Kasus DBD di Pekanbaru Meningkat, Lebih 500 Warga Terjangkit Selama 2022

Kasus DBD di Pekanbaru Meningkat, Lebih 500 Warga Terjangkit Selama 2022

Ilustrasi

Pekanbaru, Batamnews - Lebih 500 warga Ibu Kota Provinsi Riau, Pekanbaru diserang Demam Berdarah Dengue (DBD), sejak Januari hingga September 2022.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Zaini Rizaldy mengatakan, kasus DBD mengalami peningkatan karena terjadi peralihan antara musim panas dengan musim penghujan. Akibatnya, populasi nyamuk pun bertambah.

Ia menyebut, 70 persen penyebab kasus DBD meningkat karena faktor lingkungan. DBD banyak terjadi di wilayah yang lingkungannya kurang terjaga kebersihannya.

Baca juga: Balita Jatuh dari Lantai 3 Hotel di Pekanbaru, Polisi: Ditinggal Ortunya Karaoke

"Sampah seperti botol bekas, ban bekas hingga tempat makan atau minuman ternak. Nyamuk bakal bersarang di sana. Ditambah banyak sampah dan penampungan air," ujar dia, Senin (19/9/2022).

Untuk menekan peningkatan jumlah kasus tersebut, pihaknya juga menjalankan sejumlah program, di antaranya mengoptimalkan kader jumantik. Dirinya menyadari bahwa para kader jumantik bersama tim dinas di lapangan belum bertugas secara maksimal.

"Kita sudah memberi pelatihan kepada kader jumantik rumah tangga dan di sekolah," paparnya.

Baca juga: Kronologi Balita Berusia 3 Tahun Jatuh dari Lantai 3 Hotel di Pekanbaru, Ini Penjelasan Polisi

Zaini menyebut bahwa kader jumantik sudah tersebar di 15 kecamatan. Pihaknya juga rutin menyasar lingkungan yang terdapat kasus DBD dengan program fogging atau pengasapan.

Namun lanjutnya, fogging bukan cara utama mencegah DBD. Ia menyebut bahwa fogging hanya untuk membunuh nyamuk dewasa.

"Bisa juga gunakan bubuk abate, nanti disebar di tempat penampungan air sesuai dosis. Ini bisa mencegah jentik nyamuk, masyarakat bisa mendapatkannya di puskesmas," jelasnya.

(ruz)