https://www.batamnews.co.id

4 Tahun Misteri Kematian Janda Cantik di Bintan Tak Terkuak

Yuliana Pratiwi (Foto: Facebook/Batamnews)

Bintan - Kasus dugaan pembunuhan seorang janda muda, Yuliana Pratiwi belum terungkap hingga kini. Kasus tersebut sudah jalan 4 tahun. Namun sepertinya polisi belum menemukan titik terang.

Mayat Yuliana ditemukan dalam septic tank di belakang RM Pondok Ciung, Jalan Sei Datuk, Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur (Bintim) 2017 lalu.

Tabir kematian janda beranak tiga tersebut masih belum terungkap.

Baca juga: Tiwi Diduga Jadi Korban Pembunuhan?

Kakak korban, Fenty Herawaty berharap polisi segera mengungkap kematian adiknya. Sejak ditemukan jasadnya pada 6 Januari 2017 hingga 6 Januari 2021 ini belum ada kejelasan.

"4 Desember 2016 adikku dikabarkan hilang. Lalu 6 Januari 2017 telah ditemukan menjadi jenazah di lobang septic tank dan sampai 6 Januari 2021 belum juga terungkap," ujar Fenty, Rabu (6/1/2021).

Yulianti Pratiwi saat ditemukan tewas masih berusia 27 tahun.

"Kami sekeluarga sangat-sangat kehilangan. Semoga adik kami tenang di alam sana. Doa terbaik kami panjatkan pada Yang Kuasa semoga husnul khatimah, amin," katanya.

Diakuinya sudah dua tahun terakhir belum ada kabar terbaru dari polisi. "Sudah dua tahun ini gak ada pihak kepolisian yang menghubungi saya lagi. Semoga tahun ini ada titik terang terhadap kasus kematian adik saya," jelasnya.

 

Ketiga anak mendiang Tiwi saat ini menjadi yatim piatu.

Dua anak almarhumah yaitu anak pertama dan ketiga diasuh sang nenek, seorang lagi yaitu anak kedua diasuh oleh Fenty.

Ia menceritakan, anak pertama mendiang Tiwi kini duduk di bangku sekolah SLB di Senggarang. Kemudian anak keduanya itu dimasukan ke sekolah pesantren sedangkan, yang bungsu belum disekolahkan karena tidak ada biaya.

Baca juga: Kasus Pembunuhan Janda Dalam Septic Tank di Bintan Masih Gelap

Ia juga berharap pemerintah daerah (pemda) bisa membantu ketiga putra dan putri mendiang. Diakuinya selama ini ketiga anak mendiang Tiwi mendapatkan bantuan dari Baznas sebesar Rp 200 ribu/bulan.

"Kemarin anak kedua almarhumah saya biayakan untuk sunat. Kini suami saya gak kerja, jadi hidup kami pas-pasan. Bahkan belum bisa biayakan anak bungsu almarhumah untuk sekolah. Semoga pemerintah sudi membantu untuk meringankan biaya kehidupan ketiga anak almarhumah," ucapnya.

(ary)