https://www.batamnews.co.id

Video: Eksodus TKI dari Malaysia ke Batam Terus Berlangsung

Ribuan TKI di Pelabuhan Stulang Laut, Johor hendak kembali ke Indonesia. (Tangkapan layar)

Batam - Ribuan WNI dari Malaysia pulang ke Indonesia via Batam. Hal ini semenjak negara tersebut melakukan lockdown terkait penanganan Covid-19. Hampir semua perusahaan tempat mereka bekerja tidak beroperasi, termasuk mereka yang bekerja sebagai pekerja di sektor informal.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Batam, Achmad Farchanny menyebutkan, kedatangan WNI tersebut melalui Pelabuhan Batam Centre dan Pelabuhan Harbour Bay. "Per tanggal 30 Maret secara kumulatif kedatangan WNI sebanyak 1.542 orang," ujar Achmad, baru-baru ini.

Ia mengatakan, total WNI secara kumulatif ini berdasarkan health alert card (HAC) atau kartu kesehatan yang diterima pihak KKP.

Dari total WNI tersebut, 1.504 orang merupakan WNI yang datang dari Malaysia, sedangkan 38 orang merupakan WNI yang datang dari Singapura.

 

Setiap kedatangan WNI tersebut terlebih dahulu dicek melalui thermal scanner untuk mengukur suhu tubuh. Kemudian juga diberikan HAC atau kartu kesehatan. "Sesuai proses yang biasa kami lakukan," katanya.

Wakil Wali Kota Batam yang juga sebagai ketua Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Amsakar Achmad membenarkan kedatangan WNI dari kedua negara tersebut. "Prosesnya masih terus berlangsung," ujar Amsakar di Engku Putri, Selasa (31/3/2020).

Amsakar menjelaskan bahwa kedatangan WNI ke Batam adalah mereka yang kebanyakan kerja harian, bukan merupakan kebijakan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Sedangkan pemulangan WNI dibawah PJTKI terkonsentrasi di Kabupaten Karimun. "Kalau melalui Batam itu TKI, tapi yang kerja harian, bukan dibawah PJTKI," kata Amsakar.

Amsakar menyampaikan juga melakukan antispasi, yaitu mengecek kesehatan setiap WNI yang masuk ke Batam. Pada awalnya seluruh WNI dikumpulkan di asrama haji untuk dicek sesuai protokol kesehatan. "Dari pengecekan tersebut, 90 persen kami keluarkan dari asrama haji," jelasnya.

Namun metode itu dirasa kurang efektif karena saat dikumpulkan akan membuat kerumunan, sehingga dipilih cara lain yaitu hanya dicek kesehatan di pelabuhan.

Kemudian pihaknya memperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing, atau kembali ke daerah asal. Tetapi tetap bekerjasama dengan pihak Imigrasi dan KKP untuk melakukam pemantauan.

"Sudah diminta kontaknya, supaya bisa komunikasi intens dengan petugas, kalau ada gejala bisa diberitahukan, kami juga bekerjasama dengan pemerintah daerah asal para WNI tersebut," kata Amsakar.  

Amsakar menekankan bahwa WNI dari Malaysia dan Singapura sebagian besar merupakan warga Batam. "Ada juga kemarin 53 orang, disepakati langsung dikirim ke rumah rudenim, sorenya masuk lagi, juga langsung juga dikirim ke Tanjung pinang (observasi kesehatan)," kata dia.

(ret)