Bantu Tekan Emisi Karbon

Penetrasi Kendaraan Listrik Butuh Bangun Ekosistem Lebih Cepat

Penetrasi Kendaraan Listrik Butuh Bangun Ekosistem Lebih Cepat

Tangkapan layar acara Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021 pada hari keempat.

Batam, Batamnews - Elektrifikasi atau proses powering menggunakan listrik pada sektor transportasi yang berbasis energi terbarukan menjadi salah satu pendorong menekan emisi karbon, dan mencegah kenaikan suhu bumi melebihi 1,5 derajat celsius.

Hal itu disampaikan Ahli senior di McKinsey & Company, Rahul Gupta dalam analisisnya yang dipaparkan pada hari keempat pelaksanaan acara Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021. Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual melalui laman IETD.info.

Dalam analisisnya, Rahul menyebutkan bahwa ada tiga pendorong utama percepatan adopsi kendaraan listrik, yakni tersedianya regulasi mendukung, infrastruktur yang memadai dan keterjangkauan harga.

Menurutnya, ada peluang ekonomi besar bagi Indonesia jika mampu menciptakan ekosistem kendaraan listrik, karena Indonesia berpotensi menjadi pasar terbesar setelah China dan India.
 
“Kami memproyeksikan kendaraan roda dua menjadi penggerak utama dalam hal penetrasi (kendaraan listrik) yang lebih tinggi secara signifikan,” ujar Rahul, Kamis (23/9/2021).

Wakil Presiden Pengembangan dan Standarisasi Teknologi, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Zainal Arifin yang juga hadir sebagai narasumber pada event tersebut menyampaikan bahwa jika dibandingkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, maka infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia masih terbatas.

“Kami sudah membangun 32 stasiun pengisian kendaraan listrik di 14 kota. Berdasarkan roadmap (peta jalan kendaraan listrik-red) kita akan memiliki lebih dari 2.400 unit untuk stasiun pengisian daya kendaraan listrik di seluruh Indonesia dalam 5 tahun ke depan,” katanya.
 
Ia menambahkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur kendaraan listrik, pembangunan stasiun pengisian daya akan dipenuhi sebesar 40 persen oleh PLN, sementara sisanya akan dibangun oleh perusahaan swasta.

 

Selain itu, Zainal juga menuturkan perbedaan harga yang jauh dengan kendaraan konvensional membuat permintaan kendaraan listrik kurang menggembirakan.

Mengenai persoalan harga tersebut juga menjadi sorotan Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan, Kementerian Perindustrian, Sony Sulaksono.

Sony mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah menetapkan target 1,6 juta roda dua dan 400 ribu kendaraan listrik roda empat pada 2025. Sementara hingga kini, adopsi kendaran listrik di Indonesia berada di bawah 2.000 unit.
 
Menurutnya pemerintah telah berupaya menurunkan harga dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 yang mengatur insentif dan disinsentif kendaraan listrik dan kendaraan konvensional.
 
“Misalnya dengan pemberian 0 persen pajak mewah untuk kendaraan listrik,” ujarnya.
 
Lebih lanjut ia menyoroti bahwa mahalnya harga kendaraan listrik juga dipengaruhi oleh biaya baterai yang mencakup 40-50 persen dari total biaya kendaraan listrik.
 
Menurut Sony, jasa penukaran baterai (battery swap stations) menjadi solusi seiring masih dikembangkannya pengembangan dan penelitian terkait baterai kendaraan listrik, sehingga bisa mengurangi beban biaya.

Ia menjelaskan, menggunakan skema ini, nantinya perusahaan transportasi menyewakan baterai listrik untuk masyarakat. Biaya yang dikenakan bisa berdasar kilometer yang ditempuh kendaraan listrik.

 

Pada kesempatan yang berbeda, Peneliti dan Spesialis Energi dan Kendaraan Listrik IESR, Idoan Marciano menyampaikan bahwa hal yang perlu dilakukan untuk kesenjangan harga kendaraan listrik adalah peningkatan insentif pajak dari pemerintah, penggunaan model kendaraan listrik yang lebih terjangkau dan cocok dengan preferensi masyarakat Indonesia, serta secara paralel mempercepat pembangunan industri baterai domestik.
 
“Pengembangan industri baterai domestik menjadi hal yang penting untuk mendukung upaya pencapaian target dekarbonisasi mendalam. Keberadaannya akan mendukung penetrasi kendaraan listrik dan penting bagi jaringan listrik seiring dengan peningkatan bauran energi terbarukan,” ujarnya.
 
Presiden Direktur Indonesian Battery Company (IBC) mengatakan, pihaknya sedang dalam proses produksi dan pengembangan baterai listrik. Selain itu IBC juga melakukan pengembangan daur ulang baterai untuk mengantisipasi limbah baterai.
 
“Pengembangan ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan cepat, kami butuh investasi jumlah besar. Untuk mengembangkan 140 GWh kapasitas baterai, kami butuh investasi sekitar USD 15.3 miliar dalam jangka waktu tiga hingga empat tahun,” ujar Toto dalam IETD 2021.
 
Toto mengatakan, selain proses pengembangan baterai listrik, IBC juga melibatkan berbagai mitra untuk merancang rantai pasokan dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan rantai ekosistem kendaraan listrik.
 
“Pemerintah perlu mendorong kendaraan listrik untuk masuk ke segmen biaya menengah. Kendaraan roda dua rentang harganya juga perlu dibuat terjangkau,” kata Toto.

Kehadiran kendaraan listrik juga bukan merupakan hal baru di Batam, pada 7 Desember 2017 dengan merk Magnum yang merupakan Motor listrik rakitan pertama di Batam.

Namun penjualan kendaraan listrik tersebut belum dapat menggantikan sepeda motor yang berbahan bakar fosil.

(ret/rilis)