Apa Kabar Migor dan Nasgor?

Apa Kabar Migor dan Nasgor?

Ilustrasi (Media Indonesia)

Oleh: Melan

Berita yang tengah hangat di kalangan masyarakat adalah tentang melonjaknya harga migor atau yang dikenal dengan minyak goreng.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), harga minyak goreng pada Desember 2021 naik 34 persen dibandingkan Desember tahun sebelumnya, yaitu dari 15.792 per liter menjadi 21.125 per liter. Ini menunjukkan angka yang cukup drastis sekali, lalu apa kabar sampai Maret 2022 sekarang?

Bahkan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan, kenaikan tersebut berpotensi terus bergerak sampai kuartal 1 2022 atau Maret 2022 yang disampaikan dalam diskusi Indef yang disiarkan secara virtual.

Berbagai asumsi pun terus bertebaran bebas, seperti pada kasus-kasus kelangkaan barang sebelumnya. Dalam fenomena minyak goreng ini asumsi yang paling mendasar adalah adanya dugaan oknum yang menimbun minyak goreng sehingga menyebabkan kelangkaan dan melonjaknya harga pasaran.

Dan pada kenyataan di lapangan, di kemukakanlah sejumlah fakta bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya lonjakan harga minyak goreng, diantaranya adalah naiknya harga CPO dunia yang menjadi bahan baku minyak goreng. Sepanjang 2021 lalu, harga CPO sudah mengalami kenaikan 29 persen.

Selanjutnya faktor yang kedua adalah kenaikan biaya operasional pada rantai pasok dan rantai produksi minyak goreng. Kenaikan ini salah satunya disebabkan oleh peningkatan biaya logistik laut yang telah terjadi akhir 2021 lalu.

Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena ini, dampak yang paling nyata kembali dirasakan oleh NASGOR (Nasib Golongan Rendah).

Bagi masyarakat golongan rendah/menengah ke bawah, kenaikan yang terjadi terhadap minyak goreng yang merupakan bahan penting bagi kebutuhan dapur akan menyebabkan penambahan kesulitan, padahal belum lagi pemulihan ekonomi akibat dampak dari pandemi Covid-19 ini.

Muncul masalah-masalah baru yang menjadi ekor dari pandemi ini, selain IRT atau ibu rumah tangga yang ikut resah, apa kabar dengan pedagang kecil-kecilan atau UMKM yang pada umumnya menggunakan bahan minyak goreng sebagai bagian dari jualannya?

Jika di minimarket dan supermarket dapat di jangkau dan di lakukan manipulasi oleh kaum atas atau orang yang berada dengan membeli minyak goreng berkali-kali dengan anggota keluarga yang berbeda, itu karena mereka memiliki uang yang cukup untuk melakukan hal itu, lantas bagaimana dengan mereka yang NASGOR?

Ketidak seimbangan keadaan ini yang seharusnya menjadi perhatian lebih, sebab golongan rendah selalu menjadi pihak paling terdampak. Dikutip dari kompas tv dikatakan bahwa salah satu dampak kenaikan harga minyak goreng membuat penjual gorengan menambah modal jualan dan pastinya tidak berani menaikan harga jual gorengan, bahkan untung yang di dapatkan juga menjadi sedikit.

Bayangkan situasi yang serba salah ini, kalau tidak ada tindakan dari pihak pemerintah dan semua pihak yang terdampak ini, maka harga migor akan terus melambung dan nasib golongan rendah pun di pertanyakan.

Adapun bentuk cara yang dapat di buat adalah lakukan dinamika operasional yang harus tepat sasaran, pastikan tidak ada penyimpangan sama sekali terkait usaha untuk menstabilkan keadaan ini.

Operasional yang tepat juga harus dilakukan para pedagang kecil sembari menunggu upaya pemerintah dalam mengatasi hal ini, lakukan minimalisir penggunaan minyak goreng, namun tetap menjalankan usaha yang telah dijalankan guna mempertahankan hidup yang harus terus berjalan.

Pihak pemerintah pun harus tetap membuka kuping dengan lebar guna mendengar jeritan rintih dari para pedagang kecil.

Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.