Sakit Hati se-Indonesia Gegara Thailand dan Vietnam

Sakit Hati se-Indonesia Gegara Thailand dan Vietnam

Timnas U-19.

Batam - Dada terasa nyesek saat Timnas Indonesia U-19 tersingkir dari turnamen Piala AFF U-19 tahun ini. Menonton permainan apik dan gigih yang ditunjukkan Rabbani Cs, rasanya tak pantas garuda muda tersingkir. Benar-benar tak pantas!

Jika ditelisik dari jumlah gol, jelas timnas paling layak menjadi juara grup. Namun nasib berkata lain, Sistem head to head yang digunakan AFF yang akhirnya bikin pendukung timnas sakit hati massal.

Indonesia, Thailand dan Vietnam sama-sama mengoleksi 11 point dari 5 pertandingan. Statistiknya timnas 17 kali membobol gawang lawan dan hanya 2 kali kebobolan. Sementara Vietnam 12 kali bikin gol dan 3 kali kebobolan. Thailand hanya 7 kali bikin gol dan 1 kali kebobolan.

Kendati timnas lebih garang dalam mencetak gol, dan punya point sama namun hal itu tak berpengaruh saat dihitung secara head to head. Pasalnya timnas tak mampu membobol gawang Thailand dan Vietnam dengan dua kali hasil imbang 0-0. 

Yah begitulah sistem head to head. Hal yang ditakuti itu terjadi. Jika Thailand dan Vietnam bermain imbang 1-1, atau 2-2 dan seterusnya makan merekalah yang lolos. Banyak pendukung timnas harap-harap cemas dan berdoa kedua tim itu bermain imbang 0-0. Namun nyatanya hasil akhir 1-1. Indonesia tersingkir. 

Pendukung timnas meradang. Bahkan pelatih Shin Tae-yong melihat kedua tim bermain tak fair karena sama-sama tak berniat mencetak gol saat kedudukan 1-1 di Stadion Madya. PSSI pun dikabarkan akan melayangkan protes dan gugatan ke AFF terkait hal ini. Mereka meminta AFF melakukan investigasi terkait dugaan 'sepakbola gajah' itu

Senyum pemain timnas yang 'membantai' Myanmar 5-1 di Stadion Patriot berubah. Sebagian menangis dan lainnya murung. Tak terkecuali Ketua PSSI Mochammad Iriawan alias Iwan Bule. Dalam sebuah tayangan di TV tertangkap gambar Iwan hanya terdiam.

Padahal pertandingan di Stadion Patriot malam itu benar-benar impresif. Namun nasib timnas sayangnya harus bergantung kepada Thailand dan Vietnam.

Di media sosial, netizen Indonesia yang garang melempar makian ke timnas Vietnam dan Thailand. Banyak tudingan yang dilempar, mulai match fixing, sepakbola gajah dan tak fair. 

Di tengah sakit hati pendukung timnas, pelatih fisik Vietnam Cuong Lecao bikin keruh suasana pula. Cuong menyebut Thailand vs Vietnam 75 menit jadi lawan dan 15 menit jadi kawan.

Makin sakit hati lah para pendukung timnas karena ini. Di akun instagramnya Cuong mengunggah para pemain Vietnam U-19 berfoto bersama sedang merayakan kelolosan.

Captionnya  "1:1 (disertai bendera Vietnam dan Thailand) 75 menit lawan dan 15 menit teman selamanya. Kami lanjut ke semifinal setelah 5 pertandingan dari... 9 hari. Penampilan bagus dari tim dan fokus ke babak selanjutnya," tulisnya.

Namun karena takut 'babak belur' sama netizen Indonesia yang terkenal 'bar-bar' ini Cuong akhirnya mem-private akun IG nya itu. Namun netizen Indonesia kadung melakukan screenshot. Story yang bikin kubu Indonesia makin geram!

Tapi apakah kita harus terus-terusan sakit hati? Subjektivitas kita sebagai pendukung timnas menjadikan hal ini sebagai sesuatu yang disesalkan. Toh mungkin jika posisi kita adalah Vietnam atau Thailand, hal serupa bukan tak mungkin pula terjadi. Bisa saja pemain kita ibaratnya 'ngopi-ngopi' di lapangan sambil oper-operan.

Dalam sepakbola ada strategi, kapan harus menyerang, kapan harus bertahan, kapan harus main agresif, kapan harus men-delay bola. Mungkin itu yang dilakukan Vietnam dan Thailand.

Kita juga tak boleh munafik. Masih ingat Tiger Cup 1998 (Kini Piala AFF)? Di situ benar-benar kentara permainan sepakbola gajah antara Indonesia vs Thailand demi menghindari Vietnam kala itu. Bahkan bek Mursyid Effendy sengaja bikin gol ke gawang sendiri. Akibatnya ia harus dihukum seumur hidup tak boleh beraktivitas di sepakbola internasional. PSSI pun terkena denda 40 ribu dolar oleh FIFA.

Tapi disebalik itu, alangkah baiknya kita sebagai netizen dan fans sepakbola sebuah negara yang besar, tak ada salahnya dewasa menerima ketidakberuntungan ini.

Toh, walaupun tersingkir, kita semua bangga dengan pertunjukkan timnas di lapangan hijau. Apalagi timnas ini akan tampil di ajang yang lebih bergengsi yakni Piala Dunia U-20 tahun depan. Bukan lagi Vietnam dan Thailand yang akan kita pikirkan, namun bagaimana mengalahkan Inggris, Prancis, Brazil dan Spanyol.

Seperti yang dikatakan Coach Shin, "Jangan menyalahkan wasit atau siapa pun. Bertekad untuk lebih baik di laga berikutnya. Tim kalah yang baik, mendapat rasa hormat yang lebih daripada pemenang yang buruk," ucapnya. 

(fox)