Setahun Isdianto Jabat Wakil Gubernur Kepulauan Riau

Isdianto: Nurdin Basirun Itu Sahabat Saya

Isdianto: Nurdin Basirun Itu Sahabat Saya

Isdianto (Foto: Batamnews)

Zuhri Muhammad

KEMARIN, 27 Maret 2019, tepat setahun masa kepemimpinan Isdianto sebagai Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri). Adik kandung HM Sani, mendiang Gubernur Kepri itu, telah pula merasakan pahit dan manisnya.

"Sebenarnya saya tak ingat," ujar Isdianto saat berbincang dengan sejumlah wartawan di ruang tamu Gedung Daerah di Tanjungpinang, Rabu (27/3/2019) siang. 

Banyak hal dibicarakannya. Mulai dari tugas sehari-hari sebagai Wakil Gubernur hingga persoalan-persoalan ringan.

Isdianto tampak cerah saat bertemu wartawan. Senyumnya mengembang. Mengenakan baju kemeja lengan panjang berwarna pink Isdianto mulai membuka pembicaraan.

"Hari ini tepat satu tahun masa jabatan saya,” kata Isdianto. Isdianto dilantik presiden Joko Widodo menjadi Wakil Gubernur Kepri, di Istana Negara, Jakarta Selatan pada 27 Maret 2018. Ia dilantik dengan pembacaan surat Keputusan Presiden Nomor 44 tahun 2018.

Ia mengungkapkan, belum banyak yang bisa ia lakukan selama menjabat. “Memang masih banyak yang belum saya lakukan,” kata pria kelahiran Tanjungbatu, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau itu.

Bahkan Isdianto merasa sedih tidak bisa melakukan lebih berarti dan melanjutkan apa yang sudah dilakukan abangnya. 

“Tetapi saya yakin meskipun tidak bisa dilanjutan 100 persen, setidaknya bisa 50 persen,” ujar dia. 

Isdianto menegaskan, cita-citanya menjadi orang nomor dua di Kepri semata-mata hanya untuk membantu masyarakat. Meskipun hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

Ia memahami, menjabat sebagai wagub merupakan jabatan politik, banyak masalah yang silih berganti. Namun, ia menanamkan dalam hati masalah yang datang tidak diinginkan oleh siapapun tetapi harus dilewati dan dijalani. 

“Yang pasti saya punya keinginan niat saya pure menajalankan diri saya buat masyarakat,” jelas Isdianto yang menghabiskan separuh hidupnya sebagai birokrat di Kepulauan Riau. 

Isdianto menceritakan bagaimana dinamika yang ia hadapi selama menjadi wakil Nurdin Basirun, mulai dari kewenangan hingga isu negatif yang menerpa dirinya. 

Isdianto menyadari, menjadi seorang wagub memiliki keterbatasan kewenangan. 

“Apa yang bisa saya lakukan kewenangan saya pure sebagai pengawasan,” katanya. Tetapi di lapangan ia tetap menerima keluhan dari masyarakat mulai soal masjid, jembatan, dermaga dan lainnya. 

Tentu saja tidak mudah baginya untuk mengkoordinasikan berbagai dinamika di lapangan ke bawahan terutama Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Setiap rapat saya sampaikan, termasuk juga mengingatkan hal-hal yang dirasa perlu,” katanya. 

Tidak hanya itu, beberapa isu tentang pencitraan juga menerpa Isdianto. Setiap tindakannya ke lapangan dianggap sebuah pencitraan, sebagai modal maju ke kursi gubernur kelak.

“Bahkan ketika menghadiri apel, saya disebut pencitraan, padahal saya hanya ingin memberi semangat dan arahan misalnya terkait bahaya narkoba dan lainnya,” kata alumni S1 Stisipol Raja Haji Tanjungpinang. 

“Bahkan ada yang beranggapan wagub sudah curi start, tidak,” beber Isdianto mencoba mengkalirifikasi. 

Sampai detik ini, lanjut Isdianto, porsi wagub jelas dalam bidang pengawasan, sedangkan yang lain kewenangan gubernur.

Isdianto menyadari posisinya saat ini. Ia pun patuh mengikuti perintah gubernur untuk menjalani ini semua. 

“Tetapi memang Pak Gub pernah ngomong jalankan saja. Keputusan Gubernur adalah keputusan wagub, jika keputusan itu populer bisa bersama tangung jawab. Tetapi kalau tidak populer?” ujar Isdianto. 

Isdianto terus bercerita, ia meluapkan semua isi hatinya. Terkadang Isdianto merasa malu karena tidak bisa berbuat apa-apa. 

Meskipun dalam apel ia selalu menyampaikan himbauan kepada OPD tetapi hal itu tidak berarti banyak. “Itu tidak membawa arti yang cukup dalam,” katanya.

 

Nasihat ke OPD

Salah satu contoh kejadian bauksit kata Isdianto. Meskipun memiliki tupoksi sebagai pengawasan ia merasa tidak bermanfaat. "Saya sebagai pengawasan tetapi wagub tidak ada kemampuan percuma,” kata dia.

Ia juga menceritakan, ketika sidak ke bauksit, bauksit dengan gamblang tetap beroperasi meskipun sudah di pasang segel.

Bahkan lanjut Isdianto, sebelum kasus tersebut berujung kepada pencopotan dua Kepala Dinas dia sudah mengingatkan. “Saya tiga bulan atau empat bulan lalu. Sudah ingatkan kadis SDM dan PTSP agar hati-hati,” katanya. 

Ia bahkan sudah meminta, kedua pejabat itu mempelajari kelemahan perizinan dan melengkapinya. “Saya sudah ngomong. Harus pro aktif. Karena sudah saya sampaikan, tetapi inilah kenyataanya,” kata Isdianto.

Isdianto melihat kasus bauksit ini merupakan sudah permainan pengusaha. Bagaiman mereka menyelesaikan semua izin dengan cepat. Dalam kondisi itu pejabat daerah harus lebih berhati-hati dan selektif. 

“Jadi kalau pejabat  teguh pendirian bisa menghadapi itu, coba yang masih labil,” katanya. 

Menurut Isdianto beberapa kesalahan yang terjadi belakangan ini terdapat di personal pejabat. Mulai dari proses asessment ataupun pengangkatan menurutnya sudah berjalan semestinya. 

“Ini semua kembali kepada yang dilantik pejabanya, harus bekerja sunguh-sunguh,” kata Isdianto.

Isdianto juga menyingung terkait kepentingan partai dalam jabatan kepala daerah. Menurutnya meskipun menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PDI Perjuangan ia  dalam melaksanakan tugas tidak pernah mengabaikan pejabat lain meskipun berbeda partai.

Isdianto juga menapik, berlatarkan birokrat tidak membuatnya takut menjabat jabatan politik. Ia mengaku sudah sejak lama memahami politik, termasuk ketika ikut andil mengantar almarhum Muhammad Sani sebagai gubernur. 

Isdianto bercerita, bahwa jabatan sebagai Wagub ia ambil setulus hati untuk membangun Kepri. Meskipun awalnya tidak ada yang yakin ia bisa menjadi wagub. 

“Tetapi saya yakin, akhirnya kun fa yakun jadilah saya seperti ini, yang sempat diragukan orang,” katanya.

Beredarnya isu keinganan Isdianto menjadi gubernur juga dibantah Isdianto. Putra dari Karimun itu mengatakan, dalam berpolitik tentu dirinya mengukur kemampuan diri sendiri.

“Yang namanya politik kepentingan, tentu kita mengukur diri sendiri, kalau mau ke Eropa ke Jerman mampukah kita,” ujarnya menganalogikan. 

Isdianto juga bercerita peluangnya kedepan dalam misi politiknya, termasuk soal kemungkinan dirinya mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Kepri.

"Kita serahkan kepada Allah," ujar Isdianto. Isdianto tampak masih enggan mengungkapkan secara terbuka mengenai peluang-peluang tersebut setelah dirinya mundur sebagai birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepri.

“Saya hanya mau Kepri semakin hari semakin lebih baik. kekompakan antara satu yang lain harus dibangun,” katanya.

Di akhir perbincangan Isdianto menapik hubungannya bersama Nurdin Basirun yang sempat diisukan berseberangan. Ia menegaskan, hubungannya cukup baik dan dekat dengan Nurdin. “Kami selalu berbincang,” katanya. 

Ketika ditanya mengenai sosok Nurdin Basirun, Isdianto meminta wartawan mengulangi pertanyaan, sejurus kemudian langsung menjawab. “Sahabat saya,” katanya menutup perbincangan siang itu.

 

Laporan: YOGI EKA SAHPUTRA

 

 

 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :