Pare, Si Pahit Primadona Ekspor Indonesia yang Tembus Jutaan Dolar ke Singapura

Pare, Si Pahit Primadona Ekspor Indonesia yang Tembus Jutaan Dolar ke Singapura

Sayuran Pare yang banyak diminati di negara tetangga Singapura.

Nurjali

Tanjungpinang, Batamnews – Meski sering dihindari anak-anak karena rasanya yang pahit, pare justru menjadi salah satu komoditas pertanian dengan nilai ekonomis tinggi. 

Sayuran ini banyak dibudidayakan petani di wilayah Kepulauan Riau dan menjadi andalan ekspor Indonesia ke sejumlah negara, termasuk Singapura dan Arab Saudi.  

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) Kementerian Perdagangan menunjukkan, nilai ekspor pare Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir. 

Pada 2023, ekspor pare mencapai rekor tertinggi dengan nilai US$ 1,94 juta dan volume 1.646 ton. Angka ini melampaui capaian tahun sebelumnya yang hanya 944 ton.  

Baca juga: Sukses Rebranding, RM Pagi Sore Ekspansi ke Surabaya di Tengah Kontroversi Kahyangan

Namun, di tahun 2024, terjadi penurunan nilai ekspor menjadi US$ 1,33 juta, meski volumenya tetap tinggi, yakni 1.243 ton. Penurunan ini diduga akibat tekanan harga di pasar global atau meningkatnya pasokan lokal di negara tujuan.  

Singapura menjadi importir terbesar pare Indonesia, dengan nilai pembelian mencapai US$ 1,46 juta (75% dari total ekspor) pada 2023. Selain Singapura, Arab Saudi dan Taiwan juga menjadi pasar tetap pare Indonesia, terutama untuk kebutuhan komunitas Asia dan pengobatan tradisional.  

Permintaan pare bersifat musiman dan sangat tergantung pada komunitas diaspora serta tren kesehatan. 

Pare dikenal memiliki manfaat medis, seperti menurunkan gula darah, menyeimbangkan hormon, dan sebagai antioksidan. Dalam pengobatan Ayurveda dan Tiongkok, pare sering digunakan untuk detoksifikasi tubuh.  

Baca juga: BPS: 10 Provinsi dengan Pengangguran Tertinggi, Kepri Masuk?

Dengan meningkatnya kesadaran hidup sehat, pare semakin dilirik sebagai bahan pangan fungsional dan obat herbal. Di pasar global, pare tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga olahan seperti bubuk dan kapsul.  

Indonesia memiliki keunggulan dalam memasok pare segar dengan harga kompetitif. Namun, potensi ekspornya belum tergarap maksimal. Untuk mempertahankan daya saing, diperlukan diversifikasi produk olahan pare serta perbaikan rantai pasok pascapanen, seperti teknologi pendinginan dan pengemasan.  

Dukungan pemerintah dan inovasi pelaku usaha akan menjadi kunci agar pare Indonesia semakin mendunia, membawa manfaat bagi petani dan perekonomian nasional.  

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :