Pengakuan Kru Kapal MT Arman 114 Atas Insiden Penurunan Kru di Batam

Pengakuan Kru Kapal MT Arman 114 Atas Insiden Penurunan Kru di Batam

Para kru MT Arman 114 saat menjalani proses sidang.

Batam, Batamnews - Insiden penurunan 21 kru kapal MT Arman 114 pada Jumat, 10 Mei 2024, menjadi perbincangan hangat di kota Batam. Penurunan seluruh kru kapal pada dini hari menimbulkan banyak pertanyaan, terutama karena dilakukan tanpa melibatkan instansi terkait dan secara diam-diam.

Setelah melakukan serangkaian penelusuran dan konfirmasi, Batamnews.co.id mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai salah satu kru kapal MT Arman 114 secara eksklusif dengan bantuan penerjemah di sebuah hotel ternama di Batam, Jumat, 17 Mei 2024.

ABAL (disamarkan) menceritakan kronologi insiden yang terjadi antara pukul 23.00 hingga 24.00 WIB. Saat itu, ia sedang beristirahat di kapal bersama kru lainnya.

Secara tiba-tiba, sekitar 10-12 orang berseragam dan bersenjata naik ke kapal, masuk ke tempat istirahat kru, dan didampingi oleh empat orang warga sipil yang identitasnya tidak diketahui. Mereka melakukan pemeriksaan terhadap kapal MT Arman 114.

Setelah pemeriksaan, para kru diperintahkan untuk berkumpul di dek kapal. 

"Ketika kami berkumpul di dek, saya melihat ada empat boat di bawah kapal kami. Dua boat bertuliskan Bakamla dan dua lagi boat komersil. Para petugas ini memerintahkan kami untuk tetap berada di dek kapal,” jelas ABAL.

Baca juga: Nakhoda Pertanyakan Alasan KLHK Tahan Dokumen Keimigrasian ABK Kapal MT Arman 114

ABAL melanjutkan, ketika semua kru dikumpulkan di dek, salah satu kru meminta izin untuk mengambil barang-barang berharga dari kamar, namun permintaan tersebut ditolak. Para petugas menginstruksikan kru untuk turun ke boat komersil yang telah disiapkan.

"Kami digiring ke boat komersil di bawah kapal dan kemudian dibawa ke pelabuhan. Sesampainya di pelabuhan, saya melihat beberapa agen kapal dan sebuah bus bertuliskan Bakamla," terangnya.

Di pelabuhan, orang-orang berseragam mengawasi mereka satu per satu. Tak lama kemudian, para kru diinstruksikan naik ke bus dan dibawa ke hotel Grand Sydney Batam, tiba sekitar pukul 01.00 WIB.

Sesampainya di hotel, para petugas menanyakan apakah kru ingin kembali ke negara asal, namun mereka menjawab ingin kembali ke kapal. Menurut ABAL, kru diinapkan di hotel selama tiga hari dan diawasi oleh seseorang yang tidak dikenal.

"Kami tidak diizinkan keluar dari area hotel dan hanya mengikuti instruksi. Situasi saat itu sangat mencekam, namun tidak ada tindakan kekerasan dari petugas. Hanya ada satu kru yang mencoba melawan, namun segera ditenangkan," jelasnya.

Setelah tiga hari, para kru berhasil menghubungi agensi mereka, PT GASS, yang kemudian datang ke hotel dan menjelaskan situasi yang terjadi. Agensi berjanji untuk membuat laporan dan membawa pengacara.

Baca juga: KSOP: Pergantian 13 Kru Kapal Lokal ke MT Arman 114 Tidak Pernah Lapor Sejak Awal

Bantahan Kru Kapal Terkait Informasi Stres

Batamnews.co.id bertanya kepada ABAL tentang pernyataan kapten kapal Mahmoud Mohamed Abdelaziz Mohamed Hatiba (MMAMH) dan pengacaranya Pahrur Roji Dalimunthe yang mengatakan bahwa penurunan kru disebabkan oleh stres akibat bekerja di kapal selama 11 bulan.

"Itu tidak benar. Selama bekerja, kami tidak pernah mengalami stres. Jika ada kru yang stres, agensi akan melakukan rolling kru. Kapten kapal MMAMH sudah tidak pernah naik ke kapal selama 5 bulan, dan kami tidak berkomunikasi dengannya," tegas ABAL.

"Kami berharap pihak-pihak terkait di Indonesia dapat mengembalikan kami ke kapal sehingga bisa bekerja seperti biasanya. Kami tidak ingin kembali ke negara asal, hanya ingin kembali ke kapal. Jika harus kembali ke negara asal, kami berharap melalui prosedur yang ada," pungkasnya.


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews