Batam Ekspor Kelapa Olahan ke Malaysia, Kementan: Perkembangan yang Baik

Batam Ekspor Kelapa Olahan ke Malaysia, Kementan: Perkembangan yang Baik

Suasanan saat pelepasan ekspor kelapa olahan dari Batam ke Malaysia (Foto:ist)

Rhuuzi Wiranata

Batam - Eksportir kelapa di Kota Batam kini tak hanya mengirimkan kelapa bulat, namun sudah mulai mengekspor hasil olahan kelapa seperti daging kelapa, ampas wangi hingga kopra. Peningkatan itu pun diapresiasi Kementerian Pertanian (Kementan) RI lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan).

“Perkembangan yang baik, sekarang tidak hanya kelapa bulat, Batam bisa ekspor produk olaha kelapa, jika perlu sampai dengan produk jadi,” ujar Sekretaris Barantan, Arifin Tasrif saat melepas ekspor di Pelabuhan Sekupang, Batam (5/7/2019) kemarin.

Arifin mengingatkan, setiap eksportir dengan komoditas apapun, sebaiknya dilakukan pengolahan dulu, sehingga margin yang didapatkan bisa lebih besar dan bisa dibagikan ke petani.

Barantan kata dia akan terus mendorong ekspor berbagai komoditas pertanian lewat berbagai program, seperti program Agro Gemilang (Ayo Galakkan Ekspor, melalui Generasi Millenial Bangsa), In Line Inspection, inovasi i-MACE (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports) dan berbagai regulasi lainnya terkait ketentuan sanitary and phytosanitary (SPS) dari negara tujuan.

“Tujuannya adalah untuk memastikan keberterimaan produk kita di negara tujuan,” ucapnya saat melepas ekspor daging kelapa sebanyak 38,4 ton dengan nilai Rp280,96 juta ke Malaysia.

Lanjut dia, Kementan terus bersinergi dengan pemerintah daerah di Provinsi Kepri yang ada dalam zona perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) yakni Batam, Bintan dan Karimun. Menurutnya, dalam meningkatkan trend ekspor komoditas pertanian, Kementan punya 5 upaya strategis yang dilakukan lewat Barantan.

Pertama, dengan meningkatkan jumlah eksportir terutama di kalangan generasi millenial bangsa dengan program Agro Gemilang, yang kedua, dilakukan dengan meningkatkan diiversifikasi atau keberagaman komoditas/produk dengan minimal produk setengah jadi, hal tersebut dikoordinasikan dengan Badan Litbang Pertanian.

Strategi yang ketiga adalah dengan menambah atau ekspansi negara tujuan ekspor dengan melakukan harmonisasi aturan atau protokol karantina, dan yang keempat dilakukan dengan mendorong peningkatan jumlah atau volume ekspor komoditas pertanian dengan memberikan aplikasi i-MACE yang diharapkan dapat menjadi landasan kebijakan pembangunan pertanian di daerah.

Sedangkan yang terakhir adalah dengan melakukan terobosan dan inovasi layanan perkarantinaan guna mempercepat proses bisnis eksportasi komoditas pertanian.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Batam, Joni Anwar mengatakan, selain daging kelapa, ekspor kali ini juga dilakukan untuk produk kelapa lainnya yakni, ampas wangi dan kopra.

Ampas wangi (dried coconut residue) merupakan bahan sisa dari bungkil (batok) kelapa yang digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak, sedangkan kopra yakni daging buah kelapa yang sudah dikeringkan, biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak kelapa.

Menurut data yang ada dalam sistem otomasi Barantan (IQFAST), jumlah eksportasi daging kelapa basah pada tahun 2019 (Januari-Juni) sebanyak 8,97 ton atau senilai Rp2,66 M, sedangkan ampas wangi telah dikirim sebanyak 341,4 ton setara Rp1,27 M, sedangkan untuk ekspor kopra atau daging kelapa kering total volumenya sebanyak 92, 88 ton senilai Rp1,27 M.

Beberapa produk unggulan dari Batam diantaranya adalah cacao, minyak sawit dan turunannya, kelapa dan turunannya, madu dan sarang burung walet dengan negara tujuan diantaranya ke semua benua Asia, Eropa, Afrika, Amerika dan Australia.

Menurut Anwar, petugas karantina melakukan tindakan karantina sebelum produk tersebut diekspor, seperti pengawasan perlakuan fumigasi dan foging. “Ini sesuai dengan persyaratan negara tujuan, sehingga dipastikan tidak ada penolakan saat sampai disana,” katanya.

Ia menambahkan, memasuki semester pertama tahun 2019, nilai ekspor komoditi pertanian yang diekspor lewat Batam senilai Rp3,61 triliun dengan volume ekspor 229.057 juta kg dan 78.000 M2.

Wakil ketua komisi IV DPR RI, Daniel Johan, S.E., yang juga turut hadir dalam acara tersebut turut menyampaikan bahwa karantina diharapkan dapat menfasilitasi ekspor komoditi pertanian, karena hal tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa negara.

Ia mengapresiasi Kementan yang terus berkoordinasi dengan isntansi terkait dan negara mitra agar mendorong tumbuhnya ekspor berbagai produk pertanian dari Indonesia.

(ruz/rls)

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :