Jaya di Udara, Perkasa di Laut

Jaya di Udara, Perkasa di Laut

Robby Patria.

Oleh : Robby Patria*

THE Economist menyebutkan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ekonomi global, perdagangan, dan investasi lintas batas.

Media terkemuka yang sudah berumur 200 tahun lebih itu menunjukkan selama pandemi sejak 2020, perdagangan barang global turun sebesar 8%, sementara arus investasi asing langsung (FDI) turun dengan rekor 35% menjadi 1 triliun dolar AS, angka terendah sejak 2005.

Diprediksi, pada 2050,  populasi dunia akan mencapai angka 10 miliar. Di tahun 2021 sudah menembus 7 miliar manusia. Sejurus dengan  bertambahnya populasi, menyebabkan permintaan pangan global diperkirakan akan terus tumbuh secara signifikan, memberikan tekanan lebih lanjut pada sistem pangan global. 

Dan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan salah satu tersibuk di dunia harus dimanfaatkan Indonesia secara maksimal.

Pemerintah mengambil peluang tersebut dengan menjadikan Batam sebagai new port di Selat Malaka. Nah menariknya, pilihan itu jatuh di Batam sebagai pelabuhan raksasa berkonsep  modern tersebut yang nantinya berada di  Kawasan Tanjungpinggir, Sekupang, Batam.

Indonesia benar benar akan memanfaatkan letak kawasan strategis. Banyak pelabuhan besar di bawah kendali Pelindo akan memaksimal dan memanfaatkan potensi perdagangan dunia. 

BUMN Pelindo sudah bersatu dari Pelindo 1 hingga 4 menjadi satu Pelindo. Di mana dalam setahun data dari pelabuhan di bawah Pelindo kurang lebih hampir 18 juta sampai dengan 19 juta TEUs.

Pelabuhan lama yang sudah beroperasi seperti  Pelabuhan Malayati, Belawan, Kuala Tanjung, Dumai, Batam, Jakarta, Banten, Makassar, Surabaya, Semarang, Samarinda, Balikpapan, hingga Manado dioptimalkan di bawah satu kendali manajemen Pelindo. 

Pemerintah Pusat menyadari letak strategis Batam harus dimanfaatkan dengan sebaik baiknya dalam rangka menangkap peluang duit masuk dari alur perdagangan Selat Malaka. Batam akan menjadi kota pelabuhan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Nilai ekspor Kota Batam Desember 2021 terbesar melalui Pelabuhan Batu Ampar US$718,43 juta; disusul Pelabuhan Sekupang US$227,89 juta; Pelabuhan Kabil/Panau US$209,01 juta, Pelabuhan Belakang Padang US$134,18 juta, dan Pelabuhan Pulau Sambu US$2,50 juta. Kontribusi kelima Pelabuhan adalah sebesar 99,93 persen dari kumulatif ekspor Kota Batam Januari-Desember 2021.

Jika jadi, maka akan menjadi pelabuhan raksasa dengan area datar pelabuhan luasnya 94 hektare, yang akan ditambah luasnya melalui reklamasi yang mencapai 236 hektare.

Tentu kita tahu, saat ini, sekitar 90% kapal dunia lalu-lalang di Poros Maritim Dunia yang melalui perairan Indonesia, yakni 80% di Selat Malaka dan 10% lainnya melintasi Selat Makassar (detik.com).

Di Selat Malaka, jumlah kapal yang melintas lebih dari 120.000 dengan mengangkut 90 juta TEUs kontainer per tahun. Singapura dan Malaysia masing-masing mampu menyedot sekitar 40 juta TEUs, Thailand 10 juta TEUs, sedangkan Indonesia masih di bawah Singapura dan Malaysia.

Bayangkan wilayah Indonesia membentang dari Aceh hingga Kepri berada di Selat Malaka, kita baru mendapatkan jatah di bawah negara tetangga. Padahal Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di Selat Malaka yakni 600 mil tidak mendapat limpahan dari Selat Malaka.

Sedangkan Singapura dengan garis pantai hanya 15 mil dan Malaysia 200 mil masing-masing bisa meraup Rp300 triliun dari transshipment di lintasan itu.

Dengan kondisi eksisting, pelabuhan Batuampar, Pelabuhan Sekupang, dan di Kabil dianggap masih kurang, maka kebijakan membangun new port di Sekupang, pemerintah akan menambah pelabuhan baru. 

Walaupun masih diragukan beberapa pihak bahwa pelabuhan itu akan dibangun dikarenakan kepemimpinan Joko Widodo dua tahun lagi selesai. Namun keseriusaan pemerintah dilihat dari kenjungan stakeholder terkait ke Batam untuk mempercepat pembangunan sebelum 2024. 

Rombongan diterima Muhammad Rudi, Kepala BP Batam yang sudah menyatakan mendukung penuh kebijakan pembangunan new port di Tanjungpinggir.

Rencananya pelabuhan baru ini akan terhubung dengan Pelabuhan Kuala Tanjung yang sudah dahulu beroperasi 2019. Begitu juga dengan pelabuhan Dumai dan Belawan. Artinya potensi 120.000 kapal yang lalu lalang di Selat Malaka itu harus ditangkap peluangnya oleh Batam. 

Kalaupun jadi dibangun, maka Batam akan memiliki new port handal yang menjadikan Indonesia memanfaatkan maksimal kelebihan letak strategis Batam di jalur perdagangan sibuk dunia yakni Selat Malaka.

Dan itu melengkapi Batam sebagai kota industri dan juga kota yang banyak pelabuhan. Dua sektor yang seharusnya saling integrated dan berpadu. 

Jika sudah dibangun dan dapat digunakan, Batam kian mendunia. Jadi persinggahan kapal kapal dari pelbagai negara. Dan kita mendapatkan manfaat dari keberadaan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan dunia. 

Tentu harapan kita bersama Batam maju dengan mengoptimalkan kelebihan strategis di antara dua negara Singapura dan Malaysia. Pemerintah tentu tidak salah merebut pangsa pasar udara melalui perluasan Bandara Hang Nadim. Dan juga menambah pelabuhan baru di Tanjungpinggir, Sekupang untuk merebut banyaknya pelayaran di Selat Malaka. 

Ya, Batam ke depan bisa dikatakan berjaya di udara karena akan dijadikannya Hang Nadim hub penerbangan Asia. Serta perkasa di laut dengan adanya new port Tanjungpinggir, diharapkan menarik minat kapal kapal yang melintas Selat Malaka bersandar di pelbagai pelabuhan di Batam.*


Berita Terkait