Kenaikan Harga Rumah Edan-Edanan Mulai Jinak, Kok Bisa?

Kenaikan Harga Rumah Edan-Edanan Mulai Jinak, Kok Bisa?

Ilustrasi.

Batam - Kenaikan harga properti khususnya rumah di Indonesia mulai mengalami perlambatan terutama pada tiga bulan pertama 2020. Sektor properti memang cukup parah dihantam dampak pandemi yang belum berkesudahan.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) menunjukkan kondisi demikian. Pada saat bersamaan penjualan rumah kuartal I-2020 juga mengalami penurunan tajam sampai -43,19% (yoy), jauh lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh terbatas sebesar 1,19% (yoy). Salah satu faktor penghambat penjualan properti residensial adalah kondisi darurat akibat pandemi Covid-19 yang tengah merebak (15,8%),

Survei ini dilakukan terhadap pengembang proyek perumahan di 18 kota, Jabodetabek da Banten, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Manado, Makassar, Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, Bandar Lampung, Palembang, Padang, Medan, Batam, Balikpapan, Pekanbaru, dan Samarinda.

Survei BI menunjukkan harga properti residensial Tanah Air pada kuartal I-2020 tumbuh melambat dan penjualannya terkontraksi. Sektor properti memang tengah terguncang akibat merebaknya pandemi Covid-19 di dalam negeri yang membuat permintaan dari konsumen lesu dan penyaluran kredit makin ketat.

Survei ini mengindikasikan kenaikan harga properti residensial di pasar primer mulai melambat pada kuartal I-2020. Hal ini tercermin dari angka Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh hanya 1,68% (year on year/yoy), melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mampu tumbuh 1,77% (yoy). Kondisi perlambatan diperkirakan oleh BI akan makin parah pada triwulan II-2020, pertumbuhan harga ditaksir hanya 1,56% yoy.

Pada triwulan I-2020, pertumbuhan harga rumah besar memang paling yang terpukul yaitu hanya 0,86% yoy, justru rumah kecil mengalami kenaikan di atas rata-rata yaitu mencapai 2,83% yoy.

"Perlambatan pertumbuhan IHPR secara tahunan sejalan dengan melambatnya kenaikan biaya tempat tinggal yang dikeluarkan oleh rumah tangga pada triwulan I-2020. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sub-kelompok pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan tempat tinggal/perumahan (Tahun Dasar 2018=100) sebesar 1,21% (yoy) lebih rendah dari 1,61% (yoy) pada triwulan sebelumnya" tulis BI dalam laporan hasil surveinya.

Bila dibandingkan dengan triwulan I-2019 kenaikan yoy sempat mencapai 2,06%. Bahkan kondisi kenaikan harga lebih tinggi lagi pada triwulan I-2018 yang sempat naik 3,69% yoy. Pada saat akhir booming properti kenaikan harga rumah pada triwulan I-2014 sempat masih menembus hampir 8% yoy. Puncak kenaikan harga rumah gila-gilaan selama satu dekade terakhir terjadi pada triwulan III-2013, sempat naik 13,51% yoy.

(fox)