Ketika Candu Gadget Seperti Kecanduan Narkoba

Ketika Candu Gadget Seperti Kecanduan Narkoba

ilustrasi.

Orangtua mana yang tidak khawatir ketika anak-anak mereka kecanduan Narkoba. Ketika anak kita masih sekolah saja sudah pandai merokok, orangtua pasti bimbang, rusuh dan resah.

Mereka akan marah atau memberi hukuman kepada anak-anaknya. Inilah kerisauan orangtua terhadap anak-anak yang  telah mereka lahirkan ketika sudah menyentuh narkoba dan pandai merokok.

Para pecandu narkoba cenderung mengalami ganguan jiwa ketika mereka sudah ketagihan. Karena narkoba memberikan dampak negatif bagi syaraf otak, perilaku dan sikap. Nah, ketika kita kecanduan, berbagai cara dilakukan para pecandu agar bisa mendapatkan barang haram tersebut.

Ada yang menjadi pengedar, mencuri dan bahkan merampok. Kecanduan pada narkoba memberikan efek negatif kepada pemakainya. Bahkan membuat dompet si pecandu 'kering' karena narkoba.
 
Mereka yang kecanduan pasti harus harus dipulihkan atau direhabilitasi. Saat ini banyak sekali lembaga rehabilitas mengobati mereka yang sudah ketagihan pada narkoba.  Namun, sadarkah kita, saat ini ada satu lagi pengaruh besar menghantui dan merusak anak-anak dan generasi kita. Bukan narkoba dan bukan juga rokok atau minuma keras. Namun ia adalah gawai (Gadget) atau smartphone.

Orangtua harus resah ketika anak-anak mereka sudah mulai kecanduan pada gadget dan smartphone. Saat ini banyak anak-anak mengalami ganguan jiwa akibat bermain gadget berlebihan. Berdasarkan data di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jawa Barat (Wartakotalive.com) terdapat 209 pasien kecanduan main handphene yang sedang di rawat di RSJ.  Mereka merupakan anak remaja atau bahkan anak sedang menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.

Tren kecanduan anak-anak bermain handphone mengalami peningkatan secara signifikan tiap tahun. Mengutip dari Wartakota, RSJ Jawa Barat yang berada di Cisarua, Kabupaten Bandung telah menangani ratusan pasien yang kecanduan bermain game handphone baik itu bermain game online, browsing internet, dan aplikasi lainya.

Data yang penulis tampilkan diatas merupakan gambaran bahwa pengaruh gadget memang tidak jauh bedanya dengan narkoba. Bayangkan, tiap tahun tren anak-anak mengalami gangguan hingga kecanduan bermain handphone terus  meningkat.

Kenapa anak-anak menjadi ketagihan bermain gadget hingga membuat mereka menjadi tidak waras? Sesuatu yang aneh dan tidak wajar ketika anak-anak kita menjadi tidak normal hanya karena gadget. Apa yang salah!  Dikutip CNN  dari situs New York Time, menyebut 70 persen orangtua mengaku memang mengizinkan anak-anak mereka yang usianya 6 bulan sampai 4 tahun bermain perangkat mobile ketika mereka sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Serta 65 persen melakukan hal yang sama untuk menenangkan si anak saat berada di tempat umum.

Nah, jelas data diatas menunjukan bahwa orangtua saat ini kurang mengawasi anak-anak mereka bermain gadget. Orangtua bahkan sengaja memberikan handphone untuk menenangkan anak mereka ketika mereka menangis. Orangtua yang menganggap bahwa memberikan gawai kepada anak adalah hal yang biasa agar mereka menggenal dengan teknologi. Jangan salah ketika anak Anda terus menangis meminta gadget untuk mereka bermain. Karena kita telah memanjakan mereka dengan smartphone.

Oleh karena itu, biarkan anak kita menangis ketimbang kita memberikan mereka handphone. Karena memang dampak dari pengaruh smartphone merugikan anak-anak itu sendiri.

 

Cara Lama Bermain Anak Mulai Hilang

Sadarkahkah kita, gadget telah membentuk kehidupan baru. Gadget telah banyak merubah tatanan kehidupan sejak 10 tahun belakangan ini.  Tak ayal, cara bermain anak-anak kita sekarang pun sudah berbeda dan berubah.

Anak-anak kita lebih senang bermain atau berkomunikasi dengan gadget ketimbang mereka bermain dengan teman-temanya. Mereka asyik dengan game yang ada di smartphone.  Gadget sudah menjadi teman baru bagi anak-anak. Inilah pola bermain anak-anak era industri 4.0.  

Saat ini kita bisa melihat sendiri bahkan mungkin pernah ada terjadi di lingkungan keluarga kita,  anak berusia 3 tahun saja sudah bisa mengoperasikan gadget. Mereka sudah dapat membuka Youtube atau bahkan bermain game  di smartphone. Namun sebagian orangtua kita bangga ketika anak-anaknya sudah bisa membuka dan menutup handphone di usia yang masih balita.

Bahkan sering menceritakan kepada oranglain bahwa anaknya pintar. Yah kecil-kecil sudah mengoperasikan gadget. Padahal, itu sangat membahayakan bagi kesehatan anak. Orangtua harus memahami bahwa memberikan gadget kepada anak masih balita itu sama sama member anak kita narkoba. Karena jika sudah kecanduan gadget mereka akan menjadi anak yang apatis bahkan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Asyik dan keenakan bermain handphone hingga anak kita kecanduan dan merekapun menderita gangguan jiwa.

Ketika merasa iba melihat anak-anaknya merengek (menangis) meminta handphone dari tangan orangtuanya. Mereka pun rela memberikan hanphone agar anak mereka tenang dan diam. Cara tersebut sebenarnya tidak memberikan nilai baik terhadap pertumbuhan akan anak.

Bagi generasi kelahiran tahun 60-an, 70-an, 80-an atau 90-an, tidak sama dengan mereka yang lahir di tahun 20-an. Awal tahun 2000, dikenal era melenium. Seluruh dunia kala itu menyambut dengan pesta yang meriah dengan kembang api.  Di era inilah, teknologi mulai berkembang pesat terutama smartphone dan gadget.

Penulis adalah generasi yang lahir pada tahun 80-an. Di masa itu, penulis masih bermain dengan cara-cara tradisional. Seperti Layangan, Congklak, gasing, kelereng, petak umpet, egrang, lompat tali, ular tangga, benteng, gobok sodor, yoyo, engklek (santak), lotar canting, bola gasti. Tidak ada handphone ketika itu.

Asik dan sangat menyenangkan ketika bermain pada zaman tersebut. Dan kita pun memang tidak bisa menyamakan zaman per-zaman. Setiap waktu ada masanya, setiap zaman ada orangnya. Teknologi akan terus berubah dan berkembang biak. Dan manusia akan tetap menjadi sasaran-sasaran dan pengguna dari perkembangan teknologi saat ini.

Pada saat itu atau era 80 dan 90-an, kartun yang paling populer adalah Power Rangers, Ultramen dan Doraemon. Untuk menonton kartun itu saja penulis kadang pergi ke rumah teman atau tetangga. Berbeda dengan anak-anak melenial. Kehidupan mereka jauh berubah dan berbeda. Dunia telah membentuk anak-anak kita dengan cara-cara baru.

Ya, Gadget atau smartphone diakui telah  membantu pekerjaan manusia saat ini. Gadget memudahkan kita untuk berkomunikasi, mencari informasi atau dijadikan teman ketika kita sedang sendirian. Itulah gadget.

Dunia gadget memudahkan kita untuk berselancar di dunia lain. Dunia alam maya. Karena didalamnya banyak sekali kemudahan dan aplikasi yang kita digunakan. Gadget sudah berubah dari alat komunikasi menjadi teman, dan bahkan menjadi guru dan sahabat. Sulit sekali hidup kita tanpa gadget saat ini.

Pengguna gadget pun sudah merambah ke berbagai usia. Penggunanya pun tidak lagi mengenal batas usia. Tidak ada jarak antara anak-anak dan dunia gadget saat ini.  Dunia gadget memang tidak bisa kita hindari dalam era globalisasi yang cepat.

Kita sudah banyak meninggalkan cara-cara lama setelah munculnya era gadget. Cara kita bebelanja pun sudah berubah. Hanya menggunakan aplikasi gadget kita sudah dapat membeli apa saja di dunia ini. Memesan taksi cukup menggunakan aplikasi di gadget. Bahkan anak-anak kita pun mulai banyak meninggalkan cara-cara lama bermain. Inilah dunia gadget. Namun, anak-anak perlu dibentengi dan diawasi dalam penggunaan gadget.

Ingat. Orangtua adalah benteng utama menangkal anak-anaknya kecanduan dengan gadget. Pendidikan pertama ada dari orangtua. Peran orangtua harus lebih maksimal dalam mengawasi anak mereka. Dan jangan pernah memanjakan anak kita dengan gadget.

Orangtua harus waspada, ketika anak Anda asik dengan gadget. Ketika mereka sudah lupa waktu, ketika mereka sulit untuk diajak bicara dan ketika mereka ketawa sendiri dengan gadget. Orangtua harus resah akan hal ini. Menjaga anak, berati kita telah menjaga generasi ini.

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan pencerahan kepada kita. Bahwa tidak selamanya dunia gadget itu baik untuk kita dan anak-anak kita. Semoga bermanfaat.

 

Opini Oleh: Ahmad Yani
Guru SMPN 2, Senayang, Kabupaten Lingga

 


Berita Terkait