Menelisik Makna Tersurat Puisi `Walau` Karya Datuk Seri Sutardji Calzoum Bachri

Menelisik Makna Tersurat Puisi `Walau` Karya Datuk Seri Sutardji Calzoum Bachri

Asromah (Foto: dok.pribadi)

Oleh: Asromah

WALAU
Karya : Datuk Seri Sutardji Calzoum Bachri
Tahun : 1979

Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah

Dulu pernah kuminta Tuhan dalam diri
Sekarang tak

Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat

Jiwa membumbung tinggi

Tujuh puncak membilang bilang
Nyeri hari mengucap ucap
Di butir pasir kutulis rindu rindu

Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas Allah

 

Datuk Seri Sutardji Calzoum Bachri (SCB), dikenal dan sudah dinobatkan sebagai Presiden Penyair Indonesia. Beliau adalah anak ke lima dari sebelas bersaudara. Lahir di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941.

Awalnya, Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

Ia pernah menjadi redaktur rubrik budaya `Bentara` di Kompas. Selain itu, sejak 1979 ia menjadi redaktur Horison.

Ia mendapatkan gelar `Datuk` pada 7 November 2018. Gelar tersebut diberikan langsung oleh Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) sebagai penghormatan adat. Pemberian gelar itu diberikan di Gedung Lembaga Adat Melayu Riau, Jl. Diponegoro, Pekanbaru.

Ia adalah seorang penulis puisi dan sajak. Salah satu karya puisi yang fenomenal dan padat makna ialah “Walau’’. Didalam puisi tersebut seolah ia menyampaikan pesan tentang dirinya yang mengakui kelemahan dihadapan pencipta.

Pada bait ;
Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas Allah

Pada bait tersebut ia seolah menyampaikan walaupun dia seorang penyair yang fenomenal dan terkenal dengan hasil karya-karyanya, ia tetap tidak sebanding dengan kebesaran Allah SWT.

 

Pada bait ;
Dulu pernah kuminta Tuhan dalam diri
Sekarang tak

Pada bait tersebut ia seolah menyampaikan tentang ia yang dulu pernah meminta tuhan didalam dirinya. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa sekarang ia tak lagi meminta itu, kesadaran akan ia bukan lah apa-apa tak ada yang dapat menandingi Allah walau sehebat apapun ia. Dan ia pun menyadari bahwa ia bukanlah Tuhan.

Pada bait ;
Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat

Jiwa membumbung tinggi

Tujuh puncak membilang bilang
Nyeri hari mengucap ucap
Di butir pasir kutulis rindu rindu

Pada bait tersebut ia juga seolah menyampaikan bahwa jika suatu saat ia mati, mungkin ia mati layaknya seperti batu dan pasir. Dengan kesakitan dan ketakjuban ia akan menuliskan kalimat rindu kepada Allah.

Pada bait ;
Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas Allah

Dibait terakhir ia juga seolah menyampaikan sehebat apapun ia merangkai kata menjadi banyak karya, namun tak mampu ia jinakkan walaupun sampai habis huruf-huruf untuk menuliskan kemahabesaran Allah SWT.

Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.