Warga Pulau Terong Bertaruh Nyawa Naiki Perahu Pancung Tanpa Pelampung, Netizen Soroti Risiko Overkapasitas
Sejumlah warga Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, terekam tengah berdesak-desakan menaiki sebuah perahu pancung bermesin tempel untuk menuju pulau seberang. (Foto: tangkapan layar video)
Batam, Batamnews – Akses transportasi laut yang terbatas di wilayah pulau kembali menjadi sorotan. Sejumlah warga Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, terekam tengah berdesak-desakan menaiki sebuah perahu pancung bermesin tempel untuk menuju pulau seberang. Pemandangan itu terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial.
Perahu pancung yang digunakan hanya berukuran kecil, namun dipadati puluhan penumpang. Ironisnya, sebagian besar dari mereka tidak mengenakan pelampung keselamatan. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius dari publik, terlebih setelah maraknya kecelakaan laut dalam beberapa waktu terakhir.
"Ini sudah jadi rutinitas kami. Kalau mau ke kota, cuma ini satu-satunya pilihan," kata seorang warga.
Video yang tersebar luas di media sosial langsung menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang mempertanyakan alasan di balik padatnya penumpang, sementara lainnya menyampaikan kekhawatiran atas keselamatan mereka.
“Ramai nyee,, ade acara ape tuu?” tanya seorang pengguna bernama Ria. “Org nikah kmaren kat Pulau Terong,” jawab akun AWi Fishing. “Penuh wak,,,,” tulis Saprizal singkat. “Batasi muatan tu sedare,” imbau Khairudin. “Padat x udah di luar kapasitas itu. Nanti kalau terjadi apa-apa malah pemilik, ABK dan lainnya yang disalahkan. Siapa yang tanggung jawab?” ujar Halimah Aliyah.
Komentar lain pun bernada kritis. “Jangan banyak-banyak penumpangnya, baru 4 hari lalu ada boat tenggelam,” ungkap Rina Wati. “Selalu overkapasitas, gak sayang nyawa kah?” sindir Ridho Adam II.
Kondisi ini mencerminkan betapa mendesaknya kebutuhan transportasi laut yang aman dan layak di daerah pulau seperti Belakang Padang. Selama ini, perahu pancung menjadi satu-satunya sarana penghubung warga dengan Kota Batam maupun pulau-pulau lainnya, meski dengan risiko tinggi.
Warga mengaku tidak punya pilihan lain. Kapal feri atau moda transportasi laut yang resmi dan aman masih sangat minim, sementara aktivitas sehari-hari, seperti berobat, sekolah, atau belanja kebutuhan pokok, tetap harus dijalani.
“Kami tidak menuntut macam-macam. Cuma minta ada kapal yang lebih besar, aman, dan beroperasi rutin. Jangan sampai harus ada korban dulu baru ditindak,” keluh warga lainnya.
Masyarakat berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, termasuk Dinas Perhubungan dan aparat keselamatan laut. Pengadaan armada penumpang yang lebih aman, pelatihan keselamatan, serta pengawasan ketat terhadap jumlah penumpang menjadi langkah mendesak yang harus segera diwujudkan.
Transportasi laut yang aman adalah hak dasar masyarakat pulau. Tanpa upaya konkret, potensi kecelakaan di perairan Batam hanya tinggal menunggu waktu.

Komentar Via Facebook :