Kronologi Terjadinya Serangan Mendadak Hamas yang Mematikan di Israel
Kondisi salah satu bangunan yang menjadi sasaran Hamas di Israel (Foto: Aljazeera)
Jakarta, Batamnews - Penguasa militan Hamas di Gaza secara mendadak pada Sabtu (7/10) menggempur Israel dari berbagai penjuru, baik udara, darat, maupun laut. Serangan ini menyebabkan jutaan warga Israel di selatan negara itu terbangun karena suara roket dan dentuman yang tak terhindarkan.
Sirene serangan udara meraung-raung hingga ke utara hingga Tel Aviv, sementara alat pencegat anti-roket Israel bergemuruh di Yerusalem.
Dalam eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya, pasukan bersenjata Hamas meledakkan bagian dari pagar pemisah Israel yang dijaga ketat. Mereka menyerbu warga Israel di sepanjang perbatasan Gaza, meneror penduduk, dan terlibat baku tembak dengan tentara Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan sekutu sayap kanannya berusaha keras untuk merespons peristiwa yang berubah dengan cepat itu, namun jumlah korban terus bertambah.
Menurut Rescue Service Zaka, sebuah kelompok Israel, sedikitnya 200 orang tewas di Israel selatan dan 1.100 orang terluka. Di Jalur Gaza, setidaknya 198 orang tewas dan sedikitnya 1.610 orang terluka dalam serangan balasan Israel.
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah intelijen Israel mampu mengendus penyerangan ini sebelumnya. Kejutan ini mengingatkan pada perang Timur Tengah 1973 ketika serangan besar-besaran oleh Mesir dan Suriah terjadi pada hari raya Yahudi, mengejutkan Israel.
Baca juga: Waspada Rupiah Mendekati Level Tertinggi Tahun ini, Berpotensi Tekan Daya Beli dan Inflasi
Saat itu, seperti sekarang, Israel berharap badan intelijennya akan memberikan peringatan dini tentang potensi serangan besar, namun hal itu tidak terjadi.
Kegagalan tersebut membayangi Perdana Menteri Golda Meir dan menggoyahkan kekuasaan Partai Buruh yang lama mendominasi saat itu. Kini, pertanyaan tentang bagaimana militan Hamas mampu melancarkan serangan besar dan terkoordinasi tanpa memicu kekhawatiran intelijen Israel menjadi tantangan besar bagi pemerintahan ultranasionalis Netanyahu.
Serangan mendadak Hamas kali ini menewaskan lebih banyak warga Israel dibandingkan serangan apa pun sejak pemberontakan Palestina kedua terjadi dua dekade lalu.
Para pendukung pemerintah memperkirakan bahwa Netanyahu dan para menteri garis keras akan merespons dengan tindakan yang lebih tegas terhadap Palestina.
Tetapi semakin meningkatnya kritik terhadap Netanyahu atas kegagalan tersebut dan dengan bertambahnya jumlah korban, pemerintahannya berisiko kehilangan kendali atas negara tersebut.
Hamas mengklaim berhasil menyandera beberapa warga Israel di daerah Gaza dan merilis video yang menghebohkan. Mereka juga mengklaim bahwa perwira senior militer Israel termasuk di antara para tawanan.
Video-video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi tampak sesuai dengan fitur geografis di wilayah tersebut.
Serangan Hamas juga mencakup pengiriman pasukan paralayang ke wilayah Israel, seperti yang diumumkan oleh militer Israel.
Serangan ini mengingatkan pada serangan serupa pada akhir 1980-an ketika militan Palestina menyeberang dari Lebanon ke utara Israel dengan menggunakan pesawat layang gantung dan membunuh enam tentara Israel.
Tentara Israel belum mengonfirmasi bahwa tentara dan warga sipil disandera di Gaza, tetapi menolak memberikan rincian lebih lanjut.
Baca juga: Suasana Perayaan Ulang Tahun Marching Band Maritim Bintan Corps Ke-8 di Lapangan Relief Antam
Hamas mengutip beberapa faktor yang memicu ketegangan, termasuk perselisihan lama seputar kompleks Masjid Al-Aqsa yang sensitif. Situs ini disucikan oleh umat Muslim dan Yahudi dan tetap menjadi inti emosional dari konflik Israel-Palestina.
Perkembangan terbaru juga mencakup perluasan pemukiman Yahudi di tanah yang diklaim Palestina sebagai negara masa depan mereka dan upaya untuk memperketat pembatasan terhadap tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
Ketegangan semakin meningkat karena protes keras warga Palestina di sepanjang perbatasan Gaza. Hamas telah mendorong konsesi Israel dalam negosiasi dengan Qatar, Mesir, dan PBB yang dapat mengakhiri blokade selama 17 tahun di wilayah Gaza, yang telah memperburuk krisis ekonomi Palestina.
Beberapa analis politik mengaitkan serangan Hamas dengan perundingan normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi yang ditengahi oleh AS. Namun, laporan tentang konsesi kepada Palestina dalam perundingan ini hanya melibatkan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, bukan Gaza.
Dengan meningkatnya pengaruhnya dalam putaran ini, Hamas kemungkinan akan berusaha lebih keras untuk mencapai konsesi mengenai isu-isu utama, seperti mengurangi blokade dan memenangkan pembebasan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.
Komentar Via Facebook :