Nelayan Layangkan Gugatan ke MT Arman 114, Minta Kapal Disita sebagai Sita Jaminan

Nelayan Layangkan Gugatan ke MT Arman 114, Minta Kapal Disita sebagai Sita Jaminan

MT Arman 114 (Foto: Ist)

Batam, Batamnews - Kapal MT Arman 114, yang tengah terlibat dalam kasus pencemaran lingkungan di Perairan Natuna, Kepulauan Riau, kini diduga merugikan nelayan di Kota Batam. Kapal tersebut juga sempat membuang limbah minyak di perairan Batam.

"Kapal MT Arman 114 ini tidak saja membuang limbah di Natuna tapi juga di Batam," ujar Jacobus Silaban SH, kuasa hukum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Batam, kepada Batamnews.co.id, Senin 8 Juli 2024 di Batam.

Hal ini memicu gugatan dari para nelayan yang merasa dirugikan. "Kapal itu tidak saja buang limbah tapi juga menghambat aktivitas nelayan di laut, ukurannya saja mencapai 300 meter," tambah Jacobus yang didampingi rekannya, Umar Faruk SH.

HNSI melayangkan gugatan senilai Rp 60 miliar atas dampak yang ditimbulkan. Gugatan tersebut telah didaftarkan terhadap pemilik kapal MT Arman 114 di Pengadilan Negeri Batam pada 12 Juli 2024.

"Kita minta majelis hakim menetapkan MT Arman menjadi objek sita jaminan dalam perkara gugatan ini hingga hasil gugatan kelar," ujar Jacobus Silaban.

Gugatan ini diajukan atas dasar perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh pihak MT Arman 114 di perairan Batam. Jacobus Silaban menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari penangkapan MT Arman 114 oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla) di perairan Natuna pada Juli 2023.

Setelah penangkapan, kapal tersebut dibawa ke perairan Batam. Selama berada di perairan Batam, kapal super tanker sepanjang lebih dari 300 meter ini diduga telah melakukan pembuangan limbah dan mengganggu aktivitas nelayan serta perusahaan lain selama satu tahun.

"Selama satu tahun dari Juli 2023 hingga 2024, kapal yang ditangkap oleh Bakamla dan disandera di perairan Batam ini juga mengganggu aktivitas nelayan Kota Batam dan pihak-pihak perusahaan lainnya," ujar Silaban, Senin (08/07/2024).

Materi gugatan yang diajukan HNSI Kota Batam mengacu pada tuntutan jaksa penuntut umum terhadap kapten kapal MT Arman 114, yaitu 7 tahun penjara dan denda Rp5 miliar. Selain itu, gugatan juga mencakup kerugian riil yang dialami oleh anggota nelayan HNSI Kota Batam.

Silaban menyatakan bahwa pihaknya memohon kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk mengabulkan gugatan para nelayan Kota Batam ini. "Kami berharap hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari," tambahnya.

Menurutnya, MT Arman 114 tidak hanya membuang limbah tetapi juga melakukan dumping di perairan Natuna. Nilai kerugian yang dituntut dari MT Arman 114 mencapai Rp60 miliar. Menurut estimasi Bakamla dan penyidik lingkungan, objek yang ada di dalam kapal MT Arman 114 diperkirakan bernilai sekitar Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun.

Persidangan pertama telah dijadwalkan pada 16 Juli 2024. Namun, pihak penggugat masih menyelidiki pihak yang mewakili MT Arman 114, mengingat kapten kapal dikabarkan telah melarikan diri dan menghindar dari hukum.

"Sampai hari ini, kapten kapal telah dua kali menghindar dari persidangan. Objek gugatan masih kita buatkan untuk pemilik MT Arman. Nanti di persidangan kita akan lihat siapa yang mewakili, karena ada 2-3 orang yang mengklaim sebagai pemilik, antara pemilik minyak dan pemilik kapal itu berbeda," jelas Silaban.

Silaban menambahkan bahwa pihaknya juga membuka kemungkinan untuk menyelesaikan masalah ini secara musyawarah atau kekeluargaan dengan pemilik kapal atau pihak yang mewakili MT Arman 114.


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews