Efek Jangka Panjang Corona Disebut Bisa Picu Kerusakan Jantung

Ilustrasi

Jakarta - Gejala virus Corona (Covid-19) yang mengkhawatirkan membuat para ilmuwan menemukan potensi kerusakan jantung jangka panjang pada pasien Covid-19. Seperti yang terjadi pada Melissa Vanier (52). Ia pertama kalinya jatuh sakit akibat virus Corona pada akhir Februari setelah kembali dari perjalanan ke Kuba di Karibia.

Pada Mei, ia sudah bebas dari Covid-19, tetapi dia menyadari detak jantungnya tampak tidak normal dan segera mencari arahan medis. Kala itu, ia tak tahu banyak soal efek jangka panjang dari virus Corona, tetapi ahli jantung melakukan tes pada Melissa dan mengukur aliran darah ke jantungnya.

"Itu menunjukkan dia menderita penyakit jantung iskemik, yang berarti jantungnya tidak mendapatkan cukup darah dan oksigen," sebut dokter Melissa.

Seperti Melissa, Nicola Allan (45) dari Liverpool, juga mengalami detak jantung yang lebih tinggi dari biasanya dua bulan setelah tertular virus Corona.

"Bisa di tengah malam atau siang hari. Saya akan mulai gemetar dan harus berpegangan pada dinding untuk mendapatkan dukungan. Tetapi ahli jantung masih tidak mengerti mengapa itu terjadi," sebut Allan.

Dikutip dari The Guardian, kedua cerita tersebut mencerminkan tren yang lebih luas bahwa pasien dapat mengalami kerusakan jantung yang berlangsung lama setelah gejala awal Covid-19 menghilang. Peter Liu, Kepala Ilmiah di Universitas Ottawa Heart Institute, berpartisipasi dalam analisis data klinis untuk memahami dampak Covid-19 pada jantung.

Liu mengatakan timnya menemukan virus Corona memiliki dampak 'mengejutkan' pada kesehatan jantung, yang lebih umum terjadi pada pasien Covid-19 daripada SARS.

"Virus SARS memang menyebabkan kerusakan jantung pada sebagian kecil pasien. Namun, tingkat cedera jantung akibat Covid-19, seperti yang tercermin dari pelepasan biomarker seperti troponin pada pasien rawat inap, cukup mengejutkan," ungkap Liu.

Dalam sebuah penelitian, yang dianalisis Liu, ahli jantung di rumah sakit Renmin Universitas Wuhan menemukan bahwa dari 416 pasien, hampir 20 persen mengalami cedera jantung. Liu mengklaim bahwa meskipun sepertiga dari pasien virus Corona menunjukkan bukti cedera jantung pada tes darah, banyak yang akan sembuh.

Ahli Elektrofisiologi Jantung, Raul Mitrani, dari University of Miami mengatakan, jumlah jaringan parut yang tersisa pada pasien setelah perawatan memainkan peran besar dalam menentukan prognosis jangka panjang pasien.

"Jika ada peradangan, mengakibatkan disfungsi jantung, ada peluang yang masuk akal untuk pulih. Jika sel-sel jantung mati dan digantikan oleh jaringan parut, maka di sinilah letak masalahnya tergantung pada berapa persen jantung yang terpengaruh," beber Mitrani.

"Jika kami melihat jaringan parut, dan terutama jika ada cukup banyak untuk merusak fungsi jantung, kami akan khawatir tentang potensi gagal jantung dan aritmia di masa depan," pungkasnya.

(ruz)
SHARE US :