Kenali 3 Jenis Kecanduan Internet yang Mengintai Anak-anak

Kenali 3 Jenis Kecanduan Internet yang Mengintai Anak-anak

Ilustrasi.

Jakarta - Orangtua harus berperan dalam mengawasi anak-anaknya saat mengakses layanan internet. Jika tidak, risiko dan bahaya kecanduan internet mengintai anak-anak.

Menurut Yazid Yanwar Saputra, Founder Meraki Agency, Kecanduan internet ini termasuk dalam kategori gangguan perilaku.

Anak yang kecanduan internet berisiko mengalami masalah fungsi, misalnya jadi bolos sekolah, tidur berkurang, hingga prestasi sekolah yang turun," papar Yazid dikutip dari Suara.com, Selasa (26/10/2021).

Yazid mengatakan kecanduan internet yang dialami anak terjadi dalam 3 bentuk yakni kecanduan film, kecanduan pornografi, hingga kecanduan game.

1. Kecanduan Pornografi

Yazid mengatakan internet menjadi salah satu sumber terbesar di mana anak dan remaja mendapatkan akses pornografi. Sehingga, sangat mungkin anak mengalami kecanduan jika penggunaan internet tidak diawasi dan dibatasi.

"Kecanduan pornografi pada anak dan remaja sangat berbahaya karena mereka berpotensi mencontoh tontonan tersebut. Bisa-bisa mereka malah jadi pelaku kejahatan, bila tidak mampu mengendalikan dorongan nafsunya," tutur Yazid.

2. Kecanduan film

 

Tontonan film yang ada di internet bisa berubah dari hiburan menjadi bencana, ketika anak kecanduan nonton film.

Yazid mengingatkan bahwa kecanduan film juga bisa membuat anak mengalami masalah kesehatan, mulai dari gangguan tulang punggung, garis pinggang yang lebih besar, aktivitas fisik rendah, hingga kecemasan.

"Kok bisa mengalami kecemasan? Biasanya terjadi ketika anak takut ketinggalan episode berikutnya, sehingga jadi melalaikan tugas sekolah dan mengabaikan keluarga, itu bisa banget terjadi. Belum lagi adanya perbedaan nilai dan budaya, yang bisa diikuti anak," paparnya.

3. Kecanduan game

Penggunaan internet tanpa pengawasan pada anak, terutama pada saat ia bermain game online, bisa juga menyebabkan kecanduan.

Kecanduan game bisa membuat anak mengalami isolasi sosial, konflik interpersonal, hingga menarik diri dari lingkungan, karena berbagai hadiah alias reward yang ditawarkan saat bermain game.

"Bahkan WHO pada tahun 2014 mengklasifikasikan kecanduan game sebagai gangguan kesehatan jiwa. Ini harus menjadi perhatian bagi orangtua," paparnya lagi.

Lalu, bagaimana seharusnya orangtua bersikap? Yazid menekankan cara terbaik tentu saja dengan mencegah anak mengalami kecanduan.

Namun menurutnya, melarang sama sekali penggunaan internet dan gadget pada anak bukanlah langkah yang tepat. Sebab bagaimanapun, penggunaan internet kini tidak bisa dihindari, termasuk untuk anak sekolah dan bersosialisasi.

Selain pendampingan dan pembatasan penggunaan internet, anak juga perlu dikenalkan dengan risiko-risiko yang bisa dihadapinya jika kecanduan.

"Batasi, jangan dilarang. Awasi, jangan dihalangi. Orangtua harus bisa memberikan contoh penggunaan internet yang baik, mismalnya dengan stop penggunaan gadget saat makan bersama, berkendara, beribadah, ataupun ketika anak meminta waktu orangtua," papar Yazid.