Presiden Prancis Desak Cabut Pembatasan Ekspor Vaksin Covid

Foto: AP/Francois Mori

Paris, Batamnews - Presiden Prancis Emmanuel Macron telah meminta AS untuk mencabut pembatasan ekspor vaksin Covid-19 dan bahan bakunya. Pernyataan ini disampaikan di tengah perdebatan yang terjadi antara Eropa dan AS tentang cara terbaik untuk meningkatkan produksi vaksin global.

"Kunci untuk memproduksi vaksin lebih cepat untuk semua negara miskin atau negara perantara adalah memproduksi lebih banyak," kata Macron, seperti dikuti dari BBC, Kamis (13/5/2021).

Baca juga: Didukung Latih Prancis jika Deschamps Pergi, Begini Jawaban Zidane

Macron mengatakan sejauh ini 100% vaksin yang diproduksi di Amerika Serikat ditujukan untuk pasar Amerika. Selain itu, AS yang telah berjanji untuk menyumbangkan 60 juta dosis dari persediaan AstraZeneca dalam beberapa bulan mendatang telah memberlakukan pembatasan pada ekspor bahan mentah yang dibutuhkan untuk memproduksi vaksin.

Macron mencatat Inggris juga telah membatasi ekspor vaksin. Perdana Menteri Boris Johnson sebelumnya membantah adanya larangan, namun informasi yang tersedia untuk umum menunjukkan vaksin tidak diekspor dari Inggris.

Berbeda dengan Eropa, AS lebih mendukung pengabaian hak paten untuk memperbanyak pasokan vaksin secara global. Hal ini seiring dengan pendapat Afrika Selatan dan India yang menganggap pengabaian hak paten berarti memberikan resep rahasia vaksin agar dapat diproduksi negara lain dan berpotensi menurunkan biaya.

Rencana tersebut juga mendapat dukungan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Paus Fransiskus.

Seperti diketahui, India saat ini berada dalam cengkeraman tsunami Covid-19. Perdana Menteri India Narendra Modi berharap mendapatkan dukungan Uni Eropa untuk rencana pengabaian hak paten. Namun, para pemimpin Eropa tetap skeptis dan menilai peningkatan ekspor dan produksi adalah cara terbaik untuk menyelesaikan krisis pasokan vaksin.

Baca juga: Prancis Lobi Prabowo Demi Jual Jet Tempur Rafale

Saat ini, sekitar 1,25 miliar dosis telah diberikan di seluruh dunia. Namun, kurang dari 1% diberikan kepada 29 negara termiskin di dunia, menurut kantor berita AFP.

Sebaliknya, Negara-negara kaya terus menggenjot program vaksinasi mereka. Di Inggris, 67% populasi telah menerima dosis pertama dan di AS 56% dari penduduk yang memenuhi syarat telah disuntikan satu dosis. Selain itu, UE juga baru saja menyetujui pembelian 900 juta lebih dosis vaksin Pfizer / BioNTech.

(fox)