Waspadai Investasi Bodong di Era Digital: Jangan Sampai Jadi Korban Berikutnya

Waspadai Investasi Bodong di Era Digital: Jangan Sampai Jadi Korban Berikutnya

Rikson P. Tampubolon, S.E., M.Si. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Rikson P. Tampubolon, S.E., M.Si.

Di tengah era digital yang kian agresif, mimpi menjadi kaya secara instan tak hanya mengetuk pintu, tapi nyaris mendobrak ruang pribadi masyarakat. Bukan lewat kerja keras atau inovasi, melainkan melalui tautan aplikasi, sinyal trading, dan janji cuan fantastis dari grup Telegram.

Kasus terbaru yang menyita perhatian: ribuan warga Indonesia, termasuk di Batam, menjadi korban dugaan investasi bodong lewat aplikasi DUEX. Platform ini berkedok trading kripto signal, menjanjikan keuntungan besar, tapi hingga kini dana para investor tak bisa ditarik. Parahnya, korban justru disuruh membuka akun baru dan melakukan deposit ulang agar akunnya bisa “normal” kembali. Sebuah modus klasik dalam balutan digital.

Modus Lama, Wajah Baru

Skema DUEX sangat khas—turunan dari model Ponzi dan investasi palsu yang kini menjelma dalam rupa aplikasi modern. Platform ini menjual “signal” premium, menawarkan sistem referral dan bonus deposit, serta menjanjikan profit harian. Tapi semua hanyalah ilusi algoritma palsu. Begitu dana terkumpul dan kepercayaan dibangun, penarikan dibekukan sepihak.

Celakanya, ini bukan yang pertama, dan tentu bukan yang terakhir. Setelah DUEX, akan muncul aplikasi lain—dengan nama baru, desain baru, dan testimoni influencer baru. Tapi intinya tetap: menguras uang masyarakat, memanipulasi emosi, lalu lenyap tanpa jejak. Inilah mengapa masyarakat tak bisa hanya menunggu pemerintah; kesadaran kritis menjadi tameng utama kita bersama.

Sering kali masyarakat disalahkan karena tergoda janji manis. Padahal, ini cermin dari lemahnya literasi keuangan kita. Survei OJK (2022) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan nasional baru mencapai 49,68%. Artinya, lebih dari separuh masyarakat belum memahami risiko, instrumen, atau logika dasar investasi.

Dalam ekosistem semacam ini, “kaya cepat” terdengar seperti solusi—bukan jebakan. Apalagi di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup digital yang memamerkan kemewahan seolah tanpa proses. Akibatnya, keputusan finansial bukan lagi berbasis logika, melainkan ilusi.

Yang lebih memprihatinkan, banyak profesi—yang mestinya menjadi penjaga kewarasan publik—justru ikut terjerat. Bankir, akademisi, tokoh masyarakat, hingga pemimpin rohani tanpa sadar memberi legitimasi pada skema investasi bodong. Keikutsertaan mereka, meski mungkin tanpa niat jahat, justru memperkuat ilusi kepercayaan publik terhadap penipuan tersebut. Di sinilah tanggung jawab moral dan intelektual harus dipegang teguh oleh siapa pun yang punya pengaruh publik.

Jangan Datang Saat Sudah Terlambat

Negara tak boleh hanya bersikap reaktif. OJK, PPATK, dan aparat penegak hukum harus bertindak lebih proaktif dalam mengawasi, memverifikasi, dan menindak aplikasi keuangan digital yang mencurigakan. Tak cukup hanya memblokir platform—perlu langkah hukum terhadap pelaku yang bersembunyi di balik Telegram anonim, akun-akun influencer, dan alamat luar negeri.

Pemerintah daerah, termasuk di Batam, juga perlu menjadikan literasi keuangan dan digital sebagai agenda prioritas pembangunan SDM. Edukasi publik harus dilakukan secara masif, tak kalah penting dari kampanye bahaya narkoba atau radikalisme.

Sebagai warga negara yang cerdas dan peduli, kita semua harus menumbuhkan sensitivitas moral. Jangan mudah percaya pada janji cuan besar dalam waktu singkat, terutama yang tidak jelas legalitas dan logikanya. Ingat hukum besi dunia investasi: Semakin tinggi keuntungan yang dijanjikan, semakin besar pula risikonya. Sebaliknya, semakin kecil risiko, semakin kecil keuntungannya.

Lebih dari itu, jangan pernah mengajak orang lain—saudara, teman, rekan kantor—ikut dalam investasi yang tidak kita pahami atau ragukan legalitasnya. Mungkin niatnya baik, tapi akibatnya bisa merusak hubungan kekeluargaan, kepercayaan sosial, bahkan membuat kita ikut andil dalam rantai kejahatan digital.

Kaya Itu Proses, Bukan Keajaiban

Bangsa yang besar dibangun dengan pengetahuan dan etika. Masyarakat yang sejahtera lahir dari kesabaran, kerja keras, dan kebijakan publik yang melindungi, bukan dari tipu daya dan kebodohan massal.

Jangan biarkan Indonesia Emas 2045 dikotori oleh maraknya penipuan digital yang memiskinkan rakyatnya secara struktural. Berharap lepas dari kemiskinan dengan investasi bodong, ternyata kemiskinan semakin membelenggu.

Mari bersama bangun ekosistem keuangan yang sehat, berbasis logika, etika, dan empati. Lindungi diri sendiri dan orang terdekat dari jebakan investasi palsu. Karena pada akhirnya, yang kita pertaruhkan bukan hanya uang—tetapi masa depan.

Penulis adalah Akademisi IIBN Batam; Pengurus Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Kepri.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :