Prediksi Nilai Rupiah Setelah Hari ini Melemah di Akhir Perdagangan 

Prediksi Nilai Rupiah Setelah Hari ini Melemah di Akhir Perdagangan 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar hari ini.

Nurjali

Jakarta, Batamnews – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan Selasa (29/10). Kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah berada di level Rp15.760 per USD, turun dari posisi pembukaan di Rp15.729 per USD.

Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh penguatan surat utang AS atau obligasi pemerintah, yang mengalami kenaikan imbal hasil di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, The Federal Reserve, akan kembali menurunkan suku bunga. 

Pada hari yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun meningkat lebih dari dua basis poin menjadi 4,3043 persen, sementara obligasi bertenor 2 tahun naik sedikit ke level 4,1435 persen. 

Baca juga: Bintan Kembangkan Sentra Fashion di Seri Kuala Lobam, Dukung IKM dan Kurangi Impor Pakaian

Peningkatan imbal hasil ini mencerminkan tren kenaikan dalam beberapa hari terakhir dan mencatat posisi tertinggi dalam beberapa bulan.

Investor akan mencermati berbagai data ekonomi yang akan segera dirilis, termasuk data keyakinan konsumen, harga rumah, dan angka lowongan kerja JOLT. Data lain seperti penggajian swasta ADP dan laporan pekerjaan Oktober juga diantisipasi dalam beberapa hari mendatang.

Selain itu, data terbaru mengenai indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve, akan hadir minggu ini. Investor memperhatikan data ini untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Saat ini, para pembuat kebijakan The Fed sedang berada dalam masa blackout menjelang pertemuan mereka pada 6-7 November mendatang, di mana keputusan suku bunga terbaru akan diambil. 

Sebelumnya, The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan September lalu, mengawali kampanye pelonggaran pertama dalam empat tahun terakhir. Menurut alat FedWatch CME Group, peluang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut pekan depan diperkirakan mencapai hampir 95 persen.

Baca juga: IsDB Alokasikan USD3 Miliar untuk Proyek Pembangunan Sosial-Ekonomi di 17 Negara Anggota

Di sisi lain, nilai tukar dolar AS diproyeksikan akan tetap kuat dalam jangka panjang. Ekonom memperkirakan bahwa bank sentral asing akan mempercepat penurunan suku bunga guna menopang perekonomian, yang pada gilirannya dapat memperkuat posisi dolar AS.

Lembaga keuangan global Wells Fargo menyebutkan bahwa dolar AS kemungkinan akan menunjukkan kekuatan jangka panjang, khususnya seiring dengan pelonggaran bank sentral asing yang diperkirakan semakin cepat. 

Mereka juga menilai sentimen yang kurang positif terhadap ekonomi Tiongkok dapat memberikan tekanan pada mata uang G10 dan negara berkembang hingga tahun 2025-2026.

Meski dolar diperkirakan akan sedikit melemah dalam jangka pendek terhadap mata uang G10, tren ini diperkirakan akan berbalik pada paruh kedua 2025, terutama jika penurunan suku bunga The Fed melambat sementara bank sentral lainnya terus melakukan pelonggaran suku bunga.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :