Vladimir Putin: Tidak Ada yang Bisa Menangkan Perang Nuklir

Vladimir Putin: Tidak Ada yang Bisa Menangkan Perang Nuklir

Rusia gelar parade Hari Angkatan Laut. (REUTERS/Maxim Shemetov)

Moskow - Presiden Rusia, Vladimir Putin menyampaikan, tidak ada yang bisa memenangkan perang nuklir dan tidak seharusnya ada yang memulai perang tersebut.

Hal ini disampaikan Putin dalam suratnya kepada peserta konferensi perjanjian non-proliferasi nuklir (NPT).

"Kita meneruskan dari fakta bahwa tidak ada pemenang dalam perang nuklir dan nuklir tidak boleh dilepaskan, dan kita berpihak untuk keamanan yang setara dan tak terpisahkan bagi semua anggota komunitas dunia," jelasnya, dikutip dari Reuters (2/8/2022).

Pernyataan pemimpin Kremlin ini tampaknya bertujuan untuk meyakinkan dan menggambarkan Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekuatan nuklir.

Namun pernyataan ini kontras dengan pernyataan Putin sebelumnya dan politikus Rusia lainnya yang ditafsirkan Barat sebagai ancaman nuklir implisit.

Dalam pidatonya pada 24 Februari, saat meluncurkan invasi Rusia ke Ukraina, Putin menyinggung persenjataan nuklir Rusia dan memperingatkan kekuatan luar bahwa setiap upaya untuk ikut campur akan "mengarahkan Anda pada konsekuensi yang belum pernah Anda temui dalam sejarah Anda". Beberapa hari kemudian, dia memerintahkan pasukan nuklir Rusia untuk siaga tinggi.

Pada April, Direktur CIA William Burns mengatakan walaupun terdapat kemunduran yang dialami Rusia di Ukraina, "tidak ada dari kita yang dapat menganggap enteng ancaman yang ditimbulkan oleh potensi penggunaan senjata nuklir taktis atau senjata nuklir hasil rendah."

Doktrin militer Rusia mengizinkan penggunaan senjata nuklir jika terjadi ancaman eksistensial terhadap Rusia. Rusia juga menuduh Barat melakukan "perang proksi" dengan mempersenjatai Ukraina dan menjatuhkan sanksi terhadap Moskow.

Sebelumnya pada Senin, sumber Kementerian Luar Negeri Rusia mempertanyakan keseriusan komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang menyerukan pembicaraan terkait kerangka kontrol senjata nuklir untuk menggantikan perjanjian yang berakhir pada 2026.

Pada April, Rusia meluncurkan uji coba pertama rudal balistik antarbenua Sarmat yang baru dan mengatakan berencana untuk menyebarkan senjata itu pada musim gugur.

(fox)