Anak Ngatini dan Robin, Bayi Gajah Sumatra Lahir Sehat di TWA Buluh Cina Riau
Seekor bayi gajah Sumatra berjenis kelamin betina lahir di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina. (BKSDA Riau)
Riau, Batamnews - Seekor bayi gajah Sumatra berjenis kelamin betina lahir di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Bayi gajah yang memiliki berat 104 kilogram ini dilaporkan lahir dalam kondisi sehat dan sudah aktif menyusu.
Kepala Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, Genman Suhefti Hasibuan, menyatakan bahwa bayi gajah ini merupakan anak dari pasangan induk bernama Ngatini dan pejantan bernama Robin.
"Kondisi bayi gajah yang lahir dari induk bernama Ngatini dan pejantan Robin dalam keadaan sehat. Dan sudah aktif menyusu," ungkapnya dalam keterangan pers pada Selasa, 5 Oktober 2024.
Baca juga: Jadwal Kapal dari Bengkalis ke Malaysia untuk Meningkatkan Wisatawan Antar Dua Negara
Bayi gajah tersebut lahir pada Senin, 4 November 2024 sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Sesaat setelah kelahiran, tim BBKSDA Riau segera memberikan perawatan berupa vitamin kepada induk gajah untuk mendukung kesehatannya.
Genman menjelaskan bahwa Ngatini, sang induk, adalah gajah betina berusia 24 tahun yang berhasil dievakuasi dari konflik dengan manusia di kawasan Bencah Kelubi, Tapung, pada tahun 2005.
Sementara itu, Robin, pejantan berusia 25 tahun, merupakan hasil penyelamatan setelah terpisah dari induknya di Rokan Hulu pada tahun yang sama. Kedua gajah tersebut kemudian dipindahkan ke TWA Buluh Cina pada tahun 2017 untuk mendukung keberlanjutan konservasi satwa.
Baca juga: Harga Tiket Pesawat Batam Naik Jelang Libur Akhir Tahun, Dishub Kepri Tidak Dapat Info
Kelahiran bayi gajah ini menandai anak kedua dari pasangan Ngatini dan Robin. Anak pertama mereka, yang lahir pada 3 Juli 2020 di TWA Buluh Cina, diberi nama Damar oleh Gubernur Riau saat itu, Syamsuar.
Nama Damar, yang diambil dari jenis pohon meranti, memiliki makna simbolis sebagai pelita atau cahaya.
Kelahiran bayi gajah betina ini menjadi bukti bahwa TWA Buluh Cina sebagai kawasan konservasi masih mampu menyediakan habitat yang kondusif bagi kelahiran satwa langka.
Komentar Via Facebook :