Masyarakat Batam Dikejutkan oleh Dugaan Pengoplosan BBM Pertamax dengan Pertalite

Masyarakat Batam Dikejutkan oleh Dugaan Pengoplosan BBM Pertamax dengan Pertalite

SPBU Pertamina (Foto: Pertamina)

Nurjali

Batam, Batamnews - Masyarakat Batam sedang dihebohkan oleh dugaan praktik pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang dicampur dengan Pertalite. 

Kasus ini semakin memanas setelah Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) menangkap sejumlah petinggi Pertamina yang diduga terlibat dalam praktik curang tersebut.

Kekecewaan masyarakat pun meluap di media sosial. Salah satu warga, Tobing, mengaku terkejut dan marah setelah mengetahui kasus ini. 

"Kaget juga lihat berita, para petinggi Pertamina ditangkap Kejagung gara-gara korupsi oplos BBM. Lebih kagetnya lagi, Pertamax yang selama ini saya isi di SPBU ternyata Pertalite. Kesal gak tuh?" ujar Tobing pada Rabu, 26 Februari 2025.

Baca juga: APJII Kepri Gelar Rakerwil 2025 dan Pelantikan Dewan Pengurus 2024-2028 di Batam, Fokus pada Kolaborasi dan Penguatan ISP

Menurut Tobing, jika dugaan ini benar, bukan hanya negara yang dirugikan, tetapi juga masyarakat yang selama ini membayar lebih untuk kualitas BBM yang lebih baik. 

"Ini bukan cuma merugikan negara, tapi juga kita sebagai konsumen. Bayar mahal buat Pertamax, tapi ternyata dapet Pertalite. Gimana gak marah?" tambahnya.

Menanggapi kabar yang beredar, Humas Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Imam, menegaskan bahwa tidak ada BBM Pertamax yang dioplos dengan Pertalite di wilayah Kepulauan Riau. 

"Setiap BBM yang disalurkan sudah melalui proses pengujian yang sangat ketat oleh BPH Migas dan ESDM. Tidak mungkin ada perubahan spesifikasi. Kalau RON 92 ya tetap 92, kalau RON 90 ya tetap 90," tegas Imam.

Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero). Mereka menegaskan bahwa produk yang masuk ke terminal BBM sudah sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah. 

"Produk yang masuk ke terminal BBM Pertamina merupakan produk jadi yang sesuai dengan RON masing-masing. Pertalite memiliki RON 90, dan Pertamax memiliki RON 92. Tidak ada praktik oplosan," demikian pernyataan resmi Pertamina.

Baca juga: Central Group Tanggap Cepat Keluhan Konsumen, Sediakan Hunian Berkualitas di Batam

Lebih lanjut, Pertamina menjelaskan bahwa satu-satunya perlakuan yang dilakukan terhadap BBM di terminal adalah proses injeksi warna (dyes) untuk membedakan jenis bahan bakar, serta penambahan aditif untuk meningkatkan performa Pertamax.

Meski Pertamina membantah adanya praktik pengoplosan, masyarakat tetap menuntut transparansi lebih dalam distribusi BBM. Kejadian ini menimbulkan keresahan dan pertanyaan besar tentang pengawasan dan kualitas BBM yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Sejumlah pihak berharap Kejagung RI dapat mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya, serta memberikan sanksi tegas bagi pihak-pihak yang terbukti melakukan kecurangan.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :