Kisah Andi, Pemulung Muda yang Mengais Rezeki di TPA Punggur Batam
Suasana tumpukan sampah di TPA Punggur, Batam. (Foto: Asrul/Batamnews)
Batam, Batamnews - Di tengah terik matahari dan gunungan sampah yang menjulang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur, Kota Batam, seorang pemuda bernama Andi (26) terlihat tekun mengais botol-botol plastik. Berbalut jaket lusuh warna cream coklat dan biru dongker, tubuh kurusnya terus bergerak menyusuri lautan sampah.
Untuk melindungi diri dari debu dan bau menyengat, ia mengenakan topi dan masker kain sederhana. Tangannya yang berbalut sarung tangan tipis terus memilah sampah, sementara kakinya yang bersepatu usang melangkah hati-hati menghindari pecahan beling dan tumpukan limbah berbahaya.
Andi, pemuda asal Medan ini, telah merantau ke Batam selama sepuluh tahun demi menyambung hidup. Setelah mencoba berbagai pekerjaan, kini ia menjalani profesi sebagai pemulung. Setiap hari dari pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB, Andi menghabiskan waktunya di TPA Punggur. Durasi kerjanya bergantung pada intensitas kedatangan truk sampah.
Baca juga: Sering Tak Dipandang, Pemulung Plastik Punya Andil Jaga Lingkungan di Batam
"Kadang dapat 5 kilo, kalau banyak bisa 10 sampai 20 kilo," ujarnya sambil mengumpulkan botol plastik ke dalam karung besar. "Daripada menganggur, lebih baik cari kerja." cetusnya.
Pemandangan pemulung yang berbondong-bondong menghampiri truk sampah yang baru tiba sudah menjadi pemandangan sehari-hari di TPA Punggur. Meski alat berat masih beroperasi menggeser dan menumpuk sampah, mereka tetap nekat berkerumun demi mendapatkan barang layak jual.
"Ya, namanya cari rezeki, kita sudah tahu risikonya," kata Andi pasrah. Risiko tertabrak alat berat, tergores paku, atau terluka oleh pecahan beling menjadi ancaman sehari-hari. "Yang penting kita hati-hati. Ada larangan yang harus dipatuhi pas di pembuangan itu, jadi kita harus sadar diri."
Baca juga: Dua Pemulung Diamankan Warga Saat Coba Bobol Rumah di Karimun
Sam, salah seorang pekerja TPA Punggur, mengungkapkan keprihatinannya terhadap keselamatan para pemulung. "Untuk pemulung ini kan mereka juga mencari nafkah, namun kadang kami khawatir ya karena mereka berkerumun dekat alat berat itu," ujarnya.
Menurut Sam, sejak 2019 hingga kini, tercatat sekitar 700 kepala keluarga yang mencari nafkah di TPA Punggur yang memiliki luas area 83 hektar. Para pemulung ini berasal dari berbagai kecamatan seperti Piayu, Batam Center, dan Sagulung.
"Harapan saya ke depannya, para pemulung ini bisa lebih tertib sih, jadi kita yang bekerja itu bisa cepat dan risiko itu tadi bisa diminimalisir," pungkasnya.

Komentar Via Facebook :