Longsor di Bukit Welcome to Batam, Pemotongan Bukit Diduga Penyebab Utama
Longsor di Bukit Clara, Batam.
Batam, Batamnews - Longsor kembali melanda Bukit Welcome to Batam (WTB) atau Bukit Clara setiap kali hujan turun. Pemotongan bukit dan pembangunan tanpa memperhatikan analisis dampak lingkungan diduga menjadi penyebab utama kejadian ini.
Sejak era Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, kawasan ini sebenarnya telah dilarang untuk pembangunan setelah adanya pemotongan bukit oleh pengembang. Namun, saat ini bangunan semakin menjamur, bahkan mendekati ikon bertuliskan "Welcome to Batam".
"Setiap hujan turun terjadi longsor. Kami sudah pernah sampaikan ke pihak terkait, sampai sejauh ini belum ada tindakan. Ini selalu terjadi sudah sejak lama," ujar seorang warga The Summer kepada Batamnews.co.id, Senin, 24 Maret 2025. Warga khawatir dengan kondisi ini karena tanah longsor sudah mulai mengancam permukiman.
Beberapa properti diketahui telah dibangun hingga ke atas Bukit Clara. Pembangunan ini diduga ilegal, tetapi masih terus berlangsung tanpa tindakan dari pihak berwenang.
Hingga saat ini, Wali Kota Batam Amsakar Achmad maupun Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra belum memberikan respons terkait keluhan warga, khususnya mengenai pembangunan di Bukit Clara yang dianggap melanggar aturan.
Saat ini, Bukit Clara terancam hilang. Topografi bukit sudah tidak beraturan, beberapa bagian gundul, dan bentuknya tidak lagi seperti bukit bersejarah. Padahal, Bukit Clara merupakan salah satu daerah resapan air yang tersisa di Batam Centre, berlokasi strategis di depan Kantor Wali Kota Batam dan DPRD Kota Batam.
Sayangnya, bukit ini justru dibiarkan rusak. "Waktu itu ada beko kerja di atas bukit, tidak tahu untuk apa," ujar seorang warga.
Warga kini semakin waswas melihat kondisi yang memburuk. Longsoran tanah dari atas Bukit WTB mengarah ke area permukiman dan terlihat cukup panjang.
Landmark Bersejarah yang Terancam
Landmark "Welcome to Batam" memiliki nilai historis bagi kota ini. Dibangun pada tahun 2010 dengan anggaran Rp472,4 juta dari APBD Kota Batam melalui Dinas Tata Kota, landmark ini mendukung program Visit Batam 2010.
Sebelum berdiri, Bukit Clara sempat hampir diratakan oleh pengembang perumahan. Pengerukan bukit yang dilakukan pada malam hari berhasil dihentikan, menyelamatkan lokasi yang kini menjadi ikon Batam.
Dengan ketinggian lebih dari 2 meter, landmark ini tidak hanya menjadi penanda bagi pengunjung domestik, tetapi juga dapat terlihat oleh wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang tiba melalui Pelabuhan Feri Internasional Batam Centre. Selain itu, tempat ini juga menjadi salah satu spot foto favorit wisatawan lokal maupun mancanegara.
(Ruz)
Komentar Via Facebook :