia internasional, bahkan sampai ke Amerika Serikat. Ini semakin mengukuhkan status bahasa Melayu sebagai bahasa terpenting kedua di dunia, karena berada di sepanjang Selat Melaka. 

Mereka diantaranya adalah Indra yang sering meliput kehidupan masyarakat di taman para penyair, Tanjungpinang. Rahul, seorang pegawai negeri yang hampir setiap hari meliput kehidupannya di Daik Lingga. Dan zul yang sering menyebrang lautan demi meliput kehidupan-kehidupan di kabupatennya, Karimun. Ada juga Michelle yang sering membahas persoalan-persoalan di Singapura dan Malaysia. Rahmat Ikhsan yang menampilkan video-video kampungnya di Batam dan petuah-petuahnya yang sering menyentuh hati. Dan yang termahsyur adalah Sopian yang meliput kisah kehidupan Nek Nia dengan Tok Atan di Bintan, yang sederhana tapi penuh cinta. Serta kisah Tok Tayeb dan Tok Kamis di Dompak, adek beradek yang setia bersama di hari tua. 

Semua budak-budak ini berperan besar dalam meningkatkan pamor (kepulauan) Riau di tingkat dunia dan semakin meningkatkan ketenaran (kepulauan) Riau sebagai provinsi yang menyenangkan untuk dijelajahi. Menjadi suara (kepulauan) Riau di pentas dunia, walau pelan. Lewat semua video mereka, masyarakat internasional menjadi tau dan semakin tau dengan keadaan provinsi Kepulauan Riau, terutama turis-turis internasional yang sedang berada di Singapura dan Malaysia. Sebuah provinsi yang aman untuk dikunjungi, cantik, dan lengkap dengan masyarakat pribuminya yang ramah, tertib, bersih, rapi, dan minat berbahasa Inggris. Hal ini berujung pada semakin banyaknya turis internasional yang datang berlibur. Khususnya di luar daerah metropolitan Batam.

Karena sudah biasa bagi turis internasional menginap di resort-resort di Batam dan berkunjung ke mall-mall di Batam, maka bersentuhan langsung dengan masyarakat pribumi (kepulauan) Riau yang bukan di Batam menjadi agenda yang memikat bagi banyak turis internasional. Melihat pembuatan Tudung Manto di Daik, pembuatan kapal di Bulang, perlombaan jong di Belakang Padang, ngopi di kedai kopi di Tanjungpinang, belanja otak-otak di Kijang, mancing ikan di Barelang, atau sekedar ikut solat Aidil alAdha di Masjid Raya Sultan Riau. Tentunya membuat turis sangat bersemangat, karena setiap perjalanan menghasilkan kesan yang istimewa. 

Hal ini sudah berjalan dengan lancar sampai sekarang, contohnya adalah seperti yang di alami Rahul, seorang budak Melayu yang sangat termahsyur di Malaysia karena kehidupannya yang memikat. Beliau sampai berkali-kali di wawancarai televisi Malaysia. Bahkan yang istimewanya lagi, beliau sampai di undang ke Malaysia dalam sebuah agenda pariwisata Malaysia. Pemahamannya yang lengkap dengan kampungnya dan sifatnya yang baik, membuatnya sampai berbelas kali kedatangan rombongan turis yang berbeda dari Malaysia ke (kepulauan) Riau, demi melihat Gunung Daik yang asli. Benar atau tidak bercabang tiga. 

Semua kebaikan yang dilakukan oleh budak-budak ini sangat mendukung kejayaan bisnis pariwisata di (kepulauan) Riau. Hotel menjadi penuh, restoran laris manis, sewa mobil lancar, kedai oleh-oleh juga banyak mendapat berkah dari kedatangan turis-turis ini, dan citra provinsi menjadi semakin baik. Singapura yang merupakan pusat turis internasional, memainkan peran penting dalam kejayaan bisnis pariwisata di (kepulauan) Riau, karena menjadi jembatan utama hampir semua turis menuju (kepulauan) Riau. Hanya 45 menit dengan kapal untuk sampai ke Batam.

Ditambah lagi dengan ikatan sejarah yang terjalin antara suku Melayu di (kepulauan) Riau, Singapura, dan Malaysia, tentu membuat perjalanan ke (kepulauan) Riau terasa semakin istimewa. Semakin kuat rasanya godaan untuk berlibur ke (kepulauan) Riau, melihat kehidupan masyarakat pribuminya yang tenang. Dan pernah senegara dalam Kesultanan Riau sebelum perjanjian London ditandatangani. Bahkan tokoh-tokoh dunia seperti Sultan Pahang dan Sultan Terengganu pun mempunyai ikatan darah dengan suku melayu di (kepulauan) Riau, karena berasal dari dinasti yang sama.

Berjejernya kedai kopi di kota tua Tanjungpinang, Tanjung Balai, dan Tanjung Batu menjadi salah satu alasan kuat untuk merasakan kehidupan masyarakat pribumi (kepulauan) Riau, yaitu suku Melayu. Sambil membaca koran daerah, turis juga bisa merasakan detak kehidupan perpolitikan daerah (kepulauan) Riau yang diceritakan dengan baik oleh pemberita, walau hanya setingkat provinsi. Misalnya pada ajang perebutan jabatan gubernur, atau membahas kunjungan kerja presiden ke (kepulauan) Riau. Apalagi bila terjumpa dengan kawan bercakap yang sedap, yang kalau bercakap tak mau kalah. Bisa jadi tambah seru dan lupa pulang. 

Dengan ditemani banyaknya sajian legendaris khas (kepulauan) Riau yang menyenangkan lidah, seperti nasi lemak, mi rebus, otak-otak, epok-epok, roti bakar srikaya, dan teh obeng, serta kopi susu, tentunya membuat turis semakin betah menghabiskan waktu berjam-jam di kedai kopi-kedai kopi yang ada di (kepulauan) Riau. Apabila turis memilih untuk tidak bersarapan di hotel. Didukung dengan harganya yang terjangkau dan suasana yang sedap di setiap kedai kopi, tentu adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi setiap turis untuk berwisata kuliner di provinsi yang istimewa ini. 

Apabila yang dipilih adalah taman para penyair, setelah puas mengelilingi kota lamanya yang tak jauh dari pelabuhan, perjalanan besoknya bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki mengelilingi Penyengat yang isinya dipenuhi beragam rumah masyarakat yang cantik dan jalan yang bersih. Solat di Masjid Raya, berfoto di istana-istana bangsawan Riau, dan mencoba makanan dalam negeri milik saudagar Melayu, seperti ikan bakarnya. Hal ini tentu membuat banyak turis semakin tak ingin meninggalkan (kepulauan) Riau cepat-cepat. Apalagi kalau menginap di rumah masyarakat pribuminya, semakin seru rasanya. Terutama saat malam hari membahas cerita-cerita P. Ramli, sambil mendengar deburan ombak di bawah sinar bulan.  

Seminggu penuh adalah waktu yang ideal untuk menjelajahi (kepulauan) Riau, bagi yang mempunyai waktu libur panjang. Atau sekurang-kurangnya tiga hari dua malam. Sebelum hari terakhir pulang ke negara masing-masing, mengakhiri liburan dengan menghabiskan hari terakhir di Batam, dengan mengelilingi kawasan pusat kota adalah pilihan yang tepat. Berfoto di depan mesjid raya dan kantor walikota, makan siang di megamall, dan sorenya pulang ke Singapura lewat pelabuhan Batam Centre. Tentunya menghilangkan rasa penat setelah sampai ke kamar tidur di rumah, saat melihat semua foto sewaktu di (kepulauan) Riau.

Ini semua menjadi pengalaman tak ternilai yang didapat semua turis selama berlibur di (kepulauan) Riau, tanah airnya suku Melayu. Menjadi kenangan istimewa di sepanjang hidup, walau mungkin hanya sekali seumur hidup. Pantai berpasir putih, berair biru jernih, dan deretan pohon kelapa yang menyejukkan, akan selalu menjadi ingatan dihati. Disinilah perlunya semua budak melayu ingat dan berterima kasih kepada semua orang jenius di Amerika Serikat yang telah menciptakan facebook, youtube, dan instagram. Karena sesungguhnya semua yang diciptakan itu tak ternilai jasanya.

---

Penulis adalah alumni UII yang berkeahlian di bidang hukum internasional. Kuliah di jogja karena menggemari Sheila on 7. Penyuka nasi goreng kambing.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :