Dari Pulau Penyangga: Kepri Terang Hanya Bualan 'Gelap di Balik Gemerlap Kota Batam'
Kondisi pemukiman warga di pulau Teluk Nipah, Galang Baru, Sembulang, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Batam, Batamnews - Siapa yang tidak mengenal Kota Batam di Provinsi Kepulauan Riau? Kota yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia ini terkenal dengan pesatnya kemajuan pembangunan.
Bahkan, banyak perantau menyebut Batam sebagai kota kedua di Indonesia yang paling diminati. Di tengah gemerlap gedung pencakar langit, hotel berbintang, dan pusat keramaian yang megah, Batam juga menyimpan sisi lain: pulau-pulau penyangga yang dihuni masyarakat asli.
Kehidupan di sana jauh berbeda dengan hingar-bingar kota, bahkan masih tertinggal dalam hal infrastruktur dasar.
Baca juga: Rekening Dorman Kena Blokir PPATK? Cek Tandanya dan Cara Buka Kembali!
Menyusuri Pulau Teluk Nipah
Pada Jumat, 1 Agustus 2025, Batamnews mengunjungi salah satu pulau penyangga yang berbatasan dengan Tanjungpinang.
Perjalanan ditempuh selama lebih dari satu jam menggunakan kapal nelayan menuju Pulau Teluk Nipah di Kelurahan Galang Baru, Kecamatan Sembulang. Pulau ini hanya berjarak beberapa mil dari ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Sesampainya di sana, tidak ada dermaga khusus. Hanya pelantar kayu lapuk yang menjadi penghubung ke pemukiman warga, yang sebagian besar rumahnya berdiri di atas air.
Listrik Hanya 7 Jam Sehari
Meski dekat dengan kota besar dan berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi, masyarakat di sini belum merasakan program "Kepri Terang" yang dicanangkan Gubernur Ansar Ahmad. Listrik hanya menyala 7 jam sehari, itupun berasal dari mesin diesel milik warga.
"Sudah sekitar dua puluh tahun saya di sini, listrik belum pernah ada. Setiap pemilu dijanjikan, tapi sampai sekarang tetap seperti ini," ujar Kasim, salah satu ketua kelompok nelayan setempat.
Menurutnya, jumlah penduduk di wilayah tersebut tidak terlalu padat, dengan 82 kepala keluarga yang tersebar di wilayah yang cukup luas.
Untuk menikmati listrik, warga harus membayar Rp9.000 hingga Rp11.000 per hari, tergantung pemakaian. "Paling murah sembilan ribu, paling mahal sebelas ribu," jelas Kasim.
Selain listrik, akses air bersih juga masih sangat terbatas. Meski memiliki sumber air, distribusinya ke rumah-rumah warga masih minim.
Baca juga: Segera Tunjuk Plt Sekda, Amsakar Pastikan Kursi Strategis Tak Kosong Lama
Kehidupan Masyarakat Asli
Mayoritas penduduk di Pulau Teluk Nipah adalah suku asli dan Tionghoa yang telah menetap turun-temurun. Mereka hidup dari hasil laut, namun fasilitas dasar seperti listrik dan air bersih masih menjadi mimpi yang jauh dari kenyataan.
Di tengah kemegahan Batam yang terus berkembang, pulau-pulau seperti Teluk Nipah menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah pemerintah dalam pemerataan pembangunan.

Komentar Via Facebook :