FSPMI Batam Soroti Pemagangan dan Revolusi Industri 4.0

FSPMI Batam Soroti Pemagangan dan Revolusi Industri 4.0

Perwakilan FSPMI Batam menyerahkan tuntutan kepada Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Yusfa Hendri

Batam - Usai menggelar aksi damai dalam rangka merayakan hari ulang tahun Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) ke-20 di depan kantor Wali Kota Batam, beberapa perwakilan dari buruh diterima oleh pemerintah. 

Para buruh tersebut diterima oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Yusfa Hendri dan Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan buruh memberikan petisi yang berisi beberapa isu yang menyangkut perburuhan. Seperti menyangkut penolakan PP 78/2015, upah murah, meminta untuk diturunkan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan pokok. 

Selain itu meminta Pemerintah Kota Batam agar tidak menerapkan program pemagangan untuk siswa SMK di perusahaan. Karena hal itu ditakutkan akan menggantikan para pekerja. 

“Di Karawang sudah diterapkan, anak-anak-anak SMK magang selama dua tahun, dan diberikan upah kecil, sehingga mereka menggantikan para pekerja kontrak yang seharusnya,” ujar Konsulat FSPMI cabang Batam, Rabu (6/2/2019). 

Kemudian terkait kinerja BPJS Kesehatan yang masih semrawut, masih banyak ditemukan kekurangan dan masih dinilai bermasalah. 

“Kami minta peran pemerintah disini, supaya tidak terjadi kasus yang demikian,” kata dia. 

Pihaknya juga menyampaikan kekhawatiran terkait revolusi 4.0, karena cepat atau lambat setelah teknologi ini diterapkan akan mengurangi peran dari manusia. 

Para pekerja yang non-skill nanti akan digantikan oleh robot, dan lapangan pekerjaan yang dibuka hanya untuk teknisi. 

“Kami menyayangkan pemerintah yang tidak mempersiapkan terlebih dahulu, para pekerja seharusnya diberikan pelatihan untuk dapat mengimbangi revolusi tersebut,” sebutnya. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Disnaker Kota Batam Rudi Sakyakirti mengatakan bahwa Kota Batam belum menerapkan pemagang dari siswa SMK. 

“Tahun lalu mau diterapkan, tapi terkendala karena direkturnya mengundurkan diri, sehingga tidak jadi diterapkan,” ujar Rudi. 

Lalu mengenai revolusi industri 4.0, ia mengakui pihaknya masih meraba-raba seperti apa pelatihan yang dibutuhkan sesuai dengan revolusi tersebut. 

“Nanti kami coba  pelatihan yang cocok, sementara ini di Batam masih belum ada yang mengaplikasikan revolusi industri 4.0,” jelasnya. 

(ret)
 


Berita Terkait