RA Kartini Tokoh Inspirasi Pejuang Kesetaraan Gender

RA Kartini Tokoh Inspirasi Pejuang Kesetaraan Gender

ilustrasi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Pramoedya Ananta Toer (1988).

Pandangan yang disampaiakan oleh Pramoedya Ananta Toer diatas bisa menjadi pembenaran terkait identitas seseorang yang tidak lekang dimakan oleh waktu dan perubahan zaman, dan salah satu contohnya adalah R.A Kartini, namanya harum dan di kenang oleh setiap orang, serta pada tanggal 21 April setiap tahunnya ditetapkan sebagai Hari Kartini, pahlawan yang berjuang melepas belenggu ketidakadilan bagi para perempuan di Indonesia.

Peringatan Hari Kartini berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 108 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964 namun peringatan Hari Kartini dirayakan pertama kali pada tanggal 21 April 1965. Tujuan peringatan Hari Kartini untuk mewujudkan kesetaraan kesempatan antara laki-laki dan perempuan terutama di bidang pendidikan dan secara umum tentang kesetaraan gender 

Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Ia berasal dari keluarga ninggrat, ayahnya adalah Raden Mas`Adipati Ario Sosroningrat adalah Bupati Jepara, Jawa Tengah dan ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru mengaji dan juga ulama. Biografi Pahlawan Nasional R.A Kartini (2008)

Kartini menempuh pendidikan hanya sampai usia 12 tahun di Europese Lagere School ( ELS ) atau setingkat sekolah dasar milik pemerintah Hindia Belada bagi anak-anak peranakan Eropa, keturanan timur asing atau pribumi dari kalangan bangsawan terkemuka.

Meskipun terlahir dari keluarga ningrat, terpandang dan terpelajar namun Kartini sangat konsisten dalam memperjuangkan kesetaraan antara kaum perempuan dengan laki-laki di lingkungannya. Aturan adat dan kontruksi sosial dalam masyarakat jawa membuat perempuan berada di bawah laki-laki, perempuan harus di rumah saja dan tidak boleh memperoleh pendidikan tinggi, terjadi kawin paksa dan kasus poligami ini yang sering terjadi pada kaum perempuan pada saat itu.

Dari beberapa permasalahan tersebut, Kartini menyampaikan banyak kritik membela kuam perempuan melalui surat-suratnya untuk memperoleh kebebasan serta hak-hak dalam bekerja, kehidupan sosisal dan hak dalam berbagai bidang, dan  perjuanganya mendobrak ketidakadilan yang dihadapi oleh kaum perempuan, sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan yang sudah dilakukan beliau dikenal sebagai tokoh pelopor emansipasi wanita.

Perjuangan yang dilakukan oleh R.A Kartini sangat erat keterkaitannya dengan isu gender pada saat ini. Konsep gender merupakan peran dan status yang melekat pada laki-laki dan perempuan berdasarkan kontruksi sosial budaya yang di pengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman, bukan berdasarkan perbedaan biologis.

Perjuangan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan yang telah diperjuangkan oleh R.A Kartini sejak 1908 baik dalam bidang pendidikan dan bidang yang lainya merupakan inspirasi dan motivasi bagi seluruh kaum perempuan Indonresia untuk terus berpartisipasi dan berkontribusi dan mempunyai kesempatan yang sama dalam mengisi pembangunn.

Perjuangan  R.A Kartini dalam melepaskan belenggu perempuan dari segala bentuk diskriminasi menjadi semanagat kaum perempuan lainya, semangat tersebut diwujudkan dengan diadakannya Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta yang kemudian  tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Ibu.

Kesetaraan gender merupakan hak asasi manusia, dimana hak tersebut bisa mendapatkan kehidupan secara terhormat, bebas menetukan pilihan hidup, bebas dari rasa ketakutan. Ini bukan menjadi hak kaum laki-laki saja pada hakikatnya perempuanpun mempunyai hak yang sama.

Sangat perlu juga untuk di pahami kesetaraan gender tidak harus di pandang sebagai hak dan kewajiban yang sama persis tanpa pertimbangan, kesetaraan gender juga tidak diartikan segala sesuatu harus mutlak sama dengan laki-laki

Hasil pemikiran, perjuangan dan perlawanan yang dilakukan R.A Kartini pada masanya memberikan makna yang kuat bagi kaum perempuan dari masa ke masa, banyak hal yang dilakuan perempuan Indonesia saat ini; mendapatkam kesetaran dalam hak pendidikan, kesempatan untuk berkarya, memperkuat penghapusan kekerasan, membangkitkan kualitas hidup perempuan.

Untuk itu Perlu dilakukan sosialisasi secara masif dan terus menerus terhadap isu kesetaraan gender, bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam aspek kehidupan.

Apabila perempuan berdaya dari sisi pendidikan, ekonomi, kesehatan dan aspek yang lain tentu ini akan berdampak pada kesejahteran masyarakat dan cita-cita untuk mewujudkan visi Indonesia Maju 2045 akan dapat tercapai. Namun yang juga harus dipahami sejauh mana perempuan dapat disetarakan dengan laki-laki karena untuk posisi tertentu dan mutlak perempuan tidak bisa menduduki posisi laki-laki.

Merupakan tugas bersama dalam pencapaian yang lebih optimal isu kesetaraan gender di negara ini, baik pemerintah, media, ketersedian data, dan partisipasi masyarakat  mempunyai peran yang sama pentingnya dalam mengusung hadirnya kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki untuk berkarya diberbagai bidang publik.

Momentum peringatan Hari Kartini hendaklah terus bergelora di tengah arus informasi dan modernisasi yang terjadi. Selamat memperingati Hari Kartini 2022 untuk para perempuan Indonesia. (*)

Oleh:
Harken, S.Pd.Ek
Ketua Forum TBM Kabupaten Natuna.
Fasilitator Daerah Desa Ramah Perempuan Dan Peduli Anak Kabupaten Natuna.


Berita Terkait