Perang Dunia Ketiga di Ambang Mata, 3 Skenario Konflik Iran-AS yang Mungkin Terjadi

Perang Dunia Ketiga di Ambang Mata, 3 Skenario Konflik Iran-AS yang Mungkin Terjadi

Rudal Iran.

Sekitar pukul 22.30 (GMT) kemarin Iran meluncurkan rudal balistik menyerang pangkalan militer Amerika Serikat dan pasukan koalisi di Irak. Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan serangan itu adalah bentuk balasan dan pertahanan diri setelah pesawat drone AS menewaskan Panglima Garda Revolusi Qassim Sulaimani Jumat lalu.

"Kami tidak ingin menambah eskalasi atau perang tapi kami akan mempertahankan diri dari berbagai bentuk agresi," kata Javad Zarif melalui akun Twitternya kemarin.

Dikutip dari laman Sputnik News, Rabu (8/1/2020), veteran militer AS dan pengamat keamanan Mark Sleboda membeberkan tiga skenario kemungkinan yang akan terjadi dalam konflik Iran-AS ini.


Skenario Pertama: AS Bersedia Menurunkan Ketegangan

"Serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di Irak adalah respons paling minim," ujar Sleboda. "Ini adalah serangan simbolis. Ini adalah serangan untuk menurunkan tingkat ketegangan. Serangan rudal itu tidak dimaksudkan untuk menimbulkan korban."

Sleboda menyebut Washington mengatakan tidak ada korban dari pihak Amerika dan mereka meragukan keterangan awal yang menyebut serangan rudal itu menewaskan 80 tentara AS. Sleboda juga mengatakan pihak Irak sudah memastikan tidak ada korban dari pihak mereka. Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengatakan Baghdad sebelumnya sudah diberitahu Iran bahwa negara itu akan melancarkan serangan ke wilayah Irak.

Menurut Sleboda, serangan ini adalah upaya pemerintah Iran agar tidak kehilangan muka.

Sleboda menyoroti fakta bahwa ketika rudal itu diluncurkan, jet tempur AS sudah diaktifkan di luar Qatar dan jet tempur Iran juga sudah mengudara tapi setelah Pentagon memastikan tidak ada dampak serius dari serangan itu makan jet tempur AS kembali ke pangkalan.

"Tampaknya, AS sejenak menerima tindakan penurunan ketegangan dari Iran," kata Sleboda. "Ini bukan berarti Iran tidak akan melancarkan serangan lagi di masa datang, mungkin juga lewat serangan yang terselubung seperti perang siber atau pembunuhan pejabat politik atau militer atau serangan balasan tidak langsung oleh sekutu mereka. Tapi saat ini mereka tidak ingin perang langsung."


Skenario Kedua: AS Membombardir Iran

Sleboda menilai kemungkinan akan ada konflik di dalam pemerintahan AS terutama yang disponsori kubu konservatif, termasuk Menteri Luar Negeri Mike Pompeo yang mungkin ingin mendorong konflik dengan Iran.

Di sisi lain, kata Sleboda, Pentagon tampaknya berupaya menurunkan ketegangan.

"Kita belum tahu seperti apa hasil akhirnya. Ini pertama kalinya dalam sekian dekade sebuah negara menyerang balik Amerika," kata Sleboda. "Masih banyak yang perlu diamati, bagaimana AS akan mendata kerusakan dan pertarungan politik macam apa yang akan terjadi di dalam Gedung Putih dan antara Gedung Putih dengan Pentagon saat ini."

Jika kubu konservatif menang di Washington maka AS akan menyatakan perang dan kemungkinan besar melancarkan serangan bom dan rudal.

 

Skenario Ketiga: Perang Darat AS Menginvasi Iran

Sleboda menuturkan, "Solusi terjauh dari konflik ini bisa berarti pergantian rezim di Teheran dan itu berarti perang darat di Iran."

Untuk melakukan itu maka dibutuhkan antara 500.000 sampai 1 juta tentara AS dan sekutu. "Invasi semacam itu membutuhkan undang-undang di AS dan perlu sedikitnya tiga hingga enam bulan untuk mempersiapkan semuanya. Hal itu tampaknya memang terlalu jauh tapi apa pun bisa saja terjadi."

Jika AS memutuskan perang maka kecil kemungkinan ada kekuatan lain yang bisa menurunkan ketegangan.

"Inggris dan Jerman sudah mengumumkan mendukung penuh pembunuhan Sulaimani dan mengutuk serangan balasan dari Iran. Dan tentu saja Arab Saudi dan Israel akan mendukung AS, begitu pula negara Teluk lain. Negara-negara yang menampung tentara AS seperti Qatar, Bahrain, dan seterusnya akan menjadi andalan untuk perang melawan Iran."

Sleboda menilai di sisi Iran, sekutu Negeri Mullah antara lain Irak, Hizbullah di Libanon, mungkin Hamas di Gaza, Huthi di Yaman dan sejumlah milisi Syiah di Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Rusia dan China akan memberi dukungan retorik dan politik bagi Iran tapi hampir pasti mereka tidak mau terlibat langsung dengan konflik ini. Jika makin serius, Rusia kemungkinan bisa memberikan bantuan kerjasama militer dan logistik bagi Iran."

(*)