Harga Tiket Pesawat dan Bawang Merah Sumbang Inflasi Kepri

Ilustrasi.

Batam - Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) pada Desember 2018 mengalami inflasi sebesar 1,15 % (mtm). Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,43 % (mtm), serta lebih tinggi dibandingkan IHK nasional yang terakhir yaitu inflasi 0,65 % (mtm). 

Inflasi Kepri pada Desember 2018 tercatat lebih tinggi. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan Desember 2018, inflasi Kepri telah mencapai 3,47 % (ytd). Kondisi itu dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok bahan makanan. 

Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok transportasi adalah komoditas angkutan udara yang tercatat mengalami inflasi. 

Peningkatan tarif angkutan udara yang terjadi baik di Kota Batam maupun Kota Tanjungpinang didorong oleh tingginya permintaan tiket angkutan udara menjelang hari raya natal dan tahun baru serta masa libur sekolah. 

"Sementara itu, inflasi pada kelompok bahan makanan utamanya didorong oleh kenaikan harga komoditas bawang merah dan bayam," ujat Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Sabtu (5/1/2018). 

Kenaikan harga komoditas bawang merah disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari wilayah sentra penghasil seiring dengan curah hujan yang cukup tinggi. 

Berdasarkan hasil pantauan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (IHPS), rata-rata harga bawang merah dari Jawa Tengah (sebagai salah satu daerah pemasok uatama bawang merah ke Kepri) sepanjang Desember 2018 meningkat sebesar 12,07 % (mtm) dibandingkan dengan rata-rata harga bulan sebelumnya. 

"Sementara itu, kenaikan harga bayam melanjutkan tren kenaikan sejak bulan lalu sebagai dampak dari musim hujan dengan intensitas yang tinggi sehingga mengakibatkan kegagalan panen dan keterbatasan pasokan," jelas Gusti. 

Secara tahunan, inflasi Kepri 2018 dipicu oleh peningkatan harga pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keungan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. 

"Inflasi pada kelompok bahan makana disumbangkan oleh meningkatnya harga beras, sedangkan elompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan makan tercatat didorong oleh peningkatan tarif listrik," katanya. 

Kemudian berdasarkan komoditasnya, sembangan terbesar inflasi Kepri 2018 didorong oleh peningkatan harga komoditas tarif angkutan udara, tarif listrik, beras.

Komoditas tarif angkutan udara tercatat mengalami inflasi sebesar 15,34 % (yoy) dengan andil 0,62 % (yoy), dipicu oleh faktor musiman tingginya permintaan tiket seperti menjelang hari raya ataupun libur sekolah. 

Sementara itu, tarif listrik tercatat mengalami inflasi sebesar 6,49 % (yoy) dengan andil 0,29 % (yoy). Inflasi tarif listrik ini merupakan dampak kenaikan tarif listrik pada tahun 2017 sesuai dengan Peraturan Gubernur Kepri no 21 tahun 2017 tentang tarif tenaga listrik yang disediakan oleh PT PLN Batam. 

"Lalu pada komoditas beras mencatatkan inflasi sebesar 7,67 % (yoy) dengan andil 0,27 % (yoy) dimana kenaikan harga pada komoditas ini bersumber dari peningkatan harga pada sentra pemasok beras ke Kepri (DKI Jakarta dan Sumatera Selatan) serta terbatasnya dari sentra pemasok sehingga harga jual beras Kepri menjadi tinggi," kata Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri tersebut. 

(ret)