Hari Janda Internasional: 1 dari 10 Janda Hidup dalam Kemiskinan

Hari Janda Internasional: 1 dari 10 Janda Hidup dalam Kemiskinan

Ilustrasi

Jakarta, Batamnews - Hidup menjanda kerap terlihat biasa saja dan bebas masalah. Namun kenyataannya, tak semua janda hidup dalam kesejahteraan.

Peringatan Hari Janda Internasional setiap 23 Juni mengingatkan masyarakat bahwa status janda mengandung aneka konsekuensi tak hanya menyoal hidup tanpa pasangan.

Hari Janda Internasional berawal dari inisiatif The Loomba Foundation yaitu organisasi yang mengawal isu-isu terkait janda dan berbasis di India. Tanggal 23 Juni dipilih sebab 23 Juni 1954, Shrimati Pushpa Wati Loomba, ibu dari pendiri organisasi, menjadi janda.

Perayaan Hari Janda Internasional pertama kali diselenggarakan pada 2005. Baru pada 2010, organisasi mengajukan hari peringatan ke PBB dan Hari Janda Internasional diakui pada 2011.

Tahun ini, Hari Janda Internasional mengambil tema 'Sustainable Solutions for Widows Financial Independence' atau Solusi Berkelanjutan bagi Kemandirian Keuangan Janda.

Seperti dikutip dari laman Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), sebanyak lebih dari 258 juta janda di seluruh dunia 'tak terlihat', tak terdukung dan berjuang untuk melanjutkan hidup. Secara praktis, 1 dari 10 janda hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Janda kerap mendapat stigma negatif, diskriminasi, bahkan di beberapa wilayah, janda tidak memiliki hak waris dan akses ke dana pensiun. Kemiskinan pun tak terelakkan pascakematian suami mereka.

Upaya untuk mendukung kesejahteraan janda harus berasal dari berbagai pihak. PBB meminta pemerintah tiap negara untuk memastikan pemenuhan hak janda.

Hak para janda tercantum dalam hukum internasional termasuk Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dan Konvensi tentang Hak-hak Anak.

Kemudian dalam konteks pandemi, janda tidak boleh ditinggalkan untuk "membangun kembali dengan lebih baik".

"Mari kita pastikan bahwa pemulihan kita memprioritaskan kebutuhan unik mereka dan mendukung masyarakat menjadi lebih inklusif, tangguh, dan setara untuk semua," tulis PBB dalam laman resminya.

(ruz)